Mahasiswa KAT Universitas Ngurah Rai Gelar Aksi Pungut Sampah Plastik

Minggu, 10 Februari 2019 | 10:56 WIB
Share Tweet Share

Aksi pungut sampah Mahasiswa KAT Kelompok VI Universitas Ngurah Rai Denpasar. [foto: istimewa]

[TABANAN, INDONESIAKORAN.COM] Mahasiswa Kuliah Aplikasi Terpadu (KAT) Kelompok VI Kampus Universitas Ngurah Rai Denpasar, menggelar bakti sosial di Banjar Dualang, Desa Kaba -Kaba, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, Minggu (10/2/2019).

Dalam bakti sosial ini, para mahasiswa bersama Teruna-teruni Banjar Dualang melakukan aksi pungut sampah plastik di seluruh pemukiman warga banjar dengan luas sekitar 4.500 m2 itu. Aksi dipimpin langsung oleh Kepala Dusun (Kadus) Dualang, I Gusti Ngurah Ketut Santika.

"Kami memilih menggelar kegiatan ini mengingat dampak sampah plastik yang sangat membahayakan bagi lingkungan," kata Vinsensius Jala, salah satu mahasiswa Universitas Ngurah Rai yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Menurut dia, untuk menekan sampah plastik di Banjar Dualang, Mahasiswa KAT Kelompok VI Universitas Ngurah Rai telah membagikan tas yang terbuat dari bahan kain kepada 122 KK warga setempat.

"Kami berharap agar masayarakat kalau ke sawah atau ke pasar, bisa membawa tas yang kami bagikan, sehingga mengurangi kantong plastik," ujar Vinsensius.

Screenshot_2019-02-10-11-54-34_com.outthinking.collagelayout_1549770899666

Selain itu, Mahasiswa KAT Kelompok VI Universitas Ngurah Rai juga menyediakan 10 unit tempat sampah, yang akan ditempatkan di setiap gang di Banjar Dualang.

"Kami juga menyediakan tempat sampah, sehingga masyarakat bisa membuang sampah pada tempatnya. Dengan begitu, sampah plastik tidak berserakan," ujar Vinsensius.

Ia menambahkan, kegiatan bakti sosial ini merupakan implementasi darma ketiga dari Tri Darma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian masyarakat. Ini sekaligus merupakan perwujudan dari Tri Hita Karana.

Dikatakan, pada dasarnya ajaran Tri Hita Karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiganya meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar dan hubungan dengan Tuhan,  yang saling terkait satu sama lain.

"Bakti sosial pembersihan sampah plastik ini merupakan bagian dari pembumian hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Manusia hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Manusia memperoleh bahan keperluan hidup dari lingkungannya. Manusia dengan demikian sangat tergantung kepada lingkungannya. Oleh karena itu, manusia harus selalu memperhatikan situasi dan kondisi lingkungannya," tandas Vinsensius.

Screenshot_2019-02-10-11-54-34_com.outthinking.collagelayout_1549770922772

Lingkungan, menurut dia, harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak.

"Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang-binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Lingkungan yang ditata dengan rapi dan bersih akan menciptakan keindahan. Keindahan lingkungan dapat menimbulkan rasa tenang dan tenteram dalam diri manusia," ucapnya.

Reporter: Enjoh Dewi

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar