AA Maramis dan Pertanyaan Rakyat untuk Calon Pemimpin

Minggu, 30 Juli 2017 | 07:30 WIB
Share Tweet Share

Guy Fawkes Mask. Foto: critical-theory.com

"Tuan Datang dari mana?"
Kalimat di atas diucapkan oleh AA Maramis, salah seorang pahlawan nasional. Artikel Tempo pada 17 Juli 1976 menulis, pertanyaan tersebut diajukan Maramis beberapa saat setelah  duduk di ruangan Bina Graha, kantor kepresidenan pemerintahan Orde Baru. 
“Tuan datang dari mana?” tanya mantan Menteri Luar Negeri Indonesia  itu kepada Presiden Soeharto.

Itu bukan pertanyaan biasa, bukan sapaan retoris yang lazim diterima seorang pemimpin negara dari tamunya. Itu bukan juga pertanyaan basa-basi, suatu simbol keramahtamahan khas Nusantara, sebagai pengantar menuju dialog-diskusi yang lebih intens. 
Kalimat tersebut merupakan pertanyaan eksistensial tentang jatidiri seseorang. Suatu pernyataan yang menilisik dalam secara eksplisit. Sederhannya, Maramis hendak berkata kepada mantan Pangkostrad itu, Anda ini Siapa?

Luar biasa. Praktis sudah satu dekade Soeharto menjadi pemimpin RI, jika dihitung dari Supersemar 1966. Tapi, eksistensinya masih menjadi pertanyaan bagi seorang Maramis. Bagi pribadi dengan dominasi yang kuat seperti Soeharto, pertanyaan pembuka Maramis jelas setajam hujaman belati.

Nama Maramis mungkin tidak asing di telinga Soeharto. Itulah alasannya mengapa pemimpin Orde Baru tersebut menyempatkan diri beraudiensi beberapa saat setelah Maramis mudik ke Tanah Air. Maramis adalah seorang pejuang kemerdekaan, anggota BPUPKI, dan salah seorang perumus Piagam Jakarta. Selain Menlu, dia pernah menjabat Menteri Ekonomi dan menjadi Dubes RI di sejumlah negara pada pemerintahan Soekarno. Setelah masa jabatannya berakhir, Maramis tinggal di Swiss selama hampir 20 tahun.

Lantas, apakah lantaran lama bermukim di negeri orang, tokoh kelahiran Manado itu tidak mengenal Soeharto? Sebenarnya bukan itu esensi pertanyaan Maramis.  Dia merupakan rekan seperjuangan Soekarno-Hatta,Wahid Hasjim, Achmad Subardjo, Muhammad Yamin, Teuku Muhammad Hassan, Kasman Singodimedjo, Abikoesno Tjokrosoejoso, Sjafruddin Prawiranegara, dan lain-lain. Peraih gelar master Ilmu Hukum dari Universitas Leiden, Belanda itu adalah orang pertama yang membubuhkan tanda tangan di mata uang pertama negeri ini, Oeang Republik Indonesia (ORI). Jika ingin ditambahkan lagi, dia adalah adik dari tokoh perempuan yang kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional: Maria Walanda Maramis. Rekam jejaknya demikian jelas. Itulah inti pertanyaannya.

Bagi Maramis, pelanjut kepemimpinan Soekarno seharusnya salah seorang tokoh muda penggerak kemerdekaan, salah seorang intelektual muda yang merumuskan dasar-dasar negara, salah satu dari lingkaran teman-temannya. Mereka memiliki rekam jejak perjuangan dan intelektualitas yang jelas. Di luar lingkaran itu adalah figur yang tergolong berasal dari dunia antah-berantah. Faktanya, yang ditemui Maramis di Bina Graha, pemimpin negara yang berada di hadapannya ternyata bukan salah satu dari mereka. “Tuan datang dari mana?” tanya Maramis kepada Presiden Soeharto, yang dikutip YB Mangunwijaya dalam artikel berujung “Anak yang Hilang”.

Siapakah Tuan?

Di era globalisasi dunia seakan bergerak lebih dinamis. Modernitas dan dinamikanya menghadirkan perubahan yang mengalir ekspres, termasuk pada mekanisme sistem pemerintahan yang bernama demokrasi.  Pemerintahan bisa berganti cepat, demikian pula sosok-sosok pemimpin pada level nasional maupun lokal. 

Saking cepatnya, publik acapkali kebingungan saat datangnya siklus lima tahunan dalam praktek demokrasi RI. Serombongan orang dengan tampang asing dari dunia antah-berantah bergantian muncul dalam wajah dewa penolong, salesman, hingga demagog. Mereka memiliki kemiripan dalam ciri-ciri eksistensial. Datang tanpa diundang, pulang pun tanpa pamit. Hadir tanpa orang tahu asal-muasalnya dan pergi pun tanpa meninggalkan jejak.

Tujuan kedatangan mereka serupa: mempromosikan apapun yang mengatributkan kebaikan. Wujudnya bisa dengan bantuan material seorang “dewa penolong”, bisa dengan promosi program-program manis propublik, dan bisa pula dalam bentuk orasi-orasi bertabur janji laiknya demagog. Semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi yang terpilih sebagai wakil publik, penyambung suara rakyat, penyalur aspirasi massa atau menjadi orang yang berdiri di depan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Benar kata Matt Flinders dalam What Kind of Democracy Is This? Politics in The Changing World. Menurut Flinders, sekarang adalah era pencitraan. Pemimpin dan rezim muncul sebagai hasil pencitraan dan turun atau jatuh juga sebagai akibat pencitraan. 

Pencitraan dalam konteks manusia adalah persepsi yang timbul pada orang lain atas diri seseorang. Maka pencitraan bisa saja tidak sesuai dengan eksistensi sebenarnya. Dengan kata lain, pencitraan bisa saja merupakan rekayasa. 

Dewa penolong, salesman, maupun demagog adalah beberapa di antara jubah temporer yang dipakai sebagai selubung atau topeng citra.  Yang namanya selubung dan topeng tentu tidak menampakan orisinalitas. Jika disebut temporer maka tampilan tersebut hanya bersifat sementara. 

Politisi atau calon kepala daerah bisa dikatakan sekadar memakai topeng dalam periode tertentu (saat kampanye) untuk memenangkan pilihan publik bila tidak mampu menjelaskan secara jernih pertanyaan eksistensial tentang diri dan rekam jejak masing-masing. Maka, kepada merekalah masyarakat layak bertanya, “Tuan datang dari mana?” Tidak hanya itu. 

Di era yang lebih vulgar bin transparan ini, pertanyaan simbolis era lama seringkali tak mempan menyadarkan orang lain untuk merefleksikan jatidirinya. Untuk itulah kepada semua calon kepala daerah, semua figur yang ingin menjadi pemimpin publik layak diajukan pertanyaan yang lebih mendasar, pertanyaan yang lebih eksistensial.
 “Anda siapa? Apa yang telah Anda lakukan sebagai rujukan dan apa taruhan Anda untuk menjadi pemimpin atau wakil kami?

Penulis

Ali Sukandar
Penulis

Editor: Iman Febri


Berita Terkait

Komentar