Gaduh Unicorn, Togar: Bali Harus Punya Startup Unicorn Kelas Dunia

Kamis, 21 Februari 2019 | 13:37 WIB
Share Tweet Share

Togar Situmorang. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Setelah Debat Calon Presiden (Capres), Minggu (17/2/2019) lalu, ada dua hal yang ramai diperbincangkan publik, khususnya warganet. Pertama soal tanah negara. Kedua terkait startup unicorn.

Dari keduanya, soal unicorn yang paling banyak digunjingkan. Mulai dari soal remeh - temeh hingga hal serius, semua dikaitkan dengan unicorn.

Lalu apa sebenarnya unicorn itu? Istilah unicorn sendiri merupakan sebutan bagi perusahaan startup (usaha rintisan) berbasis teknologi yang mempunyai valuasi (nilai perusahaan) di atas 1 juta dolar AS atau setara di atas Rp 14 triliun.

Di Indonesia, kini sudah memiliki 4 unicorn yang sudah cukup dikenal masyarakat luas. Mulai dari Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, hingga Traveloka. Jumlah unicorn Indonesia memang terbanyak di Asia Tenggara, dari total 10 unicorn yang ada berdasarkan data Techsauce.co.

Baca Juga:
Togar Situmorang Optimis Melenggang Mulus ke DPRD Bali, Karena Ini

Perbincangan seputar unicorn ini ternyata menarik perhatian advokat kawakan Togar Situmorang, SH, MH, MAP. Bagi advokat yang dijuluki "Panglima Hukum" ini, sisi positif dari gaduh soal unicorn ini adalah minimal membuat generasi muda semakin penasaran hingga tertarik untuk terjun di dunia startup teknologi hingga menjadi unicorn.

“Kita tentu bangga jumlah unicorn Indonesia terbanyak di Asia Tenggara. Bahkan dalam waktu dekat diprediksi akan ada tambahan dua unicorn baru lagi di tanah air, mungkin dari sektor startup fintech, pendidikan atau kesehatan,” kata Togar, di Denpasar, Kamis (21/2/2019).

Togar yang juga calon anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Kota Denpasar dari Partai Golkar ini bahkan berharap ke depan akan muncul startup unicorn dari Bali yang bisa jadi kebanggaan masyarakat Bali.

“Jadi Bali tidak hanya terkenal sebagai destinasi pariwisata kelas dunia, tapi juga punya startup unicorn kelas dunia,” harap Togar yang tengah menyelesaikan Disertasi pada Program Ilmu Hukum Universitas Udayana itu.

Baca Juga:
Togar Situmorang Komit Bela Rakyat Kecil Tanpa Imbalan

Ia juga mengapresiasi, karena dari empat startup yang ada saat ini, Go-Jek dikabarkan sudah naik kelas menjadi dexacorn, julukan bagi perusahaan yang nilainya lebih dari 10 miliar dolar AS (setara Rp 140 triliun). Nilai Go-jek saat ini berkisar antara US$8 hingga US$10 miliar atau Rp111,5 hingga Rp139,4 triliun. 

“Jadi Indonesia akan punya minimal empat hingga lima unicorn dan satu dexacorn. Go-Jek jadi dexacorn kedua di Asia Tenggara setelah Grab Holding dan satu dari 30 dexacorn di dunia. Ini capaian luar biasa dari Bos Go-Jek Nadiem Makarim dan seluruh kru Go-Jek,” tegas Togar, yang dikenal sebagai advokat dermawan dan kerap memberikan bantuan hukum gratis itu.

Ia yakin, jumlah unicorn dan dexacorn yang lahir dari startup lokal Indonesia bisa terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini karena melihat pesatnya perkembangan startup di tanah air dan derasnya pendanaan yang mengalir, baik dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga:
Hari Valentine, Togar Berbagi Kasih Lewat "Valentine Giveaway"

Bertambahnya jumlah unicorn hingga dexacorn dan terusnya muncul startup baru, imbuh Dewan Pakar Forum Bela Negara ini, tentu menjadi sinyal yang positif. Karena hal tersebut mendekatkan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020, yang nilainya diprediksi mencapai 130 miliar dolar AS. Hal ini sesuai dengan visi ekonomi digital Presiden Jokowi.

“Kami yakin Indonesia bisa jadi negara dengan kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah dan seluruh stakeholder bahu - membahu menguatkan iklim startup dan ekonomi digital,” pungkas Togar.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar