Tinggal Menghitung Hari NTT Mempunyai Gubernur Baru

Rabu, 23 Mei 2018 | 20:02 WIB
Share Tweet Share

Debat Kedua Cagub NTT [foto: Yon Lesek]

Menghitung hari,  detik demi detik.  Tak terasa tinggal sebulan lagi,  tepatnya pada 27 Juni 2018 nanti Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki gubernur baru. Seorang Gubernur yang terpilih untuk menjadi jawaban atas semua kebutuhan mendesak bagi terwujudnya NTT yang maju,  harmonis,  dan sejahtera.  Gubernur yang bisa mengangkat harkat dan martabat NTT agar setara dengan bangsa lain dan bisa bersaing secara Nasional,  bahkan internasional.

Ada empat pasangan calon gubernur NTT yang disodorkan ke hadapan rakyat NTT:  Esthon-Christ,  Marianus Sae-Nomleni,  Benny K Harman-Benni Litelnoni, dan Victor Laiskodat-Joseph Nai Soi.  Siapakah di antara mereka yang akan menjadi Gubernur NTT,  akan kita pastikan pada 27 Juni nanti.

Rakyat NTT sudah semakin mengenal masing-masing kandidat ini. Latar belakang keluarga,  pendidikan,  karier politik,  karakter personal dan opsi-opsi pribadi mereka kian hari kian terang dan jelas terlihat dalam perjalanan waktu.  Termasuk visi-misi dan rencana strategis paslon Gubernur NTT sudah semakin terlihat mana yang retorika dan mana yang pragmatis,  mana yang mengawang-awang dan mana yang membumi.

"Saya sukses apabila berhasil membangun NTT bukan sekadar jadi Gubernur. Saya berhasil kalau sanggup membantu lebih dari 80 persen masyarakat NTT yang tinggal di desa-desa sebagai petani, nelayan, dan peternak. Dan saya yakin dengan dukungan dan doa dari Bapak Ibu sekalian, kita bisa melakukan semua ini, mengangkat harkat dan martabat NTT lebih tinggi," kata Benny K Harman saat acara Wuat Wa'i bersama IKAMADA Jakarta (20/5),  salah satu kandidat Gubernur NTT nomor urut 3 yang mengusung jargon Kita Bhinneka Kita HARMONI.

Baru-baru ini, di Sumba Barat Daya, Jumat 19 Mei 2018,  Paslon Benny-Litelnoni telah meluncurkan Kartu Petani Sejahtera (KPS) sebagai salah satu program unggulan untuk NTT sejahtera.

Kartu Petani Sejahtera (KPS) menjadi solusi dari berbagai permasalahan petani, peternak, dan nelayan NTT dengan  manfaat sebagai berikut. Pertama, pemerintah provinsi menyediakan bantuan modal usaha paling banyak Rp.10 juta untuk keluarga miskin. Kedua, bantuan pupuk dan bibit agar produktivitas panen meningkat. Ketiga, agar ada keadilan harga, pemerintah bersama BUMD akan membeli produk petani sesuai harga yang layak. Keempat, petani diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengikuti pelatihan keterampilan bekerja melalui pengadaan Balai Latihan Kerja (BLK). Kelima, mengadakan asuransi gagal panen. Program ini untuk membantu petani yang tanamanya diserang hama, bencana longsor, banjir bandang, puting beliung, dan lain-lain. Keenam, menyediakan beasiswa khusus bagi anak-anak petani yang berprestasi sehingga bisa melanjutkan sekolah.

“Bapa-mama, ini adalah solusi dari paket Harmoni. Kalau bapa-mama sepakat untuk keluar dari kemiskinan, pilih paket Harmoni No. 3,” pesan Benny K. Harman.

Demikian pula niat dan semangat yang kuat untuk membangun NTT terbersit dari ucapan paslon Nomor urut 2,  Marianus Sae-Nomleni dalam setiap kampanye,  terutama saat debat Pilkada yang ditayang salah satu stasiun televisi swasta nasional. Walaupun kita tahu Marianus Sae tidak hadir dalam dua kali debat berlangsung tersebut karena saat ini sedang ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena terlibat kasus suap senilai Rp 4,1 miliar,  suara Emilia Nomleni menggelegar memperjuangkan kesetaraan gender dan hukum di NTT.

Menurut Emilia, hukum yang akan menyatakan kepastian status Marianus Sae. Karena itu kata Emilia, semua pihak harus menghormati asas praduga tak bersalah dan juga menghormati hukum itu sendiri.

"Seperti juga halnya Bapak Marianus Sae, yang taat pada proses hukum yang terjadi saat ini," imbuh Emilia.

"Saya berdiri di sini karena hukum, bapak ibu di sini hadir karena hukum, bapa dan mama yang menonton kami di rumah juga karena hukum. Begitu pun Bapa Marianus Sae," sambungnya.

Karena itu lanjut Emilia, dirinya secara tegas menyatakan sikap bahwa sekalipun langit runtuh, hukum harus ditegakan dan hukum adalah panglima utama. Hukum ada untuk keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum itu sendiri.

Bagaimana dengan paslon nomor urut satu dan empat?  Sedikit santai dan sempat saling menggoda dan mengumandangkan madah pujian satu sama lain dalam debat kedua pilkada NTT,  semangat kedua paslon ini juga sama besarnya untuk mewujudkan NTT yang maju warganya dan sejahtera lahir dan batin rakyatnya.

"Kebijakan reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi adalah sasaran utama kami," kata Esthon L Foenay dalam debat kedua Pilgub NTT 2018, di Jakarta, Selasa, 8 Mei 2018. Keduanya berpendapat, birokrasi harus segera ditata dan korupsi harus menjadi musuh bersama. Pemerintahan yang baik hanya bisa terwujudnya bila birokrasinya bersih dari korupsi. Karenanya, birokrasi harus ditata dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

"Pemerintah, swasta, pihak keamanan, semuanya harus terlibat," kata Esthon.

Tak hanya memerangi korupsi dan mereformasi birokrasi, Esthon dan Christ, juga berkomitmen memerangi kemiskinan di NTT. Tak tanggung-tannggung, paslon nomor urut 1 ini mematok target hingga 50 persen.

"Kami akan memprioritaskan pelayanan publik dan siap menurunkan angka kemiskinan hingga 50%," kata Esthon.

Paslon nomor urut 4, Viktor Laiskodat-Josseph Nae Soi tidak kalah lincah dan menarik menyampaikan pesan-pesan perubahan untuk NTT,  di antaranya bagaimana membebaskan NTT dari gizi buruk dan mengangkat derajat anak-anak NTT dengan janji program beasiswa pendidikan kepada 2000 anak NTT dan pengembangan pariwisata level internasional.

Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi berkomitmen mengubah stigma buruk NTT. Viktor menjelaskan NTT dikenal dengan wilayah peringkat tiga terbawah dalam tingkat kemiskinan. Viktor juga menyebut NTT merupakan provinsi dengan indeks pembangunan manusia terburuk ketiga. Pendapatan per kapita NTT pun terendah di seluruh Indonesia.

"Kami hadir sebagai jawaban atas doa dan harapan masyarakat NTT yang menderita," tegas Viktor dalam pemaparan visi misi dalam debat perdana Pilgub NTT, Kamis, 5 April 2018.

Viktor-Joseph berjanji membangun potensi sumber daya alam NTT yang begitu indah dan kaya melalui pariwisata. Sektor itu, terang Viktor, merupakan penggerak utama pembangunan ekonomi NTT.

Pasangan ini juga bakal menyediakan air bersih, listrik rumah tangga maupun industri, serta garam industri.

"Garam industri nantinya dapat diberikan untuk kebutuhan nasional. Indonesia saat ini masih mengimpor garam," ucap eks Ketua Fraksi Partai NasDem itu.

Siapa yang Pantas Dipilih?

Menyimak pernyataan niat dan semangat semua paslon Gubernur NTT  ini rasanya legah,  paling tidak secara intelektual kita puas bahwasanya para kandidat tidak membiarkan satu pun permasalahan mendasar NTT berada di luar jangkauan pemikiran dan rencana mereka. Ada banyak kita jumpai kesamaan pandangan dan keprihatinan,  walau cara menyampaikannya secara lisan dan tulisan masing-masing unik dan tak sama.

Lantas,  bagaimana rakyat NTT bisa menentukan kandidat mana yang paling pas untuk dipilih? Sebab, semua visi misi,  program dan rencana strategis yang disampaikan tampak bagus-bagus semua. 

Satu bulan waktu tersisa mungkin baik kalau kita jadikan masa inkubasi,  masa pengendapan.  Meminjam istilah Latihan Rohani Ignasian, masa ini dijadikan kesempatan rakyat melakukan Discernment of spirits atau pembedaan roh, merupakan sebuah tafsir terhadap sesuatu yang disebut oleh St. Ignatius Loyola sebagai gerakan-gerakan jiwa, yang memuat pikiran, imajinasi, emosi, kecenderungan, hasrat, perasaan, ketertarikan atau keengganan. Pembedaan roh melibatkan kepekaan orang terhadap gerakan-gerakan itu, merefleksikannya, memahami dari mana datangnya dan menuntun orang ke mana.

Dalam konteks memilih satu paslon yang pas untuk dipilih sebagai Gubernur NTT kali ini, discerment of spirit mengarah kepada jawaban atas pencarian pemimpin seperti apa yang paling cocok untuk kebutuhan NTT saat ini.

Lepas dari visi-misi dan janji politik yang manis-manis di atas,  paling tidak tiga hal ini yang harus menjadi pertimbangan dalam momen discerment of spirit.  Pertama, memilih pemimpin yang pendidikannya baik.  Kita simak rekam jejak pendidikan para kandidat itu dan bagaimana mereka berproses dalam dunia pendidikannya. Pendidikan yang baik membentuk pola pikir yang sehat dan kepribadian yang baik.

Kedua,  memilih pemimpin yang tidak cacat moral dan tidak cacat hukum. Kita simak,  apakah dia korupsi,  suka main perempuan,  tidak jujur,  apakah dia pernah terjerat kasus hukum ataukah pernah masuk penjara.  Mari kita simak semua itu.

Ketiga,  memilih pemimpin yang patriotik dan religius.  Dua hal ini berbeda tetapi satu dalam diri rakyat NTT yang pada umumnya seratus persen Katolik (Kristen) dan seratus persen patriotik/cinta tanah air.

Ketiga kualitas pemimpin di atas rasanya komplit jika disandang oleh salah satu kandidat terbaik dari yang ada.  Sebab,  kualitas pemimpin tersebut mencakup kualitas hubungan pribadi sang kandidat dengan dirinya sendiri melalui pendidikan yang baik,  kualitas relasinya dengan lingkungan sosial melalui perilakunya yang tak bercacat,  dan kualitas relasinya dengan Tuhan Sang Pemilik segala.

Rasanya sudah komplit kalau NTT mempunyai Gubernur Baru seperti ini. Sekarang,  siapakah dia?  Tentukan pilihanmu, mulai sekarang.

Penulis

Yon Lesek

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar