Simak Nota Pastoral KWI 2018: Panggilan Gereja dalam Hidup Berbangsa

Kamis, 17 Mei 2018 | 15:03 WIB
Share Tweet Share

Buku 'Nota Pastoral KWI 2018' (Penerbit OBOR-KWI)

[JAKARTA] Di tengah situasi dan kondisi bangsa Indonesia kini, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengeluarkan Nota Pastoral KWI 2018, dengan mengusung tema "Panggilan Gereja, dalam Hidup Berbangsa: Menjadi Gereja yang Relevan dan Signifikan". Diluncurkan hari ini, 17 Mei 2018.

IMG_20180517_145307 Peluncuran Nota Pastoral KWI 2018 dalam Rapat Presidium KWI di JJakart (17/05) (foto: istimewa) 

Apa isi Nota Pastoral KWI 2018 ini?

Gereja Katolik Indonesia,  melalui Nota Pastoral KWI 2018,  pertama-tama mencermati kondisi bangsa kini, yang sungguh memprihatinkan,  antara lain: 1. Belum terkelolanya kekayaan alam secara adil.  2. Kurang meratanya pembangunan.  3. Mulai terkoyaknya kerukunan dan toleransi.  4. Disintegrasi sosial karena menguat dan mengerasnya politik identitas yang berbasis suku dan golongan. 5. Maraknya radikalisme dan tindak kekerasan. 6. Teknologi komunikasi yang disalahgunakan. 7. Suhu politik menjelang Pemilu 2018  dan Pilpres 2019. 8. Masalah lingkungan hidup atau ekologi.

Faktor penyebabnya diuraikan dalam Nota Pastoral KWI 2018 ini,  antara lain: Kurangnya ingatan akan sejarah lahirnya bangsa,  melemahnya kesadaran dan pemahaman akan dasar dan pilar-pilar utama kehidupan bangsa Indonesia,  yakni pancasila,  UUD'45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Selain itu, kurang siap dan kurang matangnya anak bangsa berjalan di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang pesat dan tak bersekat.  Juga masalah kemiskinan dan krisis keteladanan dari para pemimpin, bahwasanya 'banyak politisi tetapi defisit negarawan'.

Maka,  Nota Pastoral KWI 2018 ini menandaskan:

1. Negara harus hadir mengatasi segala golongan, dengan regulasi yang pro rakyat dan bonnum commune. Negara mendorong untuk menjadikan Pancasila sebagai habitus berbangsa dan bernegara. Gereja mendukung kebijakan yg telah diambil pemerintah dalam hal pembinaan ideologi Pancasila,  penetapan UU No 2 2017 tentang Ormas,  pembangunan di berbagai bidang mulai dari pinggiran,  dan berbagai upaya mencegah meluas dan menjalarnya ujaran kebencian, paham radikalisme dan intoleran,  termasuk melalui pemblokiran situs-situsnya.

2. Gereja diutus untuk menjadi promotor utama memajukan pemahaman dan penghayatan Pancasila secara baik dan  benar.  Gereja harus hadir di tengah bangsa Indonesia,  berdialog  dengan semua golongan dan lapisan masyarakat, tak terkesan eksklusif,  tetapi hadir dalam gerakan afirmatif melalui aksi sosial yang nyata dalam menciptakan rumah bersama Indonesia yang layak huni dan ekologis.

Tentang persoalan lingkungan hidup,  Nota Pastoral 2018 menyitir kembali Ensiklik Paus Fransiskus,  Laudato Si,  no.  49: "Kita tak dapat tidak harus mengakui bahwa pendekatan ekologis yang sejati selalu menjadi pendekatan sosial,  yang harus mengintegrasikan soal keadilan dalam diskusi lingkungan hidup,  untuk mendengarkan baik jeritan bumi maupun jeritan kaum miskin."

Di sini, Gereja diutus untuk menjadi garam dan terang dunia di tengah hidup berbangsa seperti ini agar sungguh-sungguh menjadi Gereja yang relevan (selaras zaman)  dan signifikan (kehadirannya mengubahkan dan menggerakkan perubahan ke arah yg lebih baik,  sejahtera dan beradab).
Agar semua orang dapat hidup bersama  dan bersaudara,  merajut kesatuan,  kerukunan dan perdamaian,  serta bekerja keras demi perwujudan cita-cita kesejahteraan umum demi Indonesia jaya.

Demikian sekilas gambaran tentang isi Nota Pastoral KWI 2018 ini. Selamat untuk diluncurkannya NOTA PASTORAL KWI 2018: Kita semua diutus untuk Menjadi Gereja yang relevan dan signifikan  dalam hidup berbangsa.

Dapatkan buku ini di Penerbit & Toko Rohani OBOR,  jl.  Gunung Sahari no 91 Jakarta Pusat.  Bisa pesan via Email penerbit@obormedia.com  atau WA  082114156000. Belanja on line di www.obormedia.com
Harga @Rp 6000,

Penulis

Yon Lesek

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Politik

Ini Isi Lengkap Surat Basuki T Purnama

Selasa, 23 Mei 2017
Politik

Zuhairi Misrawi: Betapa Luasnya Hati Ahok

Rabu, 24 Mei 2017

Komentar