Meneladani Solidaritas Kemanusiaan Nabi Muhammad SAW

Kamis, 21 Mei 2020 | 13:08 WIB
Share Tweet Share

Ben Senang Galus

*Oleh: Ben Senang Galus

Materialisme begitu tumbuh subur dan menjadi pilihan hidup manusia modern untuk sekadar mendapatkan identitas sosial dan personalnya. Materialisme tanpa batas itu akan melampaui batas-batas kemanusiaan yang mungkin paling masuk akal dengan kata-kata yang tepat, seperti hilangnya semangat solidaritas sosial, kedermawan sosial, yang membuat manusia sebagai mesin dalam proses perkembangan automatis.

Automatisasi membuat manusia bukan lagi subyek human yang otonom, melainkan budak yang tertindas karena keseimbangan psikologisnya terguncang ketika norma-norma solidaritas sosial dijungkirbalikkan, karena diganti dengan solidaritas kebendaan yang menjadi tolok ukur kriterium nilai.

Situasi demikian menyebabkan manusia tidak lagi menjadi makluk sosial yang hidup bersama dengan orang lain, melainkan makluk tunggal yang hidup sendirian dalam penjara-penjara kebudayaan yang diciptakannya sendiri, yang hanya bisa bertahan karena pupuk materialisme sebagai konsekuensi logis dari ideologi pertumbuhan tanpa batas melampuai batas-batas kewajaran.

Solidaritas Kemanusiaan

Puasa di bulan Ramadhan merupakan kesempatan untuk membangun hidup yang semakin bersolider kepada Alla swt, sesama, dan lingkungan hidup. Penghayatan puasa di bulan Ramadhan bisa menjadi sarana menuju perbaikan pribadi-pribadi yang berdampak pada perbaikan mutu kehidupan pribadi maupun bersama. Tujuan puasa adalah melepaskan diri dari belenggu kekuasaan dosa dan membebaskan akal budi dari kungkungannya yang mengikat pada materi atau godaan setan.

Maka dalam batasan-batasan tertentu, segala bentuk kekuatan dari luar (setan) yang membelenggu kebebasan manusia harus segera dipatahkan. Kebebasan merupakan tema terpenting dari puasa. Menciptakan banyak peluang bagi manusia untuk menentukan jalan hidupnya, mengembangkan potensi dan memilih masa depannya sendiri, tanpa terbelenggu oleh kodrat atau ketakutan terhadap murka Tuhan.

Oleh karenanya puasa dimaknai sebagai sebuah tindakan menahan lapar dan haus itu hanya sebagian kecil dari makna puasa. Makna puasa sesungguhnya, kita diajak untuk merasakan dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain. Karena itu hasil dari puasa adalah muncul aksi solidaritas kemanusiaan yang ditunjukkan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.
Penghayatan puasa yang demikian akan membawa perbaikan dan perubahan, tidak hanya bagi orang yang menjalankan puasa, tetapi lebih-lebih pada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Ramadhan merupakan bulan istimewa. Karena, pada bulan ini lah setiap Muslim berusaha menempa diri untuk menjadi insan yang terbaik melalui puasa dan amalan Ramadhan lainnya. Sifat insan terbaik tidak lain ialah takwa sebagai mana tujuan utama berpuasa (QS al- Baqarah: 183). Apa yang ditulis dalam Kitab suci Alquran tersebut merupakan salah satu amalan Ramadhan yang sungguh baik adalah bersikap pemurah atau dermawan bagi sesama, terutama bagi saudara kita yang sangat memerlukan.

Nabi Muhammmad adalah Rasulullah, adalah seorang yang paling pemurah, lebih-lebih pada Ramadhan (HR Bukhari dan Muslim). Sikap pemurah itu menumbuhkan empati dan rasa mau berbagi.
Dengan puasa Ramadhan, sikap ta'awunatau solidaritas sosial yang luhur itu merupakan hasil dari proses transendensi (hablu min Allah) yang membuahkan sifat kemanusiaan yang luhur (hablu min al-nas/imanen) yang bersifat serbautama. Dalam Islam, hablu min Allah itu harus tecermin dalam hablu min al-nas, begitu pula sebaliknya (QS Ali Imran: 112). Artinya, setiap Muslim yang melakukannya memang lahir dari panggilan iman dan ketauhidan yang kuat sehingga membentuk soli daritas sosial yang kuat, jernih, dan serbabaik.

Dalam membangun solidaritas kamanusiaan ini kita patut meneladani Nabi Muhammad Saw. Seluruh hidupnya didermakan kepada orang lain, pada orang miskin. Hidupnya senantiasa berusaha mengangkat harkat dan martabat kaum miskin dan tertindas. Sehingga mereka juga merasa bahwa dirinya juga mempunyai hak yang sama dengan yang lain.

Nabi Muhammad Saw adalah orang yang paling dermawan memberikan kebaikan. Beliau paling dermawan ketika di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan sampai apabila Jibril telah selesai menyampaikan wahyu.

Maka Nabi Muhammad Saw menyetorkan hafalan al-Qur’annya kepada Jibril. Apabila Jibril menemuinya maka beliau adalah orang yang paling ringan dalam berderma lebih daripada angin yang bertiup.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam). Orang lapar diberinya makanan. Orang yang tidak punya rumah diberinya tumpangan. Orang yang tersesat diajarinya pengajaran-pengajaran yang benar. Dana yang dikumpulkannya dari keringatnya sendiri. Bukan hasil pemerasan atau korupsi. Yang dilakukannya bukan sekadar pencitraan atau supaya dipuji orang. Sehingga pada akhirnya Nabi Muhammad Saw, dia diberi gelar Abu Al Masakin (bapaknya orang miskin).

Adapun amalannya bagi kita yang menyantuni orang miskin adalah sebagai berikut : Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw. Bersabda, ”Orang yang menyantuni kaum janda dan orang-orang miskin adalah setara dengan orang yang berjihad di jalan Allah”.

Aku mengira, Rasulullah saw. Juga bersabda, ”Dia juga seperti orang yang bertahajjud yang tidak merasa lelah dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (Muttafaq ’alaih)

Demikian besarnya solidaritas kemanusiaan Nabi Muhammad Saw kepada umatnya dan ini dibutikannya dengan tidak hanya memilih menjadi pemimpin yang membebaskan manusia dari perbudakan dan ketertindasan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan, melainkan juga membebaskan manusia menuju jalan Allah.

Gambaran perilaku kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad Saw sebagai manusia sempurna lebih transparan lagi. Manakala kehidupannya sangat sederhana, ditahannya lapar karena dia mengerti bahwa sebagian umatnya sering mengalami kelaparan juga.

Saat kita terpukau oleh kemegahan dunia, tatkala orang miskin berteriak menunggu pembelaan, kita sangat membutuhkan pemimpin semacam Nabi Muhammad Saw yang meletakkan keteladanannya di atas dasar solidaritas kemanusiaan yang agung dan mulia.

Karenanya, puasa tidak sekadar dijalankan dengan serba mewah, akan tetapi lebih sebagai sebuah membangun solidaritas/kedermawan antara sesama anggota masyarakat yang miskin sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw.
Masyarakat yang mampu, semestinya menunjukkan solidaritasnya dengan menumbukan jiwa dan semangat kedermawan sosial. Negara dan pemerintah pun harus serius untuk memerangi kemiskinan dengan menciptakan kebijakan proaktif untuk mengentaskan kemiskinan.

Pemimpin rakyat kecil bukan pemimpin elit. Pemimpin yang memilih hidup sederhana. Oleh karenanya, Puasa didasari pada gerakan kebangkitan solidaritas humanisme seluruh umat yang mampu membahagiakan kelompok-kelompok kaum miskin. Selamat berpuasa semoga Allah swt, mendampingi kita sekalian.

* Penulis tinggal di Yogyakarta

Editor: Odorikus


Berita Terkait

Komentar