Masyarakat Komodo Tolak Rencana Penutupan Pulau Komodo

Rabu, 17 Juli 2019 | 10:09 WIB
Share Tweet Share

Aksi unjuk rasa masyarakat Komodo di Labuan Bajo. [foto: indonesiakoran.com/itho umar]

[LABUAN BAJO, INDONESIAKORAN.COM] Rencana penutupan Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagaimana digagas Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menuai protes dari masyarakat Komodo.

Masyarakat khawatir, rencana tersebut berjalan mulus. Apalagi saat kunjungan ke Labuan Bajo belum lama ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengisyaratkan mendukung rencana penutupan Pulau Komodo untuk tujuan konservasi.

Atas dasar itu, masyarakat Komodo menyatakan penolakannya atas rencana tersebut. Penolakan tersebut sebagaimana disampaikan warga saat menggelar aksi unjuk rasa di Halaman Kantor Bupati Manggarai Barat, Kantor DPRD Kabupaten Manggarai Barat, dan Kantor Balai Taman Nasional Komodo (BTNK),Rabu (17/7/2019.

"Kami menolak rencana penutupan Pulau Komodo dan kami juga menolak keras rencana pemindahan penduduk Kampung Komodo seperti yang diwacanakan Gubernur NTT," kata Korlap Aksi, Ihsan Abdul Amir, dalam aksi tersebut.

Ia menyebut, sebagai masyarakat di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, warga Kampung Komodo sesungguhnya sudah lama mendukung usaha-usaha konservasi dan pembangunan pariwisata.

"Kami sudah lama terlibat dalam pariwisata berbasis konservasi. Kami bahkan menolak segala program pembangunan yang justru mengabaikan keberadaan masyarakat Komodo sebagai penduduk setempat," tegasnya.

Masyarakat, demikian Ihsan, menginginkan pembangunan pariwisata dan konservasi yang memperhitungkan keberadaan penduduk Pulau Komodo. Selain itu, masyarakat menginginkan model pembangunan yang lebih memenuhi hak-hak dasar warga setempat sebagai warga negara yang berdaulat.

"Karena itu, penutupan sewenang-wenang Pulau Komodo kami tolak karena justru akan menghilangkan mata pencaharian kami," tegas Ihsan.

Ia juga mengingatkan, masyarakat Komodo telah melewati proses yang sangat panjang. Masyarakat Komodo hidup secara turun-temurun dan bisa bertahan sebelum sektor pariwisata berkembang di Manggarai Barat.

"Saat pariwisata berkembang, ada harga yang sangat mahal yang mesti kami bayar. Kami telah merelakan tanah kami untuk dijadikan sebagai bagian dari kawasan Taman Nasional Komodo. Lantas, ketika kami telah bergantung pada sektor pariwisata, pemerintah secara sepihak mengambil keputusan menutup Pulau Komodo dari aktivitas pariwisata yang dengan jelas amat merugikan kami secara ekonomi," ujar Ihsan.

Ia pun mendesak pemerintah, agar menghentikan wacana penutupan Pulau Komodo ini. Wacana tersebut dipandang sangat mengganggu masyarakat Komodo.

Reporter: Itho Umar
Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar