Relokasi Kampung, Markus Meno Tolak Tambang

Jumat, 10 April 2020 | 16:13 WIB
Share Tweet Share

Markus Meno, warga kampung asli lengko lolok [Foto: Indonesiakoran.com/odoricho]

[INDONESIAKORAN.COM]- Salah satu pemilik lahan Lengko Lolok, Markus Meno menolak kesepakatan harga tanaman pohon mete Rp 500 ribu per pohon. Pria berusia 77 tahun ini menginginkan harga mete perpohon Rp 1 juta.

Hal tersebut kata Markus lantaran pihaknya telah melayangkan ketetapan harga tersebut saat menggelar pertemuan dengan Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas di Cekalikang, Nggalak Leleng, Poco Ranaka pada 22 Maret 2020 lalu.

"Waktu ketemu Bapak Bupati saya minta Rp 1 juta per pohon. Kenapa beda di surat musyawarah yang ditantangani PT. Istindo Mitra Manggarai," kata Markus kepada Indonesiakoran.com, Jumat (10/4/2020).

Markus pun tidak terima keputusan tersebut. Pasalnya, tanaman jambu metenya sudah berumur 24 tahun. "Kesepakatan tersebut saya tidak terima. Karena itu bukan keputusan saya saat bertemu Bapak Bupati," katanya.

Selain itu Markus mempertanyakan peruntukan uang muka Rp 10 juta yang telah diterima masyarakat adat Lengko Lolok. Padahal setelah mereka terima surat kesepakatan yang disalin PT. Istindo Mitra Manggarai, uang tersebut bukan hanya untuk uang muka pembayaran tanah, tetapi ternyata untuk bangunan dan relokasi kampung.

"Saat terima uang Rp 10 juta, mereka hanya jelaskan bahwa uang tersebut hanya untuk uang muka tanah. Kalau waktu itu uang itu mereka jelaskan untuk relokasi kampung, kami pasti tolak. Kami tidak terima uang Rp 10 juta itu," tegasnya.

Markus menegaskan apabila relokasi dan harga mete tetap pada kesepakatan lama, maka pihaknya menolak eksploitasi tambang di Lengko Lolok.

"Kalau pihak tambang tetap mau relokasi. Jangan harap tambang beroperasi. Saya siap pasang badan. Saya tidak senang kalau kampung leluhur kami direlokasi. Saya dan anak-anak saya tidak terima. Nenek moyang kami dari keturunan Lantar dan Welek yang pertama kali huni kampung ini. Kami tidak mau mengkianati nenek moyang kami," katanya.

Reporter: Odorikus
Editor: Aurelia A.


Berita Terkait

Nusantara

WALHI: NTT Butuh Pangan, Bukan Tambang

Sabtu, 03 Juni 2017
Nusantara

Bangun Matim Tak Harus Andalkan APBD  

Minggu, 30 Juli 2017

Komentar