Quo Vadis Yudhoyono Institute?

Jumat, 11 Agustus 2017 | 08:30 WIB
Share Tweet Share

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama istri, Ani Yudhoyono dalam acara launching The Yudhoyono Institute di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (10/7/2017) [Foto:KOMPAS.com/Nabilla Tashandra]

Kamis (09/08) Cikeas menelorkan sebuah lembaga strategis. Tidak tanggung-tanggung nama lembaga baru itu diambil dari nama keluarga, Yudhoyono Institute. Kehadiran lembaga ini diketahui secara luas setelah Agus Harimurti Yudhoyono menyambangi istana RI-1 untuk mengundang Presiden Jokowi menghadiri acara peresmian lembaga bentukan Cikeas itu pada malam harinya. Agus juga menemui Jokowi untuk meminta restu memimpin Yudhoyono Institute.

Menarik memaknai pertemuan putra sulung SBY dengan Jokowi ini. Soal itu silahkan dibaca di rubrik kolumnis indonesiakoran.com . Di sini kita akan menelaah kehadiran Yudhoyono Institute yang malam tadi diresmikan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, ke mana lembaga ini akan bergerak atau digerakkan? Quo Vadis Yudhoyono Institute? 

Seperti diungkap AHY, lembaga ini akan menjadi semacam think tank dalam menyikapi isu-isu strategis nasional, regional dan internasional. Yudhoyono Institute juga bercita-cita menjadi persemaian benih-benih pemimpin nasional. Sebuah gagasan yang sangat visioner.

Yang pasti kehadiran Yudhoyono Institute akan menambah barisan lembaga-lembaga pemikir strategis di negeri ini. Kita tahu ada Maarif Institute yang konsisten menghidupkan nilai-nilai positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, ada Wahid Institute yang kurang lebih punya concern yang sama dengan Maarif Institute.

Nama-nama lembaga ini juga diambil dari figur yang menginpirasi kelahirannya. Wahid Institute punya Gus Dur yang ketokohannya sudah tak diragukan lagi. Syafiii Maarif punya Buya Syafii yang dikenal sebagai tokoh islam moderat. Lalu bagaimana dengan Yudhoyono Institute? Dari namanya lembaga ini bisa dipastikan sulit lepas dari sosok Soesilo Bambang Yudhoyono.

Tak bisa dipungkiri, sebagai presiden yang pernah memerintah dua periode, SBY punya andil bagi bangsa dan negara. Tapi resonansi kesuksesan SBY rasa-rasanya kalah gaung dari berbagai kontroversi, polemik dan persoalan selama ia memimpin Indonesia. Kasus korupsi yang marak, pembangunan mangkrak, kasus Antasari Azhar, Bank Century, dan masih banyak lagi. Jadi, nama besar Yudhoyono tidak serta merta jadi jaminan mutu bagi Yudhoyono Institute. Semua persoalan tadi akan terus menjadi catatan kaki dalam gerakan Yudhoyono Institute.

Kembali ke pertanyaan esensial tadi, quo vadis Yudhoyono Institute? Mampukah lembaga ini menyuguhkan informasi dan pemikiran strategis yang jernih minus kepentingan politik? Mungkin-mungkin saja, meski sulit mengharapkan kejernihan berpikir dari lembaga yang didirikan di atas sebuah dinasti politik. Jangan-jangan lembaga hanya akan menjadi instrumen strategis mematangkan karier politik Agus menuju kursi RI-1 sekaligus melanggengkan eksistensi dinasti Cikeas di ranah sosio-politik nasional. SELAMAT DATANG YUDHOYONO ISNTITUTE.

Penulis: Vins Br. 

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar