Mantap! Cara Jokowi Buyarkan Isu Kebangkitan PKI

Sabtu, 30 September 2017 | 14:38 WIB
Share Tweet Share

Fadli Zon membawa bunga ke makam Karl Marx (foto: istimewa)

Lagi-lagi Jokowi layak diberikan predikat summa cumlaude dalam menghadapi isu miring tentang dirinya. Mulai dari isu melindungi Ahok, antek kapitalis, dan yang paling mutakhir isu melindungi dan menyuburkan bani bani PKI.

Yang sangat menarik adalah caranya membuyarkan isu-isu tersebut. Ia sangat tenang dan tidak reaktif. Dia membiarkan semuanya berkecamuk di ruang publik sambil mengamati, dan tentu saja mengintai pelaku-pelaku yang meniupkan isu-isu tersebut.

Ruang publik dibuka sangat luas dengan bantuan media, NGO, dan para penghuni dunia maya. Ada yang pro ada pula yang kontra. Semua muncul dengan motif masing-masing. Ada yang mencari jati diri agar eksis, ada yang terlihat dengan motif sakit hati, ad pula yang tampil demi mengumpulkan fans untuk  dijadikan lumbung ekonomi.

Sekilas terkesan ada perang badar, semua melawan semua. Para politisi oportunis kemudian tampil dan menuding pemerintahan Jokowi sebagai pemerintahan yang lemah, negara absen dan membiarkan rakyat berkelahi sendiri. Merasa di atas angin, kelompok anti Jokowi pun kebablasan bicara dan bertindak.

Lawan-lawan Jokowi lengah dan menganggapnya terpojok tak berkutik. Mereka tidak paham kalau Jokowi tidak peenah diam. Diamnya Jokowi adalah diam yang aktif. Hanya orang-orang meditatif dan tercerahkan yang paham posisi pak'de. Dalam diam dia mengamati dan mengintai.

Tugas pengintaian sebagian diserahkan kepada badan intelijen, sebagian lagi diserahkan kepada publik yang secara sukarela melindungi dan menjaganya. Maka muncullah foto Fadli Zon membawa bunga ke makam idolanya, Karl Marx, dedengkot komunis, ideologi yang dialamatkan ke Jokowi. Jonru yang haus eksis muncul dengan gagah di televisi dan menelanjangi hati dan pikirannya sendiri. Bambang Tri yang nekad mengklaim Jokowi turunan PKI diberi kamar di penjara.

Satu per satu peniup isu Jokowi melindungi PKI dipreteli. Dan kemudian tampil SMRC dengan hasil survei yang bikin para lawan Jokowi menggigit kerah baju. Hasil survey lembaga itu memperlihatkan bahwa isu PKI sama sekali tidak berdampak buruk bagi Jokowi dan pemerintahannya.

Yang lebih sadis adalah, dari survey SMRC publik mengetahui dan paham di mana sebenarnya sarang isu miring ini. Sebagian besar responden yang mempercayai kebangkitan PKI  memiliki afiliasi politik dengan PKS dan Gerindra. Dua partai ini memang rival maut Jokowi. Artinya apa? Isu Jokowi melindungi PKI adalah isu politis, isu yang diada-adakan untuk menggoyang Jokowi.

Dengan data SMRC Jokowi langsung membuyarkan agenda dan misi aksi para alumni aksi Wiro Sableng 212. Mereka ke DPR dengan agenda pemerintahan berkawan dengan PKI. Yang menerima mereka adalah perwakilan PKS dan Gerindra sertai partai koalisi abu-abu, PAN.

Di tangan Fadli Zon (Gerindra) dan Jajuli (PKS) isu ini akan digoreng di Senayan. Tapi terlambat, karena isu PKI sudah terlalu garing dan tidak bisa digoreng lagi. Kalaupun terus dibahas, publik akan menilai pembahasan itu hanya upaya memenuhi syahwat kekuasaan dari lawan politik Jokowi.

Mau mainkan isu Perppu Ormas? Boleh-boleh saja. Tapi mending pikir dulu 1000 kali. Soal perppu ormas, Jokowi sudah membuka pertahanan dengan membiarkan siapa saja berproses di jalur hukum. Jadi, jangan main teriak-teriak di jalanan. Ga ada gunanya! Jangan juga menaruhnya di bahu Fadli Zon atau Jajuli, mereka bisa saja menyulapnya menjadi komoditas politik.

Terus enaknya diapain? Ya kalau punya bukti dan argumentasi yang kuat, silahkan ke jalur hukum. Kalau tidak, ya diam dan menerima perppu dengan istighfar  dan lapang dada. Kalau sudah istighfar, yuk nonton bareng film G30S/PKI bersama Mr. Jokowi. Biar pikiran relaks dan otot-otot lentur. Bagaimana?

Penulis: Vinct Br.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar