Pesan Alam Buat Gubernur Baru DKI Jakarta

Jumat, 20 Oktober 2017 | 07:26 WIB
Share Tweet Share

Saat masa Kampanye, Anies Baswedan Menerobos banjir di Kelurahan Cipinang Melayu, Jakarta Timur, 20 Februari 2017. 

Dalam tajuk edisi 15 Oktober lalu media ini sudah mengingatkan gubernur baru DKI akan tantangan sekaligus pekerjaan rumah pertama yang harus dihadapi. Pekerjaan itu tidak lain adalah terobisan menghadapi banjir. Sebab Anies dilantik di awal musim penghujan.

Kemarin tugas itu mulai memanggil gubernur dan wakil gubernur DKI yang baru dilantik, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Hujan deras yang melanda ibu kota mengakibatkan banjir dan genangan air di beberapa titik, antara lain Kemang dan TB Simatupang. Banjir dan genangan air diperkirakan akan bertambah jika melihat kondisi cuaca beberapa hari ini.

Sebagai pemimpin DKI yang baru Anies dan Sandi harus sudah punya langkah strategis menghadapi kemungkinan Jakarta terendam banjir. Inilah yang sekarang ditunggu warga DKI. Warga menunggu tindakan nyata dan bukan retorika. Mereka akan melupakan kontroversi dan polemik tentang pidato politik Anies di hari pelabtikannya. Karena banjir toh tidak pandang bulu; pribumi atau bukan, ia bakal merepotkan penghuni DKI. Terutama warga yang tinggal di daerah langganan banjir.

Ujian pertama ini sangat vital. Kenapa? Karena banjir adalah problematika alam. Tidak ada politisasi dan rekayasa di sana, karena kekuasaan alam tidak mengenal manuver dan lobi-lobi. Ia akan menunjukkan kekuatannya secara diktator tanpa proses demokrasi yang bertele-tele. Oleh karena itu, jika Anies dan Sandi berhasil mengatasi problematika alam ini, maka reputasi mereka akan melejit setinggi langit Jakarta. Kemampuan dan kecakapan orisinil yang mereka miliki akan terbukti.

Sudah bertahun-tahun banjir menjadi masalah reguler di Jakarta. Berbagai upaya sudah dilakukan para gubernur. Namun banjir tak kunjung sirna dari ibu kota. Warga sempat menaruh harapan positif pada upaya strategis gubernur Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Normalisasi kali, menyediakan pompa air di titik-titik rawan genangan air, menertibkan warga yang membangun pemukiman di bantaran sungai, adalah upaya-upaya Ahok mengatasi banjir di ibu kota.

Kerja keras Ahok berbuah hasil. Selama masa kepemimpinannya Jakarta sedikit banyak terhindar dari persoalan banjir. Bahkan pada saat wilayah lain seperti Jawa Barat menderita akibat banjir, Jakarta tampak tenang meski tetap waspada. Waspada karena banjir di jakarta bukan hanya diakibatkan oleh persoalan internal di Jakarta. Sebaliknya, banjir di Jakarta adalah sumbangan dari wilayah tetangga. Dan ini pula yang membuat banjir di Jakarta cukup sulit diatasi.

Kini warga DKI menunggu realisasi janji sang gubernur baru dalam hal mengatasi banjir. Sudah terlalu lama warga di ibu kota ini menanggung penderitaan karena banjir yang datang mengiringi musim penghujan. Di tangan gubernur baru mereka ingin sesekali hidup tenang dan bahagia di musim penghujan, sesuai visi Anies-Sandi menjadikan Jakarta sebagai kota yang maju dengan warga yang bahagia.

Maka hujan, dan mungkin banjir yang akan menyertainya adalah sebuah pesan alam untuk siapa pun yang duduk di Balai Kota sebagai gubernur DKI, dia harus lebih banyak bekerja, kurangi bicara dan melempar wacana. Pesta penyambutan sudah usai, mari menunggu balasan Anies-Sandi atas pesan alam di musim penghujan ini.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar