Memaknai Tangisan Veronica Tan

Selasa, 23 Mei 2017 | 17:17 WIB
Share Tweet Share

Meski Tegar, Veronica Tan Tak Kuasa Membendung Tangis saat Membacakan Surat Ahok untuk Segenap Pendukungnya Hari Ini

“Ahok berulah lagi”, demikian kata seorang teman kemarin menanggapi aksi pembatalan upaya banding atas vonis yang telah diterima Ahok di tingkat PN Jakarta. Ucapannya itu meluncur karena emosi publik setanah air dipengaruhi Ahok sejak paruh akhir tahun lalu. Ada yang marah, ada yang kecewa, tapi tak sedikit pula yang dibuat bersuka-cita. Ahok benar-benar sukses memainkan emosi-emosi tersebut.

Namun dari sekian berita maupun ulasan bahkan opini-opini yang berkembang mengiringinya selama ini, belum ada satu pun yang melihat kesamaan kisah Ahok dengan Guru dan Teladannya dalam beriman, Yesus Kristus. Hemat saya, inilah alasan mengapa banyak yang terjebak lantas terkunci dalam larutan emosi entah sedih entah kubu yang gembira di seputaran kasus Ahok.

Kali ini saya mencoba berbeda pendekatan dalam memahami dinamika kasus Ahok.

Sebagaimana Yesus Kristus, Ahok adalah korban politisasi segelintir kaum yang terancam status kemapanannya, dan lainnya yang merugi akibat sepak terjang pria kelahiran Belitung 29 Juni 1966 ini. Sejak menjadi anggota DPR RI 2009-2014 hingga posisi sebagai Wagub dan kemudian naik menjadi gubernur DKI 2014-2017, ada banyak elit politisi dan juga cukong-cukong kotor yang terbakar oleh kebijakan-kebijakan populisnya. Ini memang tak lantas berarti Ahok sama persis dengan Tuhan dalam imannya, Yesus. Tetapi, baik Yesus maupun Ahok, di masa-masa akhir karir kepelayanannya masing-masing berhasil menohok dengan telak kaum mapan yang bergelimangan kasus. Sikap tegasnya terhadap kaum berkasus itu sukses menerbitkan harapan di benak khalayak yang umumnya disakiti hatinya oleh peragaan manuver-manuver politik politisi maupun mafia-mafia ekonomi demi menyedot seluruh sumber daya negeri ini demi kantung-kantung mereka yang sebenarnya memang sudah tebal-tebal.

Akhirnya kesamaan mereka mengaduk-aduk emosi publik pun mencapai klimaks ketika Yesus tetap disalibkan meski tidak terbukti bersalah dan Ahok dipenjara dengan nota pertimbangan hakim yang terkesan mengada-ada. Namun sebelum itu, pergulatan bathin hebat yang dialami Yesus saat di Taman Getsemani juga mirip dengan situasi kekalahan akibat kecurangan kampanye politis kubu lawan saat bertarung melawan Anies-Sandi menuju kursi gubernur DKI kali ke-2.

Yesus sempat tergoda hendak mengelakkan derita yang harus ditanggung-Nya kala itu. Ahok pun di titik dinyatakan kalah kontestasi, bisa jadi punya pemikiran untuk menghentikan perjuangannya menegakkan demokrasi yang sebenar-benarnya di negeri ini yakni kesamaan hak konstitusional yang lepas dari belenggu SARA untuk memimpin di ranah politis. Tapi tidak. Yesus tetap mengambil risiko itu. Ahok pun juga sama, dia rela mengambil risiko terima dipenjara guna memperlihatkan bobroknya sistem hukum di negeri ini yang protekanan massa ketimbang nalar hukum yang harusnya adil. Akibatnya jelas. Di ujung popularitas karir keduanya, mereka mengalami antitese yang memilukan: sama-sama terjerat hukum yang dipaksakan.

Batal Banding, Ahok Seperti Yesus yang Pasrah di Hadapan Otoritas Pilatus
Lebih lanjut, mengapa Ahok pantas dilihat seperti Yesus yang pasrah di hadapan keputusan Pilatus tatkala menyatakan mencabut upaya banding kemarin? Guna menjawabnya, marilah kita memahami makna perjuangan Ahok selama ini. Ahok, bila merupakan sosok ambisius menjadi penguasa seperti kebanyakan penguasa di negeri ini selama ini, jangankan upaya banding, bahkan kalau dia mau dia bisa melakukan hal hina seperti Riziek yang menolak panggilan kepolisian untuk diperiksa atas kasus hukum yang dituduhkan kepadanya. Namun, nyatanya Ahok bahkan datangi kantor kepolisian tanpa perlu dipanggil oleh polisi.

Ahok juga pantas menggugat hasil Pilkada DKI kemarin bila melihat praktek-praktek kampanye tidak elok yang dipertontonkan kubu sebelah. Namun itu semua dia redam lalu di sisi lain malah memilih tenang dalam pengapnya sel penjara menjalani konsekuensi vonis hukum yang diterimanya.

Sikap-sikap Ahok ini persis sikap Yesus yang andaikata Dia mau, Dia bisa saja membebaskan diri dari konsekuensi hukum yang dijatuhkan kepada-Nya secara tak adil.

Tangisan Veronica Tan, Tangisan Maria di Kaki Salib

Dan hari ini panggung “Ahok Show” kembali diwarnai aksi mengaduk-aduk emosional publik. Saat konferensi pers guna mengumumkan pembatalan upaya banding, tak kuasa menahan sedih dan haru-biru yang berkecamuk, Veronica Tan pun sampai terisak-isak saat membacakan surat Ahok dari balik penjara buat segenap pendukungnya. Isi suratnya memang amat sentimentil.

Bagaimana tidak, “Saya banyak berpikir tentang kejadian yang saya alami. Saya berterima kasih kepada saudara yang mendukung dalam bentuk kiriman bunga, kartu ucapan. Saya tahu tidak mudah bagi saudara menerima ini apalagi saya," demikian antara lain isinya.

“Tetapi saya belajar terima semua ini jika untuk kebaikan negara", sambungnya. Catat, untuk kebaikan negara! Coba, figur mana lagi sekarang ini di negeri ini yang sedemikian legowo menerima putusan vonis, membatalkan upaya banding demi apa yang disebutnya untuk kebaikan negara? Rasanya hanya Ahok saja yang bisa demikian. Lainnya tenggelam dalam egoisme buta, tak peduli nasib bangsa, tak peduli pula bagaimana anak dan cucunya di masa depan masih merasakan indahnya hidup dalam negara kesatuan RI atau sudah jadi Republik Jawa, Republik Sumatera, Republik Bali atau Papua?

Sekali lagi, sikap legowo Ahok yang dipertautkan dengan ketegaran sang istri, memperlihatkan kesamaannya dalam kisah sengsara Yesus. Dari salib yang menjulang, Yesus bertatap-tatapan dengan Maria, ibu-Nya yang menatap-Nya dengan rasa duka mendalam namun tak sedikitpun menunjukkan sikap memberontak. Meski berurai air mata, Maria tidak ada sedikitpun sikap menolak atau bahkan mengutuk mereka yang membuat nasib Sang Putra jadi buruk.

Hari ini yang ditunjukkan duet Ahok-Veronica pun sama. Dalam nestapa duka yang menghujam ulu jantung, Veronica tetap terlihat tabah, tegar menyikapi nasib malang yang sedang menimpa suami. Sungguh, Veronica benar-benar sukses memerankan sosok Maria di hadapan derita Sang Putra yang menyimpan segala perkara dalam hati sembari menantikan dengan penuh harap buah dari pengorbanan sang suami.

Demi alasan itu semua, rasanya, saya yang kebetulan seiman namun tak seagama dengan Ahok, dan yang juga seorang pendukung integritas pejabat bersih dalam diri Ahok selama ini, pantas berdampingan dengan Veronica dalam mendamba buah segala teka-teki ini. Semoga ada rahmat di balik tragedi ini. Amin.

Keep strong, Bu Vero!

Editor: Aven


Berita Terkait

Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Aneh, Ahok Tak Banding Dibilang Jiwa Besar

Selasa, 23 Mei 2017

Komentar