Nyepi Sehari di Tahun Politik, Togar Ajak Introspeksi Diri

Selasa, 05 Maret 2019 | 15:26 WIB
Share Tweet Share

Togar Situmorang. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Seluruh masyarakat Bali akan merayakan Nyepi tahun baru caka, tanggal 7 Maret mendatang. Hari Raya Nyepi kali ini cukup menarik, karena berlangsung sekitar sebulan jelang Pemilu Serentak 17 April 2019.

Hal ini pun menarik perhatian tokoh anti korupsi dan anti intoleransi yang juga advokat senior Togar Situmorang, SH, MH, MAP. Ia mengajak segenap elemen masyarakat Bali, secara khusus para elit politik, untuk memaknai perayaan Nyepi kali ini dengan introspeksi diri, meningkatkan toleransi dan spirit menyama braya.

"Kita tahu di tahun politik ini, situasinya menghangat bahkan bisa memanas. Tapi hati dan pikiran kita harus tetap dingin. Dan perayaan Nyepi kali ini, menjadi momentum untuk meredam gejolak situasi politik yang ada dengan introspeksi diri, tingkatkan toleransi dan menyama braya," tutur Togar, di Denpasar, Senin (4/3/2019).

Baca Juga:
Togar Situmorang Optimis Melenggang Mulus ke DPRD Bali, Karena Ini

Pria yang dijuluki "panglima hukum" ini mengajak nilai-nilai toleransi, kedamaian dan semangat gotong - royong serta menyama braya masyarakat Bali, jangan sampai tercabik-cabik karena perbedaan pilihan politik di tahun politik ini.

Begitu juga para elit politik, menurut dia, seharusnya mampu menjadi panutan dan penuntut jalan. Yang tak kalah penting, memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk selalu hidup rukun berdampingan, tanpa memandang perbedaan pilihan politik yang ada.

"Semoga Catur Brata Penyepian dapat dijalankan dengan baik dan semua pihak ikut menjaga keheningan dan ketenangan Nyepi. Dengan demikian, perayaan Nyepi di Bali benar-benar bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia dan dunia," tutur calon anggota DPRD Provinsi Bali nomor urut 7 Dapil Kota Denpasar dari Partai Golkar ini.

Baca Juga:
Togar Situmorang Komit Bela Rakyat Kecil Tanpa Imbalan

"Bali itu miniatur Indonesia dan dunia, serta dikenal sebagai island of peace, island of tolerance. Ini yang membuat Bali nyaman layaknya surga bagi setia orang. Ini yang harus kita jaga dan pertahankan bersama-sama," imbuh advokat milenial yang dikenal dengan komitmen dan aksi nyata "Siap Melayani Bukan Dilayani" itu.

Togar yang sudah puluhan tahun di Bali dan mengaku sangat mencintai Bali ini pun mengapresiasi kreativitas generasi muda dalam menciptakan ogoh-ogoh yang selalu menjadi daya tarik tersendiri saat diarak pada hari Pengrupukan (sehari jelang Hari Raya Nyepi). Pelestarian ogoh-ogoh ini terus berkembang, namun tetap sesuai jati diri budaya Bali.

Togar pun terus mendukung kreativitas generasi muda Sekaa Teruna Teruni (STT) dalam mengkreasikan ogoh-ogoh, baik dari sisi estetika maupun juga ketertiban saat pengarakannya di hari Pangrupukan.

Baca Juga:
Togar Situmorang Yakin GWK Akan Tingkatkan Perekonomian Bali

Dewan Pakar Forum Bela Negara ini tetap berharap, pengarakan ogoh-ogoh tahun ini jangan sampai melenceng dari identitas budaya Bali. Misalnya, jangan sampai lagi menggunakan mercon atau sound system yang misalnya juga dengan memutar musik dangdut.

"Sesuai imbauan Pak Wali Kota, jangan ada lagi ogoh-ogoh gunakan sound system. Gunakan saja gamelan baleganjur, kentungan, tektekan atau pakai obor sehingga tetap menunjukkan identitas adat budaya Bali," harap pria yang tengah menyelesaikan pendidikan Doktor (S-3) Ilmu Hukum di Universitas Udayana itu.

Baca Juga:
Aturan Ketinggian Bangunan, Togar: Jaga Taksu Bali, Jangan Direvisi

Togar juga berharap, jangan sampai ada ogoh-ogoh berwarna politik atau disusupi kepentingan politik. Misalnya jangan sampai saat diarak, ada atribut ogoh-ogoh menyerupai salah satu simbol partai politik atau caleg tertentu. Atau ada STT yang menggunakan atribut terkait caleg ataupun parpol seperti dalam bentuk kaos, bendera atau lainnya.

"Rangkaian Hari Raya Nyepi harus benar-benar steril dari kepentingan politik. Jadi, mari kita Nyepi sehari, bebaskan diri dari hasrat atau kepentingan politik apapun menuju Bali yang shanti, damai lahir batin," pungkas Togar.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

DPRD Bali Desak Revisi UU Penyiaran

Selasa, 19 September 2017
Nusantara

Belum Dapat THR Nyepi? Adukan ke Sini

Senin, 12 Maret 2018
Nusantara

Nyepi, Bali "Puasa" Internet Sehari

Selasa, 13 Maret 2018

Komentar