ISIS Datanglah, Indonesia Surga Buat Kalian

Jumat, 26 Mei 2017 | 14:05 WIB
Share Tweet Share

ISIS [Ist]

Bukan tanpa alasan para pendiri republik ini dulu bersepakat mendasarkan negeri ini pada Pancasila. Bukan asal jadi pula mereka ambil konsep kesatuan sebagai bentuk negara ini.

Pancasila diambil dengan menghilangkan 7 kata di sila pertama versi panitia 9 sebagai dasar dari negara ini. Sebab, sadar negeri ini meski dihuni mayoritas muslim, namun di daerah-daerah tertentu populasi muslim malah sedikit.

Konsep kesatuan juga dipakai sebagai bentuk negara. Sebab, sadar konsep federal akan memudahkan bangsa luar untuk menghancurkan kita sebangsa dan setumpah darah bernama Indonesia ini.

Maka, bila ada kelompok yang mengatasnamakan agama Islam untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam di negeri ini, harusnya ditindak tegas oleh pemerintah, tidak cukup dengan membuat pernyataan pembubaran seperti dilakukan melalui Menkopolhukam Wiranto (8/5/2017) kemarin. Sebab, tegaknya syariat Islam itu tidak saja datang lewat perjuangan di jalur politik, namun yang seharusnya paling dihadang ialah lewat aksi atau tindakan intoleransi.

Lihat, berbagai peristiwa intoleransi seolah jadi menu biasa di negeri ini. Aksi penolakan beroperasinya beberapa bangunan ibadah agama minoritas di kantong mayoritas, penolakan terhadap figur politisi dari unsur nonmuslim tampil memimpin, juga bahkan penolakan melaksanakan ibadah agama, sudah menjadi pemandangan umum di negeri ini.

Ironisnya, pemerintah pusat hanya tampil ke media lalu umumkan pembubaran ormas religius radikal, HTI. Lalu setelahnya? Mengendap, tak ada tindak lanjut berarti.

FPI Rutin Beraksi Intoleran

Andaikata pemerintah punya mata, tidak berpura-pura tuli, dari antara kelompok intoleran berpanjikan agama ini yang paling mengemuka adalah Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Rizieq Shihab. Mereka, dalam beberapa tahun terakhir, rutin mempertontonkan brutalisme dalam menindak orang, golongan atau kaum yang tidak sepaham dengan mereka. Mulai dari urusan menertibkan warung-warung yang buka saat bulan puasa hingga yang paling fenomenal, mengoorganisasi Aksi-aksi Bela Islam yang berjilid-jilid kemarin terkait Ahok, konsisten dan profesional mereka laksanakan.

FPI dalam aksinya selalu mendasarkan tindakannya pada ajaran Islam. Padahal, bahkan mereka sendiri pun sadar bahwa di Indonesia ini tidak semuanya Islam dan semuanya dijamin oleh undang-undang terkait hak-haknya selaku Warga Negara Indonesia, entah hak menyatakan pendapat, hak hidup, bahkan hak berpolitik. Terus kenapa mesti intoleran? Belum lagi, kenapa mesti bar-bar dalam bertindak?

FPI-HTI Bersepakat Tegakkan Khilafah di Indonesia

Sebuah sumber terpercaya mengatakan bahwa FPI bertindak intoleran sebab mereka itu tak lain dari HTI, yakni organisasi yang secara nyata mengagendakan tegaknya kekhalifahan di Indonesia.

HTI, pada 2013 lalu bahkan secara tegas menyatakan hendak mengkhilaffahkan Indonesia pada saat kongres di Gelora Bung Karno (2/6/2013). Demokrasi yang dipakai di Indonesia selama ini mereka kecam dan hujat habis-habisan sebagai cara bernegara ala barat dan tidak islami.

Persepsi inilah yang mengabsolutkan bila di kemudian hari, Rizieq Shihab menghina Pancasila dengan menyebutnya sebagai pancagila. Anehnya, sampai sekarang pun pemerintah terkesan tidak serius dalam menyikapi aksi penghinaan yang dilakukan Riziek ini. Kalaupun sekarang Rizieq diuber, itu lebih disasarkan pada kasus asusilanya dengan sang selingkuhan, Firza Husein.

Sampai di sini, wajar apabila ada yang berkesimpulan bahwa negara ini tidak punya wibawa dalam bersikap terhadap aksi-aksi destruktif terhadap konsepnya sendiri, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para elit politik terlampau peduli pada keselamatan akan jabatan dan kedudukannya sampai hal vital dan fundamental terkait eksistensi negara cenderung diabaikan.

Patut merenung, bila NKRI bubar dan katakan khilaffah berdiri, memangnya Bali, Papua dan NTT akan masih sudi bersatu dengan republik ini? Daerah-daerah itu penduduknya mayoritas nonmuslim, lho. Ujung-ujungnya NKRI bisa bubar. Catat!

FPI-HTI Mendapat Simpati Luas di Indonesia

Akan halnya agenda khilaffah yang diusung HTI dan dieksekusi lewat tindakan-tindakan intoleran FPI, di sisi lain sepertinya mendapat simpati luas. Paling-paling yang bereaksi di negeri ini hanyalah oknum nasionalis dari unsur NU. Yang lainnya cenderung diam.

Buya Syafii dari unsur Muhammadiyah juga bersuara, namun seperti yang pernah beliau ucapkan sendiri dalam satu sesi wawancara dengan media, “Mereka telah meninggalkan saya”, yang ditujukannya kepada Muhammadiyah. Padahal dari dulu, baik NU maupun Muhammadiyah adalah dua organisasi Islam yang paling berpengaruh di negeri ini.

Meski bukan organisasi politik, kedua organisasi ini boleh dikata sebagai penjaga NKRI. Namun belakangan ini yang terlihat dari ucapan para tokohnya ke publik, sepertinya tinggal NU yang masih konsisten membela NKRI tetap tegak berdiri. So?

Indonesia akan Jadi Istana Nyaman Bagi ISIS Mendirikan Kekhalifahan Dunia

Hari ini, selang beberapa hari dari serangan bom yang merenggut 5 nyawa dan melukai belasan lainnya di Kampung Melayu, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu. “Pelaksana dari serangan terhadap polisi Indonesia di Jakarta adalah pejuang ISIS,” tulis pernyataan ISIS melalui kantor berita ISIS, Amaq, dan dilansir dari Reuters, Jumat (26/5).

ISIS, kita semua tahu, adalah kelompok bersenjata yang lahir di seputar konflik di Timur Tengah. Mereka mencita-citakan tegaknya kekhaliffahan dunia. Maka, bila di jazirah Arab mereka terdesak, masuk akal kalau mereka kini mengalihkan perhatiannya di Asia Tenggara.

Teror yang terjadi di Marawi, Filipina, dan yang baru terjadi di Kampung Melayu, yang telah tervalidasikan oleh pernyatan ISIS sendiri di atas, adalah pembenar bagi keyakinan ini.
Jika memang benar demikian adanya, rasa-rasanya mereka akan berjaya di sini.

Indonesia adalah surga bagi mereka. Pemerintah yang masih saja memble terhadap tindakan intoleransi FPI-HTI ditambah sedikitnya tokoh nasionalis dari kalangan muslim yang bereaksi keras terhadap aksi-aksi intoleransi dan antidemokrasi belakangan ini adalah jalan tol bagi masuknya ISIS menegakkan kekhaliffahan dunia. Ini risiko yang harus dibayar oleh pemerintah dan kita yang masih saja memilih ragu menindak pelaku intoleransi. Harus siap.

Editor: Yon L


Berita Terkait

Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Krisis Negarawan

Rabu, 24 Mei 2017

Komentar