Gubernur Anjurkan Acara Internasional Pakai Aksara dan Busana Bali

Senin, 15 April 2019 | 10:24 WIB
Share Tweet Share

Gubernur Bali Wayan Koster. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Gubernur Bali Wayan Koster kembali melakukan terobosan dalam memperkuat kebudayaan Bali.

Orang nomor satu di Pulau Dewata itu, menganjurkan penggunaan aksara dan busana adat Bali pada setiap kegiatan, baik bertaraf nasional maupun internasional, yang diselenggarakan di Bali.

Terobosan tersebut disampaikan Gubernur Koster melalui Surat Edaran Nomor ‪3172 ‬ Tahun 2019. Surat edaran yang ditandatangani pada 5 April lalu itu, ditujukan kepada lembaga kementerian, lembaga pemerintah non-pemerintah, konsulat jenderal negara sahabat, lembaga atau badan swasta, serta para event organizer.

Diketahui, Bali selama ini memang menjadi tempat populer bagi lembaga internasional, institusi pemerintah, perusahaan swasta serta NGO untuk menyelenggarakan pertemuan-pertemuan berskala nasional maupun internasional.

Dalam pertemuan-pertemuan berskala nasional maupun internasional, pakaian resmi yang dikenakan para delegasi adalah setelan jas dan dasi gaya Barat. Hal ini rupanya akan segera berubah setelah dikeluarkannya Surat Edaran Gubernur Bali ini.

Dalam Surat Edaran tersebut, Gubernur Koster menganjurkan penggunaan busana adat Bali dalam penyelenggaraan setiap kegiatan yang bertaraf nasional dan internasional di Provinsi Bali.

Selain itu, Gubernur Koster juga menganjurkan penggunaan aksara Bali pada backdrop atau latar belakang yang dipajang pada venue-venue utama acara tersebut. Aksara Bali itu pun harus ditempatkan di atas aksara Latin.

Gubernur Koster menegaskan bahwa panitia acara dianjurkan mengenakan busana adat Bali, sedangkan peserta acara boleh menggunakan busana adat Bali atau busana adat daerah asalnya masing-masing.

“Penggunaan busana adat Bali ini minimal pada waktu upacara pembukaan acara-acara tersebut. Saya tentunya sangat menghargai jika penggunaan busana adat Bali ini dilakukan terus-menerus selama berlangsungnya acara tersebut,” kata Gubernur Koster.

Perkecualian diberikan kepada ritual agama, seperti wedding ceremony, yang kerap diadakan di hotel-hotel. Pasangan pengantin, keluarga, serta pelaksana ritual boleh menggunakan busana yang sesuai dengan tradisi agama ataupun adatnya masing-masing.

Surat Edaran ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 Tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

“Tujuan kebijakan ini tentunya adalah pelestarian busana adat, bahasa, aksara dan sastra Bali, serta membangkitkan perekonomian rakyat kecil berbasis budaya,” tegasnya.

Bisnis busana adat Bali memang menunjukkan peningkatan aktivitas sesudah dikeluarkannya kebijakan tersebut.

Reporter: Enjoh Dewi
Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

Joged Bumbung Erotis Marak, PHDI Diminta Bersikap

Jumat, 24 November 2017
Nusantara

Ini Program Jangka Pendek Koster-Ace

Rabu, 05 September 2018

Komentar