Kadis Peternakan: Kasus Rabies di Bali Menurun

Minggu, 15 September 2019 | 11:53 WIB
Share Tweet Share

I Wayan Mardiana. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak) Provinsi Bali I Wayan Mardiana menegaskan bahwa saat ini kasus rabies menunjukan tren penurunan di hampir tiap kabupaten/kota di Bali.

"Kasus rabies sejak bulan Juli (2019), setelah vaksinasi massal rabies telah mengalami penurunan," papar Mardiana, di Denpasar, Sabtu (14/9/2019).

Dikatakan, vaksinasi massal tersebut dilaksanakan pada bulan Maret - Juli 2019 dengan menyasar 716 desa se-Bali. Total cakupan vaksinasi hingga September mencapai 92 persen.

Ia menambahkan, jumlah estimasi populasi anjing yang telah divaksinasi juga menunjukkan hal serupa. Dari total populasi anjing di Bali yang berjumlah 573 ribu ekor, yang telah tervaksinasi mencapai 510 ribu ekor.

"Sedangkan angka kasus rabies hingga September 2019, masih ada kasus yang sifatnya insidentil terhadap anjing-anjing yang belum tervaksin. Misalnya ada kasus anjing yang dibuang pemiliknya atau anjing liar yang berkeliaran di semak-semak hingga pegunungan, yang sulit dijangkau tim kami," ujar Mardiana.

Ia kemudian merinci data kasus rabies dari sembilan kabupaten/ kota se-Bali. Untuk Kabupaten Tabanan, sejak Januari 2019 tercatat nihil kasus positif rabies. Sementara di Kabupaten Badung, terdapat satu kasus, yakni di daerah Kuta Selatan.

Adapun di Kabupaten Jembrana, muncul satu kasus di Medewi. Itupun terjadi akibat anjing liar yang dibuang oleh pemiliknya di tepi pantai.

Sedangkan di Kabupaten Buleleng, hanya terjadi satu-dua kasus, yakni di daerah Gerokgak. Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan vaksinasi ulang dan eliminasi.

Selanjutnya di Kabupaten Karangasem, masih terjadi satu-dua kasus di daerah Kubu dan Abang. Hal itu ditindaklanjuti dengan pembuatan Pararem, yang intinya bagi masyarakat yang meliarkan anjingnya akan dieliminasi serta dikenakan denda.

Adapun di Kabupaten Bangli, juga tak jauh berbeda, hanya terjadi satu-dua kasus di daerah Kintamani. Demikian pula di Kabupaten Klungkung, masih terjadi satu-dua kasus. Sedangkan Gianyar hanya satu kasus, dan telah ditindaklanjuti dengan vaksinasi ulang pada anak anjing kelahiran baru.

"Intinya semua hanya bersifat insidentil dan kasuistik," tegas Mardiana.

Pihaknya bersama tim telah bekerja ekstra dan memberi prioritas guna mengatasi rabies di kawasan yang masuk Zona Merah Rabies. Selain itu, berbagai upaya pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi Perda Nomor 15 tahun 2009 Tentang Pemberantasan Rabies di Bali.

"Dalam Perda itu disebutkan bahwa setiap warga masyarakat yang memiliki anjing wajib memelihara dan merawat kesehatan anjing mereka," ucapnya.

Sanksi bagi yang melanggar akan dijerat hukum pidana dengan ancama kurungan penjara maksimal selama tiga bulan, dan menanggung biaya pengobatan serta upacara pengabenan apabila warga tergigit anjing meninggal dunia.

Mulai September 2019 ini, imbuhnya, akan dilakukan vaksinasi kembali terhadap anjing-anjing yang belum tervaksinasi serta anjing yang baru lahir.

"Ini dilakukan agar Desember 2019 mendatang target Bali Bebas Rabies 2020 seperti yang dicanangkan bisa lebih cepat tercapai. Tidak perlu tunggu 2020," tandas Mardiana.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

Kusam dan Robek, Merah Putih Dibiarkan Berkibar

Selasa, 23 Mei 2017
Nusantara

Bali Kekurangan 70 Ribu Blanko E-KTP

Selasa, 23 Mei 2017

Komentar