Ahok "Effect": Di DKI Lawan, Di Daerah Bisa Berkawan

Kamis, 10 Agustus 2017 | 04:48 WIB
Share Tweet Share

Ahok dan Maia Estianty, salah satu momen saat dinner bareng pada suatu hari menjelang Pilgub DKI 2017.

Kurang lebih tiga bulan sudah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok menjalani hukuman sebagai terpidana penistaan agama. Tapi Ahok tidak pernah "mati". Jujur saja, Ahok selalu menjadi rujukan dan nilai pembanding dalam setiap upaya pembangunan di DKI dan berpengaruh pula ke daerah lain. Apalagi mantan bupati Belitung Timur itu meninggalkan sejumlah karya monumental semisal simpang susun Semanggi. Jadilah Ahok sebagai sosok yang paling dibenci sekaligus pribadi yang sangat dicintai dan dikagumi.

Terlepas dari kasus yang mengirimnya ke balik jeruji besi, Ahok adalah sosok pemimpin yang diimpikan sebagian besar masyarakat di negeri ini. Ketegasan, dan terutama keberaniannya melawan mental korup para birokrat, adalah magnet yang kuat dalam diri Ahok.

Dari sinilah tercipta Ahok effect. Ia menjelma sebuah simbol nilai yang harus diperjuangkan dalam tatanan sosial-politik. Masyarakat dari berbagai daerah menginginkan sosok gubernur atau bupati seperti Ahok. Standar yang dipakai Ahok selama memimpin Jakarta dipakai untuk menilai pemimpin daerah lain.

Di satu sisi Ahok effect tentu saja membawa pengaruh positif. Masyarakat semakin paham akan pentingnya figur pemimpin yang kredibel dan berintegritas. Di sisi lain, Ahok Effect melahirkan sentimen negatif terhadap kelompok tertentu.

Yang menentang Ahok dianggap musuh dan perlu mendapatkan balasan setimpal. Hal Ini sangat terasa dalam lingkup politik. Partai-partai yang menjadi rival politik Ahok selama kontestasi di DKI dianggap musuh di daerah lain. Ada semacam dendam yang menjalar dari Jakarta ke daerah lain.

Sentimen ini sangat berbahaya, terutama jelang kontestasi politik dalam rangka pemilihan kepala daerah, mulai dari gubernur hingga bupati. Masyarakat yang tertular "dendam DKI" tidak lagi melihat figur calon gubernur atau bupati, tetapi justru terjebak dalam dikotomi antara partai pendukung Ahok melawan partai rival Ahok saat pilkada DKI.

Ini sangat berbahaya karena rasionalitas tidak lagi menjadi dasar dalam memilih, melainkan sentimen Ahok effect. Maka kesesatan memilih yang terjadi di Jakarta akan terjadi pula di daerah lain di Indonesia. Padahal Politik selalu menampilkan wajah berbeda. Partai-partai yang menjadi rival dalam pilkada DKI bisa saja berkawan dalam pilkada di daerah lain. Ruang kemungkinan sangat luas dan terbuka dalam konteks kontestasi,  tepatnya perlombaan. 

Penulis

Vinsen Bero

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar