Pemimpin Kontekstual

Kamis, 19 Oktober 2017 | 07:14 WIB
Share Tweet Share

"Kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Hanya sedikit yang benar-benar kontekstual tanpa menjadi ahistoris"

Banyak teori tentang arti, pengertian, konsep dan kriteria seorang pemimpin. Biarlah semuanya menjejali isi kepala kita. Tapi satu hal ini yang hendaknya perlu diingat, yakni seorang pemimpin itu senantiasa kontekstual; bahwasanya setiap orang punya zona waktunya sendiri, menjawab tuntutan roh zaman,  yang membuat segalanya indah pada waktunya. Itulah mengapa setiap zaman melahirkan pemimpinnya sendiri.

Karena pemimpin itu sejatinya kontekstual, maka ia mesti merepresentasikan kondisi hic et nunc dari kaum yang dipimpinnya. Tidak hanya merepresentasikan keadaan, seorang pemimpin yang kontekstual juga mesti pandai memberikan solusi atas persoalan-persoalan konkret dan real  yang dihadapi orang-orang yang dia pimpin.

Dengan iitu seorang pemimpin bisa menggambarkan cita-cita dengan bahasa yang menggetarkan dan mampu memotivasi warga yang dipimpinnya untuk berjalan bersama ke arah cita-cita yang ia rumuskan itu. Di sini ada dua elemen penting yang harus dimiliki seorang pemimpin dengan kualitas di atas rata-rata.

Pertama, elemen verbal, kemampuan berbahasa. Bahasa menurut Aristoteles adalah sarana sosial yang dapat mempersatukan manusia. Dengan bahasa manusia akan terhubung dengan manusia lain, sehingga terciptalah sebuah komunitas.

Seorang pemimpin haruslah memiliki kemampuan berbahasa dalam konteks ini, dalam artian bahasa sebagai perekat warga yang dipimpinnya. Karena itu, seorang pemimpin mesti mempertimbangkan dengan sangat hati-hati setiap kata yang akan diucapkannya di ruang publik. Karena jika tidak, kata-katanya akan menjadi bunyi terompet perang yang memecah belah persatuan dan kesatuan warga.

Kedua, elemen aksi, mewujudkan pernyataan (bahasa) menjadi sebuah karya demi mencapai kesejahteraan bersama, bonum communae. Di sini pemimpin dituntut menjadi seorang abdi, pelayan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Sebagai abdi, ia harus bekerja sampai batas kemampuan tertinggi yang ia miliki. Hasil karya seorang pemimpin akan menentukan apakah ia pantas disebut sebagai pemimpin atau tidak. Karena di dalam karya-karyanya itulah seorang pemimpin membuktikan konsistensi kata dan perbuatan, janji dan bukti nyata.

Terkadang dan bahkan menjadi hal mutlak bahwa karya nyata (aksi) memiliki gradasi yang lebih tinggi ketimbang janji (verbal). Sebab pada akhirnya jejak seorang pemimpin terbaca dari karya, bukan retorika. Itu pula sebabnya, julukan pemimpin selalu diberikan pada saat sang pemimpin purna tugas; pada saat ia sudah membuktikan janjinya dengan hasil karya yang dinikmati seluruh elemen masyarakat.

Karya seorang pemimpin akan dikenang apabila mampu menjawabi tuntutan zaman. Itulah makna kontekstualisasi seorang pemimpin. Tapi aspek kontekstualisasi tidak lantas membuatnya menjadi sosok yang ahistoris. Sebaliknya, ia mesti paham sejarah karena warga yang dia pimpin lahir, tumbuh dan berkembang oleh, dan dalam sebuah sejarah yang panjang. Pemimpin kontekstual yang ahistoris cenderung egois, arogan, dan bahkan berpeluang menjadi diktator.

Kita sudah memiliki begitu banyak pemimpin. Tapi fakta membuktikan kalau kita sedang mengalami krisis kepemimpinan. Hanya sedikit yang benar-benar kontekstual tanpa menjadi ahistoris. Lihat bagaimana perang DPR dengan KPK; cermati isi pidato Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengarkan khotbah dan ceramah para ulama. Adakah di dalam diri mereka kita menemukan sosok pemimpin yang kita harapkan?

Negeri ini sedang gelisah. Gelisah karena tatanan sosial kita tercabik oleh nafsu untuk meraih kekuasaan, dan bukan untuk menjadi pemimpin yang amanah. Penguasa tidak serta merta menjadi seorang pemimpin dalam pemahaman yang sesungguhnya. Karena penguasa dan kekuasaan cenderung korup dan menyimpang. Sedangkan pemimpin sejatinya amanah, karena tanpa kursi kekuasaan pun, seseorang bisa menjadi seorang pemimpin. (Vinct Br) 

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Tajuk

Etika Pemimpin Politik

Kamis, 03 Agustus 2017
Tajuk

Quo Vadis Yudhoyono Institute?

Jumat, 11 Agustus 2017

Komentar