Darmayati: Sawit, Sang Primadona Mulai Ditinggal Petani

Senin, 03 Desember 2018 | 19:06 WIB
Share Tweet Share

darmayanti

[JAKARTA, INDONESIAKORAN.COM]-- Industri kelapa sawit sempat menjadi primadona ekonomi Indonesia termasuk para petani di Sumatera Selatan. Namun, belakangan kelapa sawit di daerah Sriwijaya tersebut terabaikan.

Komoditas yang dahulu menjadi primadona ini terkesan mulai ditinggalkan. Bahkan, sawit di Sumatera Selatan menghadapi beragam masalah serta tantangan.

“Kita ketahui Uni Eropa melakukan penolakan kelapa sawit dari Indonesia. Alasannya, karena kelapa sawit dianggap merusak lingkungan terutama hutan dan lahan gambut,” ucap Wakil Ketua DPD RI, Darmayanti Lubis ketika memberi kata sambutan pada pembukaan Seminar Kelapa Sawit 2018 di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (3/12).

Senator dari Provinsi Sumatera Utara tersebut mengatakan, isu pembakaran hutan yang terjadi beberapa tahun lalu memberi legitimasi alasan itu. Namun, dari sidang-sidang Uni Eropa adalah dalih semata.

“Alasan sebenarnya adalah mereka ingin melindungi industri minyak bunga matahari yang memang menjadi komoditas di banyak negara di Eropa,” ujar Darmayanti yang sebelum menjadi senator adalah akademisi dari Universiyas Sumatera Utara (USU) tersebut.

Menurut Darmayanti, saat ini DPD RI telah berupaya sekuat tenaga untuk memperjuangkan agar industri kelapa sawit bisa terangkat lagi. Dalam berbagai kunjungan, DPD RI melakukan counter terhadap kampanye kelapa sawit yang merugikan.

“Memang tidak semua berhasil, terutama di negara-negara Eropa Barat. Namun di negara Eropa Timur seperti Rusia dan Bulgaria, kampanye ini mendapat sambutan positif,” jelas Darmayanti.

Ditambahkan, Rusia bahkan telah berkomitmen untuk tetap membeli kelapa sawit Indonesia. “Kampanye counter propaganda kelapa sawit ini tentu sejalan dengan kebijakan pemerintah yang juga giat melakukan itu,” kata Darmayanti.

Selain itu, DPD RI juga tengah berupaya agar kelapa sawit punya diversifikasi produk. Salah satu yang mungkin adalah membuat biodiesel. “Indonesia masih menjadi net importer BBM. Pemanfaatan kelapa sawit bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM,” tegas perempuan kelahiran Binjai, 6 Mei 1951 tersebut.

Solusi lain yang bisa diambil, sambungnya, terutama dalam jangka pendek dan jangka menengah. Seperti pemenuhan standar mutu lingkungan agar bisa menjangkau lagi pasar-pasar yang saat ini menolak.

“Selain itu peningkatan daya saing produk sawit melalui peningkatan produktivitas melalui efisiensi usaha, replanting dan menjamin ketersediaan infrastruktur yang baik. Dengan demikian, harga kelapa sawit Indonesia makin bisa bersaing di pasaran internasional,” saran Darmayanti. [A/3]

Editor: Akhir Tanjung

Tag:

Berita Terkait

Komentar