Kejahatan Kemanusiaan dan Perdamaian Negeri-negeri Asia

Jumat, 30 Juni 2017 | 10:15 WIB
Share Tweet Share

Aksi menolak kekerasan atas nama agama [foto: istimewa]

Kejahatan kemanusiaan berlatar konflik agama yang terjadi ini sudah masuk dalam kategori pelanggaran HAM Dunia, akan tetapi sampai saat ini belum ada penyelesaian secara utuh dan adil di dunia internasional.

***

Oleh: Sarief Saefulloh*

Kemanusiaan bukanlah kalimat baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak banyak negara-negara di Asia melupakan hal tersebut karena ambisi kekuasaan dan mungkin ideologi keagamaan. Pelanggaran kemanusiaan seolah-olah dianggap hal wajar terjadi pada setiap konflik di berbagi negara, padahal sejatinya kemanusiaan menjadi filosofi gerakan keutuhan dan kemajuan.

Fanatisme kegamaan di Asia, khususnya Asia Tenggara, cukup tinggi. Terlihat dengan maraknya konflik yang berujung perang saudara, seperti di Thailand Selatan-Pattani diperkirakan sudah menewaskan sekitar 6.500 orang,  baik di kalangan aparat keamanan Thailand maupun warga sipil (bbc.id); Filipina terhitung sejak 1970, total serangan teror  mencapai 4.860 kasus (tirto.id) ditambah 58 tentara tewas dan 20 warga sipil, dan ratusan militan tewas dalam pertempuran di Marawi 2017 (kompas.com); Rohingnya-Myanmar korban tewas mencapai 1000 lebih (kbk.online).

Rinciannya mencakup penyergapan bersejata, pengeboman, serangan terhadap infrastruktur, pembunuhan dan penculikan. Apa yang terjadi di Filipina ini jauh melampaui Thailand (3.074 kasus), Indonesia (686 kasus), Myanmar (315 kasus), dan Kamboja (258 kasus) dan mungkin bertambah hingga 2017 (tirto.id).

Terlihat jelas konflik yang terjadi tidak sedikit memakan korban dan permusuhan yang tentunya mempengaruhi stabilitas nasional maupun internasional negara tersebut, baik politik maupun ekonomi. Dan umumnya dialami masyarakat Asia. Isu yang terangkat ke permukaan pun sangat sensitif, yaitu agama.  Kejahatan kemanusiaan berlatar konflik agama yang terjadi ini sudah masuk dalam kategori pelanggaran HAM Dunia, akan tetapi sampai saat ini belum ada penyelesaian secara utuh dan adil di dunia internasional. 

Fenomena di atas menjadi populer di kalangan umat beragama. Bagaimana tidak, agama yang seyogyanya menjadi pedoman hidup damai, kini dijadikan alat penguat kekuasaan walau hal tersebut ditutupi atas dasar pelanggaran hukum dan sparatisme kelompok tertentu.

Keragaman dalam beragama adalah fitrah peradaban manusia yang hidup melintas zaman dan perubahan. Keberadaannya tidak usah dipertentangkan apalagi dikotori dengan rekayasa politik yang memecah belah persaudaraan.

Hidup dalam perbedaan merupakan kemuliaan setiap manusia dan ajaran setiap agama. Tidak ada pemilik kebenaran selain Tuhan, dan manusia hanya berikhtiar, bukan saling menebar kebenciaan. Maka amatlah penting kemanusiaan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara menebar perilaku baik, menegakkan hukum secara adil, memberikan ruang kebebasan dan kemerdekaan individu ataupun kelompok.

Juga perlu diingat bahwasanya kerusakan kemanusiaan dapat dihindari dengan toleransi dan kasih sayang, melepas segala kasta sosial, politik, agama maupun ekonomi, menciptakan perdamaian, persatuan dan tolerasi, bukan kerakusaan dan fanatisme.

Untuk itu, sebagai pemuda yang peduli kemanusiaan berharap konflik tersebut dapat diselesaikan secara adil dan terbuka. Ini tanggung jawab kita semua sebagai warga Asia. Kita mengecam segala bentuk ketidakadilan dan kejahatan kemanusiaan yang ditumbuhkan.***

*Penulis, Wakil President Asean Muslim Students Association (AMSA)

____________
Redaksi indonesiakoran.com menerima tulisan berupa opini  500-800 kata. Yang berminat silakan dikirim ke email indo.koran2017@gmail.com atau WA 082112073604 (yon) atau 081226370478 (Aven)


Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar