Membasmi Kebohongan Berantai

Jumat, 08 November 2019 | 01:20 WIB
Share Tweet Share

Ilustrasi

 Oleh: Maksimus Ramses Lalongkoe

(Pengamat Politik, Dosen Universitas Dian Nusantara dan Universitas Mercu Buana-Jakarta)

 

            MENYEBARLUASKAN kabar bohong atau informasi palsu atau yang fenomenal disebut hoaks (hoax), oleh masyarakat luas saat ini, seolah tak memiliki rasa beban dan rasa bersalah dalam hati. Dengan mudah dan gampangnya kabar-kabar palsu itu disebarkan secara berantai menggunakan sarana media-media sosial. Korbannya pun tak hanya kelompok masyarakat menengah ke bawah tapi masyarakat kelas atas termasuk orang-orang berpendidikan menjadi korban pesan-pesan hoaks ini. Tulisan-tulisan yang membahas tentang hoaks dan dampak buruknya sudah sangat banyak kita temukan diberbagai media, baik media minstream (arus utama) maupun media sosial (sosmed). Namun, tetap saja tak mengurungkan niat seseorang atau bahkan sekelompok orang untuk terus menerus mawarnai ruang publik dengan hiasan informasi-informasi bohong yang tentunya bertuan.

Lalu apa itu hoaks? hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran (Silverman, 2015). Pandangan Silverman ini dipertegas pendapat Werme (2016) yang mengatakan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Aksi kekerasan, keributan, pertikaian, tawuran, kerusuhan, dan kejadian kriminal lainnya di tengah masyarakat belakangan ini hingga menelan korban jiwa, salah satu faktor penyumbangnya karena dipicu kabar-kabar bohong yang sengaja diedarkan secara masif melalui penyampaian secara berantai.    

              Masih hangat dalam ingatan kita, kerusuhan di asrama mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu, yang menyulut amarah warga Papua hingga terjadinya kerusuhan di sejumlah tempat di Papua, bermula dari penyebaran berita bohong oleh oknum-oknum tertentu yang sengaja mengcaukan kadamaian di bumi nusantara ini. Kondisi di bumi Cenderawasi belum sepenuhnya pulih, tiba-tiba kabar bohong kembali menyelimuti warga Wamena. Dengan mudah dan gampangnya warga memercayai kabar bohong seorang guru mengeluarkan kata-kata rasisme di sekolah, hingga memicu terjadinya kerusuhan. Korbannyapun tak sedikit baik korban jiwa maupun korban materi, termasuk terguncangnya psikologis masyarakat akibat kabar hoaks itu.

Monster Menakutkan

Hoaks hanya-lah sebuah kata biasa. Namun hoaks bisa berubah wujud menjadi monster yang bisa menakutkan manusia. Bila monster diartikan, makhluk yang bentuk atau rupanya sangat menyimpang dari yang biasa atau bisa juga makhluk yang berukuran raksasa, maka hokas ini bisa menjadi makhluk rasasa itu yang sesewaktu dapat menerkam jiwa setiap orang.

Mengingat hoaks bagai monster, tak heran beberapa kali Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, membatasi penggunaan media sosial dan aplikasi percakapan bagi masyarakat Indonesia khususnya saat terjadi peristiwa kerusuhan seperti kerusuhan 22 Mei 2019, peristiwa di Papua dan sejumlah kejadian lainnya yang bisa menimbulkan konflik meluas akibat penyebaran berita bohong secara masif dan sistematis oleh pengguna media sosial.

Langkah atau sikap yang dilakukan Kominfo tidak saja ingin membatasi penyebaran informasi bohong, tapi bisa jadi untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya penggunaan fasilitas media sosial untuk tujuan positif baik untuk diri sendiri maupun untuk kebaikan bangsa dan negara. Tak hanya sampai di situ, pembatasan penggunaan medsos ini juga bagian dari proses penyelamatan terhadap negara dalam rangka menjaga stabilitas keamanan. Sebab, kalau terjadi kekacuan di mana-mana, maka aktivitas masyarakat lumpuh dan perekonomian pun hancur. Dalam kondisi ini negara berperan aktif menjaga stabilitas yang kondusif.

Kita menyadari, langit Indonesia akhir-akhir ini digempur dan kepung dengan beragam berita hoaks. Kabar hoaks bagai gelombang tsunami yang menghempas ketenangan dan kedamaian masyarakat. Bila ilmuwan meyakini kabar hoaks merupakan rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan dan sengaja menyesatkan orang dengan tujuan agenda politik tertentu, maka kabar hoaks memiliki sutradara yang merancang narasi-narasi bohong hingga masyarakat luas dengan mudah memercayainya sebagai suatu kebenaran meskipun itu adalah kebohongan.

Kebohongan yang sengaja diciptakan seseorang atau sekelompok orang bisa menjadi kebohongan kolektif karena kebohongan itu diyakini sebagai suatu kebenaran. Apalagi kalau kebohongan itu disampaikan oleh orang-orang yang memiliki status sosial di tengah masyarakat, apakah dia tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda maupun tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas). Kedamaian kehidupan masyarakat disuatu daerah-pun saat ini, tidak bisa dipandang sebagai kedamaian kekal dan abadi, karena monster hoaks terus bergentayangan menyelimuti setiap manusia. Kerusuhan di Wamena beberapa waktu akibat ulah kabar hoaks, tidak ada yang bisa memprediksi sebelumnya. Peristiwa itu datang secara tiba-tiba dan pihak-pihak yang ingin memperkeruh suasana dengan mudahnya menyelip masuk dalam kerusuhan.

Kemajuan teknologi yang berkembang pesat, seharusnya menjadi kebanggaan bagi setiap manusia, karena segala-galanya dengan mudah bisa diakses. Namun justeru kemajuan teknologi ini dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk memuluskan aksi kejahatannya. Para pelaku kejatahan sangat tahu bagaimana merumuskan dan menarasikan isu-isu sensitif seperti isu suku, agama, ras, dan antar golongan yang memudahkan masyarakat berempati karena merasa dan mengaggap bagian dari dirinya sendiri.

Monster hoaks sudah banyak menelan korban jiwa, kerugian materi dan gangguan psikologis masyarakat. Pertanyaan kritisnya, samapai kapan kita menjadi ‘bodoh’ dalam memercayai berita bohong yang telah merenggut nyawa kita?     

Memperkuat Daya Filter

Setiap kita bisa menjadi sasaran hoaks dan sekaligus bisa menjadi korban dari hoaks itu. Dampak hoaks tak hanya orang-orang yang mengalami keterbatasan pengetahuan, tapi orang-orang berpengatahuan bisa menjadi korban hoaks, karena rendahnya daya filter terhadap segala informasi yang masuk. Saat ini media sosial memiliki peranan penting di berbagai bidang kehidupan. Apa yang terjadi di belahan dunia, saat itu juga di belahan dunia lain sudah mengetahuinya. Peribahasa dunia tak selebar daun Kelor dengan sendirinya tak berlaku dalam keadaan dunia saat ini, sebab dunia kini hanya selebar daun Kelor akibat kemajuan dan perkembangan teknologi yang begitu pesat dari waktu ke waktu.

Sesuai hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 lalu, pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta orang atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta orang atau sekitar 48% dari populasi. Fakta ini tentunya membanggakan, karena masyarakat Indonesia sudah melek dengan teknologi baik masyarakat di perkotaan maupun di pedesaan. Namun fakta ini juga telah menjadi ancaman bagi masyarakat sendiri, karena masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam memfilter segala informasi yang masuk, sehingga dengan mudahnya cepat memercayai suatu kabar yang belum tentu pasti kebenarannya.

Kecepatan media sosial baik itu, facebook, twitter, Instagram, whatsapp, telegram, dan media sosial lainnya dalam menyebar luaskan informasi harus diimbangi dengan daya filter yang kuat agar tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi untuk melakukan suatu kejahatan terhadap kemanusiaan. Upaya melakukan saring informasi sebelum di sharing merupakan cara tepat masyarakat cerdas dalam menyikapi setiap informasi yang beredar. Setiap orang yang menerima informasi terlebih dahulu dilakukan pengecekan tentang kebenarannya. Proses pengecekan merupakan bagian dari validasi suatu informasi sehingga bila informasi itu palsu, maka penerima informasi bisa menyampaikan kepada pengirim bahwa informasi itu adalah bohong atau tidak benar.  

Publik Indonesia masih ingat saat memasuki awal tahun 2019 lalu, masyarakat dihebohkan dan digegerkan dengan informasi tujuh kontainer berisi surat suara sudah dicoblos. Kabar itu merupakan hoaks hingga sejumlah orang berhadapan dengan hukum. Korban-korban hoaks di Indonesia sudah sangat banyak. Harusnya kejadian-kejadian tersebut menjadi catatan dan pelajaran penting bagi setiap masyarakat.

Pemerintah melalui Kominfo telah berupaya maksimal memberikan edukasi kepada masyarakat luas agar lebih hati-hati dan lebih cerdas dalam menggunakan media sosial. Kehadiran media sosial harus diisi dengan narasi-narasi positif dari pada diisi dengan konten-konten yang berpotensi memecah belah antar sesama. Peran penyaringan dalam membendung penyebaran berita hoaks sangat penting dewasa ini. Selain upaya pemerintah, berbagai pihak termasuk lembaga-pembaga pendidikan harus turut serta proaktif dalam memberikan pemahaman terhadap bahaya monster hoaks bagi masyarakat.  

Sejumlah kasus kekerasan yang bermula dari kabar bohong segera dihentikan. Kebohongan berantai telah melakui hati masyarakat kita. Tugas kita bersama terutama kaum terpelajar dan kaum terdidik khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), memberikan edukasi kepada masyarakat luas agar setiap infomasi, kabar, atau berita yang beredar jangan mudah percaya begitu saja akan tetapi harus dicek kebenarannya sebelum diterukan kepada keluarga, teman, atau ke pihak lainnya. Proses penyaringan ini sangat penting, agar kita terhindar dari penipuan yang sengaja dilakukan orang-orang yang ingin merusak kedamaian, apalagi informasi itu berkaitan dengan hal-hal sensitif seperti, menyangkut suku, agama, ras, dan antar golongan. Membasmi kebohongan berantai secara kolektif sama halnya kita berupaya menyelamatkan negerasi dan menyelamatkan, NTT dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

(Opini ini telah dipublikasi Harian Timor Express-Jawa Pos Group edisi 7 November 2019)

Editor: Mus


Berita Terkait

Komentar