Beh, di Buleleng Hanya Dibangun Bandara LCC? Tamba: Kami Kecewa!

Selasa, 12 Februari 2019 | 08:45 WIB
Share Tweet Share

Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali, I Nengah Tamba. [foto: indonesiakoran.com/ san edison]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Rencana pembangunan Bandara Buleleng belum kunjung mendapatkan kepastian. Sebab hingga saat ini, izin penentuan lokasi (Penlok) bandara di Bali Utara itu masih tarik - ulur.

Celakanya, di tengah penantian panjang akan pembangunan bandara yang digadang - gadang prestisius itu, muncul kabar yang kurang menggembirakan dari pusat, dalam hal ini Menteri Perhubungan Budi Karya Semadi.

Sebab konon, Bandara Buleleng nantinya hanya akan menjadi bandara khusus penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) alias difokuskan ke arah pelayanan minimalis.

"Terus terang kami kecewa kalau di Buleleng justeru dibangun bandara LCC. Kita sayangkan. Bandara LCC itu kan untuk penerbangan murah. Pelayanan minimalis. Bisa saja nanti pesawatnya yang baling-baling (perintis) itu. Kalau seperti itu yang dirancang, untuk apa?" ujar Ketua Komisi III DPRD Provinsi Bali I Nengah Tamba, di Denpasar, Senin (11/2/2019).

Ia pun meminta agar sebelum rencana tersebut terealisasi, lebih baik ditanyakan kepada masyarakat Bali. Tamba yakin, publik di Bali tidak sepakat jika di Buleleng hanya dibangun bandara LCC.

"Coba sekarang tanya, masyarakat Bali setuju ga bangun bandara LCC di sana? Kalau saya tidak setuju. Karena itu setara bandara perintis. Tidak sepadan dengan nama Bali. Tidak sesuai tujuan awal, untuk mengatasi kroditnya Bandara Ngurah Rai," tandas Tamba, yang kembali tampil sebagai calon anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Jembrana dari Partai Demokrat pada Pileg 2019.

Ia menjelaskan, sejak awal diwacanakan, Bandara Buleleng dirancang untuk mengatasi kroditnya Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Di samping itu, pembangunan bandara tersebut juga diharapkan mampu menarik minat investor untuk berinvestasi di kawasan utara Bali.

"Pesawat berbadan lebar belum bisa mendarat di Bandara Ngurah Rai. Pesawat Air Bus 350 saja belum bisa, apalagi Air Bus 380 karena membutuhkan runway sepanjang 4.000 meter. Mestinya, Bandara Buleleng dibangun untuk menjawab itu. Bukan malah yang ecek - ecek. Kalau sudah seperti ini, investor sulit ke sana," tegas Tamba.

Terhadap hal ini, ia justru menyarankan kepada pemerintah pusat dan daerah, agar kembali memberikan kesempatan kepada investor yang telah merancang Bandara Buleleng dan siap membangun, seperti PT BIBU dan PT Pembari.

Kedua investor ini menawarkan konsep pembangunan Bandara Buleleng yang berbeda. PT BIBU menyodorkan konsep pembangunan di atas laut, sementara PT Pembari menawarkan desain pembangunan bandara di daratan.

"Saya sarankan kepada Pak Gubernur, diujilah kompetensi kedua investor ini, apalagi mereka juga putra - putra Bali. Kasihan mereka sudah berupaya keras merancang, tetapi saat ini nasibnya terkesan mengambang. Lebih baik mereka dipanggil, presentasi, lalu beri kepastian," kata Tamba.

Bagi Tamba, memberikan kesempatan kepada investor, akan lebih baik ketimbang melanjutkan rencana saat ini berupa pembangunan bandara LCC. Apalagi dari hasil konsultasi Komisi III DPRD Provinsi Bali ke Kementerian Perhubungan, kemungkinan bandara ini baru ground breaking pada tahun 2022.

"Dari hasil konsultasi kami, tahapan pengerjaan Bandara Buleleng itu jelas. 2018 itu studi kelayakan (FS), 2019 rencana induk/ masterplan, 2020 rencana teknik terinci dan Amdal, 2021 lelang KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) dan 2022 ground breaking. Jadi hanya untuk bangun bandara LCC saja, 2022 baru ground breaking," urai Tamba.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

RSUP Sanglah Diusulkan Dikelola Pemprov Bali

Rabu, 31 Mei 2017
Nusantara

Tanggul Jebol di Jembrana Sudah Diperbaiki

Senin, 05 Juni 2017
Nusantara

Mendagri: Bali Harus Jadi Inspirasi Daerah Lain

Sabtu, 10 Juni 2017

Komentar