Karpet Merah Gunung Kapur di Matim

Selasa, 26 Mei 2020 | 13:08 WIB
Share Tweet Share

Bekas galian mangan di Serise, Desa Satar Punda, Manggarai TImur, NTT. [Istimewa]

Pemerintah Daerah Tingkat Satu Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pemerintah Daerah Tingkat Dua Manggarai Timur membentangkan karpet merah bagi investor yang ingin berinvestasi di wilayah tersebut. Hal ini adalah sikap yang baik.  Pemerintah daerah membuka diri untuk kemajuan daerahnya. 

Membuka diri bagi masuknya investasi dari luar daerah merupakan salah satu strategi yang sangat baik untuk memacu pertumbuhan dan kemajuan di daerah. Sebab dengan itu, selain dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), juga dapat menyerap lapangan kerja bagi penduduk lokal. Dengan demikian, sikap kreatif pemerintah daerah tersebut sudah seharusnya mendapat dukungan penuh dari masyarakatnya. 

Pada umumnya investor datang, selain karena potensi daerah atau wilayah menguntungkan secara ekonomis, juga mereka merasa aman dan nyaman untuk berinvestasi. Perasaan nyaman ini ditentukan oleh dua faktor. Pertama, pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten memberi mereka jaminan kenyamanan untuk berinvestasi. 

Kedua, mereka merasa diterima oleh penduduk lokal di mana industri atau usaha mereka akan dibangun. Penerimaan penduduk lokal sangat penting sebab dengan itu potensi konflik sosial di sekitar industri dapat dieliminasi. Rendahnya potensi konflik tentu akan dapat berkontribusi pada tingginya keuntungan finansial, atau sebaliknya rendahnya cost untuk pembiayaan sosial.

Dalam kaitannya dengan kasus di Manggarai Timur yang sedang hangat diberitakan oleh berbagai media online lokal, dan tentu tidak ketinggalan ramai didiskusikan dalam berbagai group WhatsApp orang-orang NTT atau Manggarai Timur, dan juga wilayah Manggarai lainnya adalah di satu pihak Pemerintah Provinsi NTT dan Kabupaten Manggarai Timur membuka karpet merah kepada investor tambang semen di Desa Satar Punda, Lamba Leda, Manggarai Timur, namun pada pihak yang lain, masyarakat Satar Punda justru bersikap sebaliknya berjuang menggulung karpet merah itu untuk dibuang. Mereka menolak dibangunnya pabrik semen tersebut.

Mengapa responsnya berbeda? Rupanya karpet merah yang dibentangkan Pemda Matim adalah untuk investor penambang pegunungan batu kapur atau pegunungan karst di Desa Satar Punda yang memiliki sejarah kelam dengan aktivitas penambangan. Gunung kapur atau karst identik dengan kegersangan dan warga yang miskin serta sulitnya mendapatkan air. Kesannya seperti daerah yang tidak berguna.

WhatsApp Image 2020-05-25 at 22.05.13

Embung Raksasa

Menurut ilmu geologi pegunungan kapur ini sangat berjasa besar sebagai embung air raksasa bagi penduduk di sekitarnya. Pegunungan kapur atau karst biasanya bentangan alamnya bergunung sedang dan banyak rekahannya yang menghasilkan tebing-tebing yang terjal dan curam. 

Tebing yang terjal banyak menarik minat para pencinta panjat tebing. Selain tebing-tebing yang terjal terdapat juga gua-gua dan sungai bawah tanah, yang menarik minat para penelusur gua dan sungai bawah tanah. Tebing dan gua-gua serta aliran sungai dari bawah tanah di kawasan gunung kapur ini sangat unik karena terjadi dari proses pelarutan batu kapur dengan air hujan  yang jatuh di kawasan kapur itu. 

Sesuai sifat fisiknya, batu kapur atau karst ini tidak bisa menahan air, sehingga air hujan yang jatuh di kawasan itu akan segera meresap. Karena sifatnya yang mudah larut oleh air hujan, maka kita banyak menjumpai rekahan-rekahan dan lorong-lorong aliran air yang akan membentuk gua-gua dan sungai-sungai dalam tanah. 

Meskipun tampak kering dan tandus dalam pori-pori batu kapur mampu menyimpan banyak sekali air. Sehingga tidak salah kalau gunung kapur menjadi embung air raksasa, yang secara pelan-pelan dan hati-hati  melepaskan airnya melalui mata air dan sungai-sungai bawah tanah. Gunung kapur menjamin air sepanjang musim untuk petani dan warga sekitarnya.

Bagi petani, gunung kapur adalah rumah bagi sahabat mereka, di sana banyak gua tempat bersarangnya burung hantu, kelelawar, walet, ular dan bahkan rajawali dan jenis burung lainnya, yang membantu petani untuk membasmi hama. Sayangnya Pemerintah Daerah Tingkat Dua Manggarai Timur membentangkan karpet merah bagi investor untuk menambang gunung kapur.  

Dengan memberi karpet merah bagi para investor untuk menambang gunung kapur, pemerintah daerah mengabaikan semua potensi besar lainnya yang terdapat dalam gunung kapur. Potensi yang dapat memberi kesejahteraan kepada penduduk lokal baik sekarang maupun untuk generasi mereka di masa yang akan datang. 

Dan dengan memberi karpet kepada investor semen tersebut, pemerintah daerah jelas-jelas telah mengabaikan prinsip-prinsip sustainability pemanfaatan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat, baik rakyat yang sedang berada dalam tanggung jawabnya, maupun rakyat pada generasi yang akan datang.

Sebagai penegasan, menambang batu kapur akan mematikan mata air, dan dengan itu kita pelan-pelan mematikan para petani. Para petani yang tidak hanya berada di sekitar wilayah tambang, tetapi juga para petani yang berada di luar wilayah tambang tersebut. Kalau para petani gagal panen karena kekeringan atau debit air kurang, hal itu akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat luas. 

Jadi sampai di sini maka menolak tambang batu kapur harus menjadi sikap masyarakat luas yang peduli pada nasib generasi di masa yang akan datang. 

Penulis

Yulius Salang
Pemerhati dan praktisi tambang, tinggal di Jakarta

Editor: Gusti


Berita Terkait

Opini

Impian Pabrik Semen di Matim

Minggu, 24 Mei 2020
Opini

Membatalkan Semen Di Matim, Mungkinkah?

Minggu, 24 Mei 2020
Opini

Fenomena Sesat Pikir Wakil Rakyat

Jumat, 03 Juli 2020

Komentar