Dukung Pertanian Berkelanjutan, Paroki Dampek Tolak Tambang 

Minggu, 31 Mei 2020 | 10:44 WIB
Share Tweet Share

Paroki Dampek Tolak Tambang

[DAMPEK]- Sikap kontra kehadiran pabrik semen dan penambangan batu gamping di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur terus bergulir. Kali ini datang dari Dewan Pastoral Paroki dan JPIC Paroki ST. Petrus dan Paulus Dampek, Desa Satar Padut, Kec. Lamba Leda. 

Penolakan tersebut dikeluarkan pada Minggu (31/5/2020) dengan No: 10/PD/V/PS/2020 yang bertajuk "Tambang Merusak Alam dan Generasi Berbudaya". Pernyataan penolakan tersebut ditandatangani oleh Ketua Dewan Pastoral, Stefanus Janus, Ketua Seksi JPIC Paroki, Marianus Kisman, Pastor Paroki Dampek, RD. Tarsisius Tombor. 

Berikut pernyataan penolakan tersebut: 

Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si art. 159, genap berusia lima tahun yang pada 25 Mei tahun ini, menyebutkan: “Krisis ekonomi global telah menunjukkan sangat jelas kerugian yang diakibatkan bila kita mengabaikan nasib kita bersama yang juga menyangkut orang-orang yang datang sesudah kita. 

Kita tidak bisa lagi berbicara tentang pembangunan berkelanjutan tanpa solidaritas antargenerasi. Ketika kita memikirkan keadaan dunia yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang, kita mulai berpikir dengan cara yang berbeda, sadar bahwa dunia adalah hadiah yang telah kita terima secara gratis dan yang kita bagi dengan yang lain. 

Jika bumi diberikan kepada kita, kita tidak lagi dapat berpikir hanya menurut ukuran manfaat, efisiensi dan produktivitas untuk kepentingan pribadi. Kita berbicara tentang solidaritas antargenerasi bukan sebagai sikap opsional, tetapi sebagai soal mendasar keadilan, karena bumi yang kita terima juga milik mereka yang akan datang.” 

Sinode III Keuskupan Ruteng dalam nada yang sama dengan himbauan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si, menegaskan setiap orang dan komunitas sosial (politik) untuk merawat bumi ciptaan Tuhan yang kian tergerus oleh eksploitasi berlebihan atas alam. 

Gereja menyadari bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada akumulasi profit ekonomis semata, melainkan terutama memperhitungkan keberlangsungan dan keberlanjutan ekosistem dan eksistensi alam sebagai kosmos.

Kami, sebagai bagian dari warga masyarakat Manggarai Timur dan umat Keuskupan Ruteng, secara cermat memperhatikan rencana pembangunan pabrik semen dan tambang yang mendukung aktivitas ini, serta semua dinamika yang menyertainya. 

Berdasarkan pemahaman kami akan dampak-dampak lanjutan dan jangka panjang aktivitas pabrik dan tambang ini, kami dapat memastikan pencapaian ekonomis yang muncul sama sekali tidak bisa menutupi kehancuran yang akan datang atas wilayah kehidupan, bukan saja pada area tambang, tetapi juga wilayah lingkar tambang. 

Berdasarkan dasar pemikiran ini, kami menyampaikan beberapa point penolakan kami atas pabrik semen dan tambang yang mendukungnya.

Pertama, operasi tambang di atas area ratusan hektar demi mendukung pabrik semen pasti merusak lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan secara pasti akan berdampak pada hajat hidup masyarakat sekitar tambang. Beberapa dampak paling berbahaya adalah berkurangnya ketersediaan air bersih, polusi udara, kerusakan laut dan pantai. Semua ini menjadi penyangga utama kehidupan masyarakat di sekitar area tambang dan pabrik.

Kedua, operasi tambang dan pabrik semen menghilangkan tanah produktif warga baik ladang dan sawah yang sesungguhnya akan menjamin kehidupan secara turun-temurun melampaui jaminan yang dapat diberikan tambang dan pabrik semen tersebut. 

Ketiga, aktivitas tambang demi menunjang pabrik semen akan menghilangkan identitas dan karakter budaya masyarakat baik pada area tambang yang akan direlokasi maupun masyarakat sekitar areal tambang. 

Rencana relokasi warga kampung sesungguhnya adalah ungkapan hasil dari operasi penggusuran kampung, juga sebagai upaya mencabut masyarakat dari akar budaya serta relasi sosial yang sudah  diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun.

Keempat, kami tidak percaya pada komitmen perusahaan  terkait reklamasi pasca tambang atau komitmen penambangan berwawasan lingkungan karena banyak bukti lahan bekas tambang yang terbengkelai,  termasuk bekas tambang mangan di sekitar lokasi rencana pabrik semen tersebut. 

Kami percaya, untuk sebuah alasan peningkatan kesejahteraan yang menjadi dasar utama tambang dan pabrik semen ini, masih ada banyak solusi alternatif yang tetap mengedepankan keberlanjutan kehidupan tanah dan masyarakat yang hidup di atasnya. 

Tambang tidak pernah menjadi pilihan yang bijak dalam konteks pulau Flores yang kecil ini. Pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis potensi yang ada di sekitar lokasi yang akan dijadikan operasi tambang dan pabrik semen mengandung banyak potensi seperti pariwisata bahari, peternakan, perkebunan sorgum, perkebunan pisang, perkebunan jagung, dll.  

Pemda, dalam kolaborasi dengan berbagai pihak, harus melihat peluang ini demi keberlanjutan kehidupan sembari tidak memaksakan aktivitas investasi atas nama pembangunan yang pada akhirnya menghancurkan kehidupan. 

Kami percaya pemerintah dapat melakukan intervensi baik berupa program yang mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan melalui pembangunan irigasi dan pemupukan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk, pendampingan dan implementasi teknologi pasca panen untuk meningkatkan nilai tambah produk serta bekerja sama dengan pembeli tingkat lokal atau nasional untuk  penyerapan hasil produksi petani. 

Demikian sikap penolakan kami atas rencana aktivitas tambang dan pabrik semen di Luwuk dan Lengkololok, Manggarai Timur. Semoga suara kami dapat menjadi pertimbangan pemerintah dan korporasi yang berencana menjalankan aktivitas investasi untuk menghentikan semua rencana yang ada.

Dampek, 31 Mei 2020

Editor: Odorikus


Berita Terkait

Komentar