Adakah MAFIA Tambang di Lengko Lolok dan Luwuk?

Minggu, 14 Juni 2020 | 21:53 WIB
Share Tweet Share

Plasidus Asis Deornay, SH, Praktisi Hukum dan Advokat

Oleh: Plasidus Asis Deornay, S.H, Advokat.

[INDONESIAKORAN.COM] Saya menulis sebuah investigasi ini tentu dilatari oleh kecintaan saya terhadap keluarga saya yang  ada di Luwuk dan Lengko Lolok. Dua kampung ini menjadi perhatian publik saat ini.

Dikabarkan dua perusahaan besar bernama PT Istindo Mitra Perdana dan PT Singa Merah mau menambang batu gamping di Lengko Lolok dan membangun pabrik semennya di Luwuk, Manggarai Timur, Flores, NTT. Seingat saya PT Istindo Mitra Perdana juga adalah perusahaan yang pernah melakukan eksploitasi tambang mangan di Serise. Kali ini, dia menggandeng PT Singa Merah untuk.melakukan ekspansi bisnis barunya yang lokusnya tidak jauh dari lokasi tambang mangan sebelumnya. Bisnis baru mereka bernama PABRIK SEMEN.

Hadirnya pabrik semen ini, membuat suasana kembali memanas lagi. Istilah Kelompok PRO dan KONTRA Tambang muncul kembali ke publik. Tentu bukan karena tanpa alasan. Di luar dugaan, kelompok Pro Semen di Luwuk dan Lolok sangat banyak. Yang Kontra tinggal sedikit.

Ada APA?

Adakah Trik atau strategi yang dimainkan kedua perusahaan ini? Kita mesti melakukan investigasi.

Pada 12 Juni 2020, saya bersama tim memutuskan untuk ke kampung Luwuk. Setidaknya saya ingin tahu secara langsung. "Ada Apa" dan "Ada Siapa d"i sana?. Kami tiba pukul 02.00 siang di.Luwuk. Agenda utamanya adalah Edukasi Hukum. Sekligus mengunjungi Om saya bernama Paulus Berahi. Kami tentu tidak salah masuk ke rumah. Saya tentu harus ke rumah keluarga saya lebih dahulu. Di Luwuk saya bertemu Om dan Tanta. Keduanya masih dalam keadaan sehat walafiat.

Apa yang terjadi saat tiba di.rumah Om saya?

Di bawah ini saya akan beberkan hasil investigasi saya. Sayangnya agenda untuk Edukasi Hukum batal. Saya harus berhadapan dengan kelompok perusahaan yang dikoordinasi oleh saudara Fransiskus Ramli, Hans Aoer dan Bernabas Raba (mantan Kades Satar Punda). Kelompok mereka berjjmlah 10 orang lebih.

Fakta pertama: Upaya Penghadangan

Saat saya ingin melakukan kegiatan memasang banner di depan dinding rumah Om saya, tiba-tiba dua mobil perusahaan merangsek masuk kampung Luwuk. Mereka langsung ke rumah Tu'a Teno, yang letaknya persis di samping rumah Om saya.Beberapa lama kemudian saya melihat saudara Frans Ramli, Hans Aoer, dan Bernabas Raba di situ. Yang lainnya saya tidak kenal. Ada dua orang perempuan, ada wartawan, dan lainnya. Terhadap mereka yang saya kenal saya sapa. Kita saling tegur sapa. Tetapi terlihat mereka kurang nyaman.

Hans Aoer kemudian memanggil Om saya Paulus Berahi untuk ke rumah Tua Teno. Om saya ternyata menemui saudara Frans Ramli. Dia meminta Om saya untuk melarang atau tidak boleh menerima saya dan tim untuk melakukan kegiatan di rumahnya. Om saya menjawab: "Asis itu keponakan saya. Saya tidak bisa melarang dia. Kami keluarga dekat, Pak. Tegur saja sendiri."

Kemudian Om saya pulang dan mengabarkan ke saya. Mendengar itu, saya naik pitam dan marah dengan  mereka itu. Beberapa menit berselang, Frans Ramli datang menemui saya. Saya langsung menyambarnya dengan nada-nada tinggi. Frans didampingi saudara Bernabas Raba.

Perdebatan berlangsung sengit. Saya tetap konsisten dengan agenda saya. Saya tidak gubris saran atau larangan mereka. Karena di dalam profesi saya, jelas saya dilindungi dan dijamin undang-undang.

Perdebatan tersebut akhirnya cair, dan dia meminta agar isi obrolan ini off the rocord. Ini hanya salah paham katanya. Saya meminta kepada dirinya agar sampaikan ke perusahaan tentang  diskusi kita hari ini.

Fransiskus Ramli dan timnya pergi meninggalkan kampung Luwuk dan saya tetap melakukan kegiatan di rumah Om saya.

Fakta Kedua: Tentang Uang Kompensasi

Om saya Paulus Berahi membeberkan bahwa hampir semua orang Luwuk ditawari uang kompensasi. Uang kompensasi yang diberikan sangat menggiurkan, per termin diberikan. Jumlahnya 50 juta rupia.  Termasuk Om saya juga ditawari. Tahap pertama mereka sudah terima, termasuk Om saya itu. Besarannya 10 juta rupiah. Mereka terima langsung di kantor perusahaan PT Istindo yang berlokasi di jalan raya menuju Kedindi, kota Reok.

Di sini saya telusuri lebih jauh apa maksud uang kompensasi tersebut. Apakah ini cara perusahaan untuk memperoleh lahan warga? Atau jangan-jangan ada modus lain di balik istilah uang kompensasi ini. Sebab kalau saya telusuri pengertian istilah ini menurut hukum tentu berbeda maknanya.

Uang Kompensasi menurut hukum merupakan ganti kerugian yang diberikan oleh negara karena pelaku tidak mampu memberikan ganti kerugian sepenuhnya yang menjadi tanggung jawabnya (bdk. Pasal 1 Angka 4 PP 44 Tahun 2008 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi, dan Bantuan Kepada Saksi dan Korban). Sedangkan menurut pengertian para ahli atau dalam kamus Bahasa Indonesia, Kompensasasi adalah segala sesuatu yang diterima baik berupa fisik maupun non fisik. Kompensasi juga berarti seluruh imbalan yang diterima oleh seorang pekerja/karyawan atas jasa atau hasil dari pekerjaannya dalam sebuah perusahaan dalam bentuk uang atau barang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Anehnya warga Luwuk dan Lolok belum dikategorikan sebagai pekerja, karena pabrik ini belum beroperasi.

Ini patut saya duga bahwa istilah uang kompensasi yang dipakai perusahaan adalah uang pellicin atau DP awal dari lahan yang akan dibeli. Berbahaya memang. Kita lihat hasil akhirnya.

Sepengetahuan saya, negosiasi perusahaan belum masuk pada tahap jual-beli. Sebab fakta itu harus diikuti oleh kuitansi dan surat jual-beli. Tahapan itu pernah dibeberkan oleh salah satu media online, yakni: https://www.florespost.co/2020/05/08/154-kk-luwuk-dan-lingko-lolok-dukung-pabrik-semen/

Mudah-mudahan hasil akhirnya, modus ini bukan kategori penipuan (pasal 378 KUHP); tidak untuk menipu warga Luwuk dan Lolok. Sebab, menurut saya, kewajiban warga, jika nanti perusahaan ini ditutup atau tidak beroperasi, itu artinya perusahaan tidak boleh menuntut ganti rugi. Batal demi hukum. Tetapi kalau dipotong untuk jual-beli lahan, ini yang saya sebut kemungkinan besar warga sedang terjebak oleh permainan mafia tanah. Yakni penipuan.

Hampir sinkron dengan dugaan yang saya baca beritanya di http://www.beritaflores.com/2020/05/17/soal-dp-rp10-juta-pabrik-semen-diduga-jebak-warga-luwuk-dan-lengko-lolok/
Berhati-hatilah keluargaku di Luwuk dan Lolok. 

Fakta ketiga: Tentang Penguasaan Lahan

Om saya juga membeberkan bahwa telah terjadi Penguasaan Lahan Warga oleh Perusahaan. Mereka telah mematok pilar di atas lahan sebagian warga Luwuk dan Lolok.

Tentang fase ini juga patut saya duga ini adalah Modus. Mirip kerja mafia tanah ditempat lain. Justru ini bertentangan dengan hukum. Unsur jual-beli lahan belum terjadi. Fase pembayaran lahan belum terjadi. Tetapi fakta di lapangan, puluhan hektar tanah telah dipasang Pilar oleh perusahaan. Jelas ini adalah Perbuatan Melawan Hukum

Kasihan warga Luwuk dan Lolok. Pemahaman hukum mereka sangat minim. Sebenarnya mereka tidak gegabah atau mudah di rayu oleh para mafia ini. Saya berharap warga Luwuk dan Lolok mulai cerdas dan pintar melihat fenomena yang terjadi di atas lahan mereka.

Inilah investigasi awal saya di Kamung Luwuk. Semoga tulisan saya menjadi referensi yang berharga untuk kita telusuri lebih jauh tentang dua pertanyaan pokok saya. Ada Apa, dan Ada Siapa di Luwuk dan Lolok saat ini.

Fiat Justitia Ruat Caelum
Hukum ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. 

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Opini

Impian Pabrik Semen di Matim

Minggu, 24 Mei 2020
Opini

Membatalkan Semen Di Matim, Mungkinkah?

Minggu, 24 Mei 2020

Komentar