Guru adalah Kita Semua

Kamis, 03 Agustus 2017 | 12:18 WIB
Share Tweet Share

Ruang kelas di SMP Negwri 2 Mbeliling yang disekat bagi dua karena keterbatasan ruangan.

Oleh: Yohanes Don Bosco Pampung

SMP Negeri 2 Mbeliling-Roe, tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumya. Kali ini, SMP Negeri 2 Mbeliling merayakan hari ulang tahun yang ketujuh, terhitung sejak tanggal 03 Agustus 2010, berdasarkan SK Pendirian dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dengan nomor 13/KEP/HK/2010.

Sadar atau tidak, hampir pasti masing-masing kita memiliki catatan refleksi seputar perjalanan hidup dan aneka flashback sepanjang tahun yang telah lewat, teristimewa sepanjang tujuh tahun berlalu. Sebab hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi. Manusia hanya pantas disebut manusia jika ia mampu bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan kehidupannya.

Pertanggungjawaban kehidupan itu sesungguhnya adalah proses otonom dari setiap manusia entah sebagai guru, petani, pejabat, orangtua, mahasiswa, pelajar maupun anak-anak dan aneka profesi lainnya. Oleh karena itu, setiap perbuatan manusia, tidak hanya ditentukan oleh status sosialnya, tetapi lebih substansial adalah karena ia sesungguhnya adalah manusia yang bertanggung jawab.

Pertanggungjawaban itu tentu kepada diri kita masing-masing. Sebab dalam diri kita, yaitu dengan mendengar suara hati kita masing-masing, di sana sesungguhnya Allah hadir yang selalu mengatur roda kehidupan kita ini. Tentu ada banyak hal yang kita alami: suka-duka, susah dan senang, sukses-gagal, onak dan duri, semuanya datang silih berganti.

Hari ulang tahun merupakan moment yang amat bermakna dalam setiap pergumulan hidup kita. Syukur kepada Tuhan atas pelbagai anugerah dan rahmat yang telah kita terima sepanjang tujuh tahun yang berlalu. Syukuran tahunan ini mengingatkan kita pada masa kanak-kanak.

Dalam konteks psikologi pertumbuhan manusia, usia 7 tahun adalah suatu masa seorang anak sedang dan akan belajar mengenal dunia luarnya. Dunia setelah ia selesai menyusui pada sang ibu dan siap masuk sekolah, ke lingkungan yang baru, ada bersama teman-teman sebaya,dan lain-lain. Pada masa ini, anak-anak memiliki ketergantungan pada sang ibu. Dengan kata lain masa awal masuk sekolah ini (Usia 7 Tahun) adalah sebuah masa emas bagi pertumbuhan/perkembangan seorang anak manusia.

Dalam nada syukur yang sama, Lembaga Pendidikan SMP Negeri 2 Mbeliling kembali merenungkan momen Ulang tahunnya yang Ketujuh ini. Lembaga ini sadar bahwa sepanjang usia tujuh tahun ini, ada banyak pihak yang telah memberikan bantuannya dengan caranya masing-masing.

Sekilas SMP Negeri 2 Mbeliling-Roe

SMP Negeri 2 Mbeliling terletak di Jalan Trans Flores, KM 31- Roe, Desa Cunca Lolos-Kecamatan Mbeliling-Kabupaten Manggarai Barat. Sekolah ini berbatasan langsung dengan kawasan hutan Mbeliling, sebuah wilayah yang menjadi salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Manggarai Barat. Letaknya pas di pelataran hutan Mbeliling, dengan jarak 31 kilometer dari kota pariwisata, Labuan Bajo. Daerah ini (Roe dan sekitarnya) sering disebut kawasan Puncak.

Lembaga ini mendapat Izinan resmi dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui SK Pendirian Operasional Sekolah dengan No: 133/ KEP/HK/ 2010 pada 03 Agustus 2010. Pada hari ini, 03 Agustus 2017, lembaga ini berusia 7 tahun dimana Perayaan Acara Syukurnya dirayakan pada hari Kamis, 03 Agustus 2017. Keluarga Besar SMP Negeri 2 Mbeliling merayakan Hari Ulang tahun ini dengan penuh kekeluargaan. Menurut Paulinus Rodi, S.Pd (Kepala Sekolah),  “…momen syukuran HUT Ketujuh ini hendak menghidupkan kembali sekolah sebagai pusat kebudayaan, yang akhir-akhir ini hampir merosot."

Budaya-budaya itu antara lain; semangat gotong royong, saling peduli, kerja sama dan solider, sekolah yang kondusif dan damai, sekolah yang menyenangkan, sekolah tanpa kekerasan terhadap anak.

Sebagai sebuah sekolah yang berada di kawasan pariwisata, sekolah ini menjadikan kegiatan ekowisata sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Pembelajaran berbasis lingkungan tentunya merupakan  conditio sine Qua non sebagai efek langsung dari eksistensinya yang berdampingan dengan kawasan hutan Mbeliling. Sebuah kawasan yang terkenal dengan burung endemik Flores.

Selain kegiatan ekstrakurikuler yang dijalankan pada sekolah pada umumnya, SMP Negeri 2 Mbeliling tetap memupuk bakat dan minat siswa dalam seni dan budaya. Hal ini bertujuan agar kearifan lokal tetap berakar dalam diri siswa. Hal ini senada dengan pernyataan Ketua Komite SMPN 2 Mbeliling (Bpk Fransiskus Hasa), bahwa “Pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak termasuk para orangtua/ wali di rumah dengan terus memupuk bakat dan minat siswa dalam pengetahuan budaya lokal.”

Betapa tidak, SMP Negeri 2 Mbeliling–Roe letaknya persis berada di titik sentral obyek wisata. Di sana ada Kawasan hutan Mbeliling dan Puncak Mbeliling, Air Terjun Cunca Rami, Air terjun Cunca Wulang dan danau Sano Nggoang. Keempat obyek wisata tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing dan SMP Negeri 2 Mbeliling menjadi salah satu pusat informasi tentang obyek-obyek wisata tersebut. Hal ini menjadi motivasi bagi peserta didik untuk terus bertekun dalam berbudaya dan berbahasa Inggris.

Anak Asuh Harus Nyaman dan Mandiri

Acara HUT Ke- 7 SMP Negeri 2 Mbeliling diisi dengan berbagai kegiatan olahraga dan kreasi seni-budaya. Kegiatan pertandingan antar kelas ini dilaksanakan selama satu pekan. Dan pada pecan sebelumnya SMP Negeri 2 Mbeliling juga turut ambil bagian dalam dalam pentas budaya caci di desa Cunca Lolos.

Semua kegiatan ini hendak menekankan pentingnya menonjolkan aspek keterampilan dalam kehidupan dari setiap peserta didik. Di pihak lain semua bakat dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik hendaknya membuat peserta didik merasa nyaman, betah dan mandiri di sekolah. Hal ini juga hendak menepis pelbagai isu domestic violence yang terus mewaranai kehidupan manusia dewasa ini.

Itu berarti anak-anak yang kita asuh semestinya merasa aman dalam genggaman dan bimbingan kita serta memperhatikan aspek keterampilan sang anak. Kita tidak boleh mendikte anak-anak yang kita asuh.

Pada titik ini, kita teringat pada kata-kata Penyair Libanon itu-Kahlil Gibran dalam sederet syairnya:

”Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah anak-anak Kehidupan yang merindukan dirinya sendiri. Mereka datang melalui engkau tetapi tidak berasal dari engkau. Dan meski mereka hidup bersamamu, namun mereka bukan milikmu. Engkau boleh beri mereka hatimu, tetapi tidak pikiranmu. Karena mereka mempunyai pikiran sendiri. Engkau boleh beri rumah pada raganya, tetapi tidak pada jiwanya, Karena jiwanya tinggal di rumah esok hari, yang tak bisa engkau kunjungi, bahkan dalam mimpimu sekalipun. Engkau boleh coba menyerupai mereka, tetapi jangan coba paksa mereka menyerupai engkau. Karena kehidupan ini bergerak tidak ke belakang …tidak juga berdiam di masa lampau. Engkau adalah busur yang melesatkan anak-anakmu yang bagai anak panah hidup itu ke depan…”

Syair yang diambil dari The Prophet ini sungguh melukiskan independensi, kemandirian seorang anak.

SMP Negeri 2 Mbeliling–Roe ini, lahir dari keprihatinan bersama akan pentingya pendekatan pelayanan pendidikan di Kawasan Seputaran Mbeliling. Momen Ulang Tahun mengingatkan kita akan perjuangan para perintis pada moment apa saja, secara istimewa dalam dunia pendidikan.

Sebuah gugatan yang harus dijalankan oleh kita sebagai seorang guru ataupun siapa saja (pengasuh anak-anak-baca), bahwa kita harus mampu mengasuh anak-anak yang dititipkan kepada kita, kapan dan dimana saja. Sebab sekolah adalah tempat asuh..almamater-ibu yang mengasuh, maka sepantasnya kita harus menjadi atau layaknya seorang “ibu”.

Berkaitan dengan hal ini, kita tidak boleh hanya mengagungkan masa lalu itu, karena kita sudah dituntut untuk menjadi pengasuh yang sesungguhnya. Our future is now - masa depan kita adalah sekarang. Sekarang saatnya untuk menentukan masa depan lembaga pendidikan menjadi cerah, bermutu dan unggul. Sekali lagi waktu menjadi dasar pergumulan utama…yang penting MULAI.

Usia SMPN 2 Mbeliling sudah tujuh tahun dan minat masyarakat untuk memilih Lembaga ini sebagai tempat sekolah anaknya terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini menjadi kebanggaan, namun di sisi lain menjadi keprihatinan.

Salah satu hal yang menjadi keprihatianan adalah kurangnya rombongan belajar. Solusi yang dibuat Pihak Sekolah adalah dengan memberi sekat (membagi) ruang kelas menjadi dua bagian. Hal ini tentu sangat tidak efektif dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Kelas. Mudah-mudahan pihak Pemerintah tetap memperhatikan sarana dan prasarana sekolah-sekolah yang sudah dibangun selama ini.

Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pihak pemerintah yang sudah membuka sekolah di berbagai daerah dengan tujuan mulia, “mendekatkan pelayanan dalam bidang pendidikan.” Namun, bagaimana setelah dibuka dan diresmikan? Apakah hanya cukup pada satu atau dua buah gedung?

Benar bahwa semuanya mesti bertahap. Mudah-mudahan tahap demi tahap itu tidak boleh berlangsung lama atau bahkan tidak sama sekali. Ini adalah bagian kecil dari kegelisahan di dunia pendidikan. Masih banyak deret atau daftar lainnya. Misalnya nasib para guru yang mengabdi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana serta aneka kegelisahan lainnya. Belum lagi kegelisahan kita semua terhadap kinerja guru dan lain sebagainya.

Mudah- mudahan dari waktu ke waktu kita semua tetap baku peduli terhadap dunia pendidikan sebagaimana yang diwariskan oleh bapak tokoh Pendidikan Nasional (K.H. Dewantara) bahwa sekolah adalah segala tempat dan guru adalah semua orang. Hal ini tentu tidak bermaksud untuk meremehkan pendidikan formal. Semuanya ini bertujuan agar kita semua bertanggung jawab terhadap dunia pendidikan.

Akhirnya, semoga momen HUT SMP Negeri 2 Mbeliling) ini menggugah kita semua, untuk kembali bergelut dalam seruan dan refleksi bersama, “apa yang saya buat agar lembaga pendidikan kita bermutu?” Apa sumbangsih saya terhadap lembaga pendidikan, ataukah saya hanya bangga pada masa lalu yang indah dan bersejarah itu? Bangga pada lembaga, tempat mengabdi saya sebelumnya? Atau saya hanya bermental easy going, santai saja yang penting dapat gaji lancar, hadir tepat waktu?

Bagi para pelajar, apakah saya hanya menganggab lembaga pendidikan formal, sebagai singgahan sementara? Saatnya kita berbenah diri dan mengambil tekad sekarang dan di sini. Non scholae, sed vitae discimus (Kita belajar bukan untuk sekolah/ujian, melainkan untuk hidup). Saya bangga menjadi bagian dari SMP Negeri 2 Mbeliling.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat berbahagia buat SMP Negeri 2 Mbeliling- Roe. 

MULTOS ANNOS.

-------------------

* Penulis,  Guru di SMP Negeri 2 Mbeliling-Roe, Manggarai Barat. Tinggal di Roe, Desa Cunca Lolos-Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat.(Email: yohanesdonboskopampung@gmail.com)

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar