Aku Caci, Maka Aku Ada

Sabtu, 23 Mei 2020 | 09:22 WIB
Share Tweet Share

Caci

Ada sebuah jenis tarian yang paling banyak ditonton oleh oleh Manggarai ialah apa yang disebut dengan Caci. Tari Caci dimainkan oleh para lelaki, mengandung makna simbolis melambangkan kejantanan, keberanian, kemegahan, dan sportivitas. 

Caci yang memainkan peranan penting sebagai lambang seni dan budaya Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dipahami sebagai ritual dengan makna mendalam bagi masyarakat, juga menjadi atraksi pertunjukan dan menarik. 

Dalam tarian caci ada pekikan yang disebut dengan paci. Paci ada juga yang menyebut pasi atau rait, adalah sebuah pekikan yang mengandun makna cita-cita.

Orang Manggarai, adalah orang yang memiliki cita-cita. Dan cita-cita itu umumnya diungkapkan dalam motto yang tergambar dalam paci/pasi/rait. Paci, asal kata dari bahasa Manggarai yaitu Cipa dan Ci. 

Cipa berarti menangkis. Dan Ci berati uji (an). Paci berarti sebuah ekspresi (mengekspresikan diri) dalam exorcisme dari suatu tekanan/ pembebasan jiwa dari suatu pergulatan kehidupan. 

Sementara kata Caci, asal kata dari bahasa Manggarai ci gici ca, yang berarti uji satu per satu, satu lawan satu. Orang Manggarai memang diciptakan menjadi petarung dan tidak menjadi pengecut. 

Paci/ pasi/ rait mengungkapkan visi kehidupan dalam mana orang Manggarai menyatakan muatan hidup/ gambaran kekuatan atau kualitas hidupnya yang terungkap secara simbolis atau metafora. 

Melalui Paci/pasi/rait orang Manggarai mengekspresikan cita-citanya. Paci/pasi/rait berciri khas puitik (durit), cenderung dihubungkan dengan suku (uku) dan kampung halaman (beo). Seperti yang tercatat di bawah ini: 

Paci misalnya: Pangga Lance Reba Lante, Pangga Pa’ang Ata Ngara Tana (Ben S Galus), Néra Béang Léhang Tana Bombang, Palapa Cama Laki Toto Rani Nai, Jarot Labok Tana, Lalong Rombéng Kéor Kolé, Todo Lolo Bali (Mansyur), Wéwa Néra ata Wéla ( Frans Jelata).
 
Paci (Caci) Cara Mengada

Orang Manggarai adalah orang yang mengungkapkan kualitas/ keberadaan hidupnya melalui bahasa metafora/ simbolis melalui paci. Paci (caci) menjadi cara mengada (mode of being), cara bereksistensi. Kemengadaan orang Manggarai terwujud dalam berbagai bentuk Paci (caci). 

Pepatah Manggarai mengatakan ”Konem mese neho nian ata (pangkat mese, sekola mese), landing eme toe manga Paci (nganceng caci), lebi di’a hia jadi mendi laing” (Sehebat apa pun seseorang bila tidak punya Paci, caci, lebih baik jadi babu).

Manggarai adalah orang yang memiliki harapan agar beraksi cepat dalam menunaikan sesuatu. Harapan ini diungkapkan dalam goet (bahasa sindiran): “neka mejeng hese, neka ngonde holes: (jangan lambat berdiri, jangan malas bergerak/ menengok/ menoleh). Singkatnya Paci adalah sebuah cara untuk menemukan identitas sebagai manusia Manggarai.

Beberapa perlengkapan yang digunakan dalam tarian Caci seperti Panggal, Agang, Tereng, Nggiling, Ndeki, dan Nggorong. Panggal adalah salah satu perangkat Caci. Panggal berfungsi melindungi kepala pemain caci dari pukulan lawan agar tidak cedera berat. 

Apa makna filosofi Panggal? Panggal terdiri atas lima sudut yang melambangkan simbol keyakinan orang Manggarai yakni rumah sebagai tempat tinggal/perlindungan, kampung sebagai tempat persatuan, air sebagai sumber kehidupan, kebuh sebagai simbol kesejahteraan dan gerbang sebagai penjaga atau penjaga kampung (mengandung lima sila Pancasila).

Sementara Nggiling atau perisai yang berbentuk bulat itu merupakan lambang bumi. Nggiling berbahan dasar kulit kerbau. Bumi tempat tumbuh semua makluk hidup di muka bumi. Nggiling sebagai salah satu perangkat caci melambangkan seorang wanita atau ibu. 

Ibu mengandung dan melahirkan manusia. Ibu menyusui anak. Dari dalam tubuh ibu melahirkan banyak sumber daya manusia. Nggiling selain lambang bumi (kesuburan) juga sebagai lambang kesejahteraan, kedamaian.

Agang atau Tereng: Tereng berbentuk setengah lingkaran berbahan rotan atau kalau tidak ada rotan bambu pun bisa sebagai simbol laki-laki. Tugas laki-laki adalah melindungi, memberi nafkah anak, menuntun, mengarahkan keutuhan keluarga.

Wado (pecut). Wado berbahan dasar rotan dan ujung diikatkan dengan irisan larik terbuat dari kulit kerbau kering. Wado bermakna sebagai cu’a. Cu’a adalah kayu yang dipakai untuk menanam jagung atau padi atau tanaman apa saja. Ketika dipukulkan kepada lawan itu artinya menanam tanaman. Bila lawannya kena dan berdarah itu berarti subur atau panenan kita berlimpah. 

Ndeki, berbahan dasar rotan dan dibalut dengan bulu ekor kuda. Mengapa bulu ekor kuda?. Kuda adalah hewan melambangkan kehebatan, melambangkan kekuatan. Pada zaman dahulu kalau orang berperang biasa menggunakan kuda. Kuda juga dipakai sebagai pengangkut barang (jarang tekek). 

Kuda adalah lambang kekuasaan seseorang atau lambang kekuatan seseorang. Di Manggarai kalau ada orang yang memilik kuda banyak apalagi kuda jantan, menunjukkan bahwa orang tersebut mempunyai kekuasaan, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial budaya. Ketika pemain caci mengenal ndeki, kejantanannya semakin luar biasa. Ketakutan yang ada padanya hilang seketika ketika mengenakan ndeki.

Terakhir adalah Nggorong. Nggorong melambangkan kemeriahan, semangat para pemain caci. Tanpa Nggorong permainan caci rasanya kurang menaik. Nggorong menambah semangat, karena bunyinya menggairahkan pemain caci. 

Permainan caci biasanya dilakukan oleh orang Manggarai pada saat setelah panenan atau memasuki musim tanam berikutnya. Caci sebagai tarian ucapan syukur kepada Tuhan atas penenan yang berlimpah. 

Caci merupakan kebiasaan nenek moyang orang Manggarai. Tidak ada satupun orang tua yang menderita sakit karena banyak caci. Yang ada adalah walaupun dalam keadaan sakit, para pendahulu kita tetap caci.  Caci merupakan kekuatan. 

Kekuatan yang mampu menggerakkan orang untuk melakukan perlawanan. Kekuatan untuk menarik lawan jenis (ajang cari jodoh, karena pemain caci sungguh lomes).  Kekuatan caci (paci)  mampu menembus orang tak terbatas ruang dan waktu yang tak terbatas pula.  

Seperti juga bentuk-bentuk budaya manusia lainnya, kepandaian caci terbentuk melalui beberapa tahapan proses seiring dengan perkembangan cara berfikir orang Manggarai waktu tertentu. Pertumbuhan suatu budaya tercipta dengan dorongan persepsi manusia itu terhadap kebutuhan untuk membebaskan diri dari tantangan-tantangan hidup yang ditemui. 

Dengan kata lain bagaimana manusia bisa menciptakan suatu usaha yang dengannya akan terpenuhi tuntutan kebutuhan hidup mereka. Apabila hasil usaha itu merupakan pemenuhan tuntutan hidup dan berproses melalui pemikiran, maka hal itu merupakan suatu bentuk budaya baru. Pelahiran budaya baru pada suatu masyarakat akan senantiasa merupakan gambaran perkembangan cara berfikir manusia pada saat itu.

Caci, adalah salah satu bentuk budaya yang tercipta melalui proses-proses yang disebutkan. Penemuan lambang-lambang lambang-lambang, peralatan caci yang bentuk akhirnya berupa nggiling, wado, agang, adalah suatu prestasi intelektual yang dicapai manusia Manggarai, dalam peradaban masyarakat tempo dulu, tidak tanpa bermakna. 

Peralihan sistem tradisi caci ke tradisi dansa, sangat mempengaruhi percepatan perkembangan budaya dan perluasan informasi antar masyarakat dan antar generasi secara lebih otentik dan efektif. 

Akibat dari semua itu, tentunya --secara tidak langsung--, akan merubah tatanan budaya-budaya lainnya ke bentuk yang lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Dengan demikian penemuan budaya caci dalam sistem budaya Manggarai, tidak hanya akan menawarkan peningkatan dalam lapangan estetis saja, akan tetapi lebih jauh akan mempengaruhi aspek-aspek budaya Manggarai itu secara keseluruhan. 

Hal-hal yang kita sebutkan terbukti dari beberapa kerajaan besar pada zaman purba --seperti Mesir, Sumeria, Babylonia, Niniveh, China dan lain-lain-- yang telah memperoleh kemajuan yang pesat di bidang peradaban dalam masa 10.000 tahun semenjak mereka menemukan berbagai macam tarian. 

Kemajuan tersebut ternyata lebih besar dari apa yang dicapai selama Zaman Batu yang berlangsung lebih kurang 2 juta tahun.  Demikian pun caci, tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Melainkan melalui sebuah proses yang mendalam. Dalam proses yang mendalam itu orang Manggarai menemukan identitas dan otensitas dirinya sebagai orang Manggarai.

Paci (caci) adalah ungkapan keabadian. Karena dalam Paci tergambar filosofi hidup, cita-cita hidup, visi misi tana (ata) Manggarai. Karena di tana Manggarai tidak ada yang abadi, kecuali paci (caci) itu sendiri. Kalau Descartes, filsuf Perancis, beraliran Rasionalisme, mengatakan ”Cogitio Ergo Sum”, yang berarti ”aku berpikir maka aku ada”, kita dapat mengubahnya menjadi ”Paci (Caci) Ergo Sum”, yang berarti ”aku paci (caci) maka aku ada”.

*) Ben Senang Galus, orang Manggarai, hobi caci, tinggal di Yogyakarta

Penulis

Ben Senang Galus
pemerhati sosial, orang Manggarai, hobi caci, tinggal di Yogyakarta

Editor: Odorikus


Berita Terkait

Komentar