Jika Terpilih Jadi Senator, Ini Fokus Perjuangan Pastika

Rabu, 11 Juli 2018 | 10:24 WIB
Share Tweet Share

Gubernur Bali Made Mangku Pastika didampingi Ketua PP Polri Bali Njoman Gede Suweta, saat mendaftar sebagai bakal calon anggota DPD RI, di Kantor KPU Provinsi Bali, Selasa (10/7/2018). [foto: indonesiakoran.com/ san edison]

[DENPASAR] Gubernur Bali Made Mangku Pastika, mendaftar sebagai bakal calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, ke Kantor KPU Provinsi Bali, Selasa (10/7/2018).

Pada kesempatan tersebut, Pastika didampingi tim LO, sejumlah tokoh masyarakat, para pendukung, serta Ketua Persatuan Purnawirawan (PP) Polri Bali Njoman Gede Suweta dan jajaran.

Pastika melakukan pendaftaran, karena pada tahapan sebelumnya dinyatakan lolos, yakni penyerahan dukungan berupa kartu tanda penduduk (KTP) sekaligus verifikasi dukungan.

Kepada wartawan usai pendaftaran, Pastika membeberkan sejumlah poin yang akan dilakukannya, apabila terpilih sebagai Senator pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 mendatang.

Salah satu di antaranya adalah, mengawal Bali Mandara. Bali Mandara atau Bali yang Agung merupakan visi yang diusung Pastika, selama 10 tahun menjadi gubernur Bali.

Untuk mencapai visi besar ini, diakui Pastika tak cukup hanya dengan waktu 10 tahun. Itu sebabnya, ia ingin terus mengawal visi ini, termasuk dengan duduk sebagai anggota DPD RI di Senayan.

Hal lain yang menjadi fokus perjuangan Pastika adalah terkait kehadiran UU Provinsi Bali, yang hingga kini sulit diwujudkan. Agar perjuangan itu mulus, menurut dia, salah satu kuncinya tidak boleh berjuang sendiri.

"Ini suatu keharusan. Bagaimana menghimpun kekuatan yang ada di tingkat nasional, supaya perjuangan laku. Ga bisa Sendiri sendiri, harus bersama-sama," tandasnya.

Ia menyebut, UU Provinsi Bali merupakan prioritas. Apalagi UU Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang berlaku sejak 1958, sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.

"Kita sudah buat RUU baru, tapi kan perlu perjuangan. Siapa yang bisa tembus Baleg DPR RI? Harus perlu jaringan yang luas untuk suarakan ini," tegas mantan Kapolda NTT itu.

"Jadi perlu koordinasi dengan DPR RI dan kekuatan lain. DPR RI kan 9 orang saja (Dapil Bali, red). Beda partai, beda kepentingan juga. Jadi, harus ada yang bisa koordinasikan ini, baru bersuara. Tidak bisa golkan sendiri," imbuh Pastika.

Disinggung soal keterbatasan kewenangan DPD RI sejauh ini sehingga ruang gerak Senator terbatas, Pastika berpandangan, hal tersebut sesungguhnya tergantung kualitas orang. Selain itu, tergantung jaringan yang dimiliki seorang Senator.

"Saya kira itu (kualitas orang) juga sangat menentukan. Juga network. Jaringan juga penting, baik nasional maupun global. Kita (dari Bali) hanya empat orang (anggota DPD RI)," ucapnya.

"Jadi kalau mewakili suatu daerah tapi ga ngerti apa yang ada di daerah, kan lucu. Bagaimana bicara di luar, kalau ga tahu di dalam? Jadi, jaringan juga harus kuat. Ingat, Bali ini destinasi internasional. Bukan hanya pariwisata, tapi juga kejahatan, macam - macam," pungkas Pastika.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar