Eggi Sudjana Bagian dari Fenomena Besar

Rabu, 11 Oktober 2017 | 07:02 WIB
Share Tweet Share

Eggi Sudjana, advokat

Mayoritas bangsa ini sedang bingung. Bingung menentukan garis batas antara yang santun dari yang tidak santun, bingung membedakan mana yang benar mana yang salah, bingung membedakan antara yang terdidik dari yang tidak terdidik.

Di negeri ini, dan mungkin hanya di negeri ini,  segala sesuatu sedang bergerak ke arah yang absurd. Nilai-nilai tidak lagi diukur dalam kapasitasnya yang orisinil. Sebaliknya, nilai-nilai itu diukur dalam kapasitas subyektif, tergantung kepada siapa yang mengukurnya.
Yang benar bisa salah dan sebaliknya, yang salah bisa benar; yang santun dicap cupu, yang kurang ajar dianggap pahlawan.

Dalam situasi seperti inilah media hoax semacam Saracen menemukan tempatnya. Bisnis dusta Saracen laris manis dan bahkan mampu menarik minat para politisi. Dalam dunia absurd seperti ini juga bermunculan oknum-oknum pengklaim kebenaran. Mereka merasa berhak mengkalim diri sebagai yang benar dan menistakan yang lain sebagai yang salah.

Mungkin dalam konteks inilah kita menempatkan sosok Eggi Sudjana. Artinya, Eggi bukan lagi seorang pribadi yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari sebuah fenomena besar, fenomena absurditas nilai.

Beberapa waktu lalu, Eggi mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan kemuakan pada sebagian (besar) masyarakat Indonesia. Eggi bicara tentang konsep ketuhanan dengan mengklaim konsep ketuhanan Kristen, Hindu dan Budha sebagai konsep yang tidak selaras dengan Pancasila. Tidak perlu dibedah panjang lebar kebenaran dari pernyataan Eggi ini. Sejarah bangsa ini sudah menjawabnya jauh sebelum pria yang berprofesi sebagai pengacara ini bicara.

Berbagai pihak, termasuk yang sekeyakinan dengan Eggi mengeritik keras pernyataan itu. Tapi tidak sedikit pun tampak rasa bersalah dalam diri seorang Eggi Sudjana. Sebaliknya, semakin dikritik Eggi semakin merasa dirinya benar dan siap melaporkan semua pihak yang telah menyeretnya ke jalur hukum.

Di sinilah perang yang sesungguhnya antara benar dan salah. Tapi perlu dicatat, bahwa kebenaran bukan semata-mata persoalan isi kepala. Lebih dari itu, kebenaran juga adalah bagian dari persoalan moral.

Kepala bisa menghasilkan argumentasi yang solid demi menjustifikasi rangkaian tutur kata dan perbuatan. Tetapi moral memberi bobot pada setiap argumentasi dengan kejujuran dan kepatutan. Tanpa bobot moral, kebenaran akan  menjadi sesuatu yang mekanistik, dan dangkal.

Eggi Sudjana adalah sebuah fenomena yang merepresntasi situasi riil di negeri ini. Masih banyak eggi-eggi lain, yang egois mengklaim dirinya sebagai kebenaran dan menistakan orang lain sebagai kesalahan. Fenomena dimana orang terdidik kehilangan standar kepatutan dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Fenomena tentang pergeseran nilai segala sesuatu dalam segala aspek.

Dan, lokomotif utamanya adalah POLITIK.

Penulis: Vincent Br. 

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Tajuk

Etika Pemimpin Politik

Kamis, 03 Agustus 2017
Tajuk

Politik Putar Haluan

Rabu, 09 Agustus 2017

Komentar