Aneh, Ahok Tak Banding Dibilang Jiwa Besar

Selasa, 23 Mei 2017 | 12:56 WIB
Share Tweet Share

Basuki Purnama. [Istimewa]

[JAKARTA]Saya kecewa Ahok diputuskan penjara dua tahun. Sekarang, orang yang banyak berbuat baik sebagai abdi DKI ini berada di dalam penjara. Mengapa memilih diam untuk suatu proses hukum yang bisa membebaskan Ahok?? 

Mengapa??? Apakah kita semua menerima begitu saja ketika kekuasaan hukum mengafirmasi diri seperti Pilatus: Apa yang kutulis, tetap tertulis??

Oh... Negeri ini dikunci oleh logikanya sendiri.

Padahal yang saya paham selama ini bahwasanya hukum kalau sudah tidak adil,  itu sudah bukan merupakan hukum. Filosofi dasar hukum ini saya anut semenjak saya belajar filsafat hukum dan sosial di bangku kuliah. 

Keadilan adalah nada dasar hukum itu.  Kalau nada dasarnya sudah salah,  lagu yang merdu akan terdengar disonan.  

Banyak sinyal didukung bukti yang memperlihatkan carut marutnya hukum peradilan negeri kita dalam sejarahnya.  Dan tak terhitung pula banyak orang dipenjara bahkan dihukum mati di atas hukum yang masih dipertanyaakan keadilannya.

Seorang pencuri singkong dan maling ayam dijatuhi hukuman penjara lebih dari dua tahun,  sementara penjahat politik dan maling uang rakyat banyak berkeliaran bebas tak tersentuh. 

Sungguh malang negeri ini,  ketika atas nama negara hukum,  penegakan hukum harus tunduk pada keputusan hukum yang tidak adil.  Khianat! Laknat! 

Apakah memang demikianlah yang seharusnya terjadi ataukah hanya karena negara tak kuasa lagi menegakkan keadilan hukum?  

Sedih rasanya melihat seseorang terpenjara seperti Ahok yang dihukum dengan logika sesat dan peradilan brutal.  Brutal, ya,  keputusan hakim lebih tinggi dari tuntutan jaksa.  

Logika sesat,  ya,  semua saksi yang memberatkan Ahok bukanlah saksi fakta,  sebagaimana para saksi fakta yang disodorkan tim hukum Ahok.

Dan kini,  ketika semuanya berjalan dalam logika ini dan Ahok tak berdaya dalam penjara. Lebih aneh lagi,  kita malah meresiter suara kepedihan Ahok di balik penjara yang menarik kembali keinginannya untuk naik banding sebagai sikap jiwa besar dan langkah penyelamatan. 

Dengan gagah kita katakan,  inilah pilihan yang terbaik untuk situasi NKRI saat ini.  Inilah bentuk pengorbanan dari seorang Ahok yang berjiwa besar hendak menyelamatkan negara dan Jokowi. 

Buset deh. Pengecut semuanya.  Tidak lebih dari pecundang keadilan dan kebenaran jika negara membiarkan hukum yang sesat dan tidak adil melahirkan korban-korban ketidakadilan. 

Saya sedih dalam kebingunganku akan piciknya orang cerdas dan akan cerdasnya orang bego di negeri ini di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. 

Pada akhir tulisan ini,  aku pun ikut-ikutan jadi picik dalam kepicikan dan ketidakwarasan yang sudah berjamaah. Bahwasanya,  negeri ini tak akan pernah adil jika semua merasa menerima ketidakadilan sebagai jiwa besar dan tindakan penyelamatan. 

OH TUHAN,  apakah aku harus bertanya pada rumput yang bergoyang ataukah harus berteriak di tepi pantai melawan dentuman ombak yang memecah pantai? Semoga jeritan nuraniku ini tidak berakhir sia-sia seperti dia yang negara penjarakan kini. 

Katanya menghibur, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri untuk memperlihatkan diri.  Walahualam.  Itu mustahil terjadi.  Kalaupun itu terjadi,  ya,  sebelum hal itu terjadi,  negeri ini sudah lenyap oleh agitasi hukum dan aksi radikalisme dan intoleran. Semua orang akan saling berhadap-hadapan melawan semua.  Homo homini lupus.  

Editor: Gusti


Berita Terkait

Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Memaknai Tangisan Veronica Tan

Selasa, 23 Mei 2017

Komentar