Ratih dkk, Penemu Nano Shark Kao Obat Bronkitis Kronis

Selasa, 10 Juli 2018 | 12:40 WIB
Share Tweet Share

Ratih Lestari

[JAKARTA] Mahasiswa UII Ratih Lestari dan Kawan-kawan berhasil mengolah limbah kulit kako menjadi obat herbal yang bisa digunakan sebagai obat brokitis kronis.

Ratih menjelaskan mengapa memilih limbah kulit kakao yang diolah mejadi obat karena penggunaan bahan herbal disini sangat cocok digunakan di Indonesia, selain bahan baku yang melimpah kelebihan lain dari bahan herbal ini adalah sangat aman digunakan oleh manusia serta ramah lingkungan. Namun siapa sangka jika nano herbal dapat diciptakan dari kulit kakao yang dikenal masyarakat sebagai salah satu limbah berbahaya.

Hasil penelitian sekelompok mahasiswa UII yang berhasil menciptakan Nano Shark Kao (Nano SprayInhaler dari limbah kulit kakao) sebagai obat bronkitis kronis.

Oleh tim tersebut, limbah kulit kakao dimodifikasi dengan menggunakan metode SNEEDS sehingga menjadi salah satu obat mutakhir untuk mengobati penyakit bronkitis kronik.

Cara pemakaian obatnya pun sangatlah mudah dan efisien yaitu dengan cara inhaler. Penelitian yang telah digarap olehtim UII ini berhasil menemukan inovasi terbarukan di dunia medis berbahan dasar limbah kulit kakao berbentuk nanospray.

Salah seorang penggagas ide tersebut, Ratih Lestari mahasiswa Kimia UII angkatan 2015 mengatakan temuan tersebut memakan waktu tiga bulan. Melibatkan mahasiswa dari jurusan yang sama, yakni Aditya Sewanggara angkatan 2015 dan Kartika Puspitasari dari Farmasi angkatan 2016.

“Kami berangkat dari keprihatinan tentang tingginya kematian akibat rokok di berbagai belahan dunia terutama Indonesia dan permasalahan lingkungan dalam hal ini kami mengangkat limbah kulit kakao yang hingga saat ini masih menjadi sebuah musuh utama bagi lingkungan karena pengolahan limbah tersebut yang masih belum optimal, terutama di daerah- daerah penghasil coklat seperti di DIY ini” terang Ratih.

Aditya menyebutkan inovasi dalam pembuatan nano herbal dari limbah kulit kakao ini berupa kombinasi dari metode SNEEDS dengan metode sprayinhaler. Adanya pembuatan nano herbal dari limbah kulit kakao ini diharapkan dapat menurunkan resiko kematian akibat rokok di Indonesia yang renewable serta ramah lingkungan.

Aditya melanjutkan bahwa Keunggulan dari Nano Shark Kao ini selain ramah lingkungan dibandingkan yang lainnya, dan renewable. Bahan yang digunakan untuk pembuatan Nano Shark Kao sendiri berasal dari dalam negeri sehingga lebih murah, serta proses pembuatannya yang sangat mudah dan cepat hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam

"Diharapkan dengan adanya Nano Shark Kao, angka kematian akibat rokok dapat ditekan, selain itu Nano Shark Kao dapat menjadi salah satu solusi terhadap permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh limbah kulit kakao" kata Aditya.

Penelitian ini masih dalam tahap pengembangan, sehingga diharapkan kedepannya Nano Shark Kao memiliki kualitas yang lebih baik dan stabil, serta siap untuk dipasarkan.

Editor: Aurelia A.


Berita Terkait

Komentar