Wacana Tutup TNK, Bupati: Mumpung Masih Ada Waktu, Mari Berbenah

Rabu, 23 Januari 2019 | 09:42 WIB
Share Tweet Share

Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula. [foto: istimewa]

[LABUAN BAJO, INDONESIAKORAN.COM] Industri pariwisata Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami guncangan hebat beberapa waktu terakhir. Pemicunya adalah 'rencana gila' Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.

Di awal kepemimpinannya, Gubernur Laiskodat melontarkan dua wacana yang membuat para pelaku pariwisata di "Bumi Komodo" geleng - geleng kepala.

Pertama, Gubernur Laiskodat mewacanakan kenaikkan harga tiket masuk ke Pulau Komodo. Untuk wisatawan mancanegara sebesar USD 500 atau setara Rp7 juta dan bagi wisatawan nusantara USD 100 atau setara Rp1,4 juta.

Kedua, Gubernur Laiskodat berencana menutup sementara Taman Nasional Komodo (TNK). Penutupan dilakukan selama satu tahun, untuk membenahi habitat biawak purba Komodo itu.

Dua rencana ambisius Gubernur Laiskodat ini pun mendapat penolakan dari banyak kalangan, khususnya para pelaku pariwisata. Meski begitu, ada pula yang mendukung rencana tersebut.

Lalu bagaimana sikap Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula? Kepada indonesikoran.com di Labuan Bajo, Rabu (23/1/2019), orang nomor satu di ujung barat Pulau Flores itu akhirnya angkat bicara.

Bupati Dula berpandangan, dari segi tujuan, rencana Gubernur Laiskodat ini sangat bagus. Apalagi jika melihat kepentingan TNK untuk pelestarian ke depan.

"Saya menilai, Pak Gubernur merasa ada kecemasan akan terancamnya pelestarian lingkungan atau habitat Komodo. Apalagi TNK adalah wisata alam dan warisan purbakala," ujar Bupati Dula.

Warisan alam dan purbakala, menurut dia, bukan sesuatu yang otomatis. Sebaliknya, warisan itu akan lestari, sangat tergantung pada lingkungannya.

"Begitu lingkungan tidak dijaga atau tidak dibenahi, maka perlahan tapi pasti potensi wisata alam ini akan tidak menarik lagi. Oleh karena itu, yang terpenting adalah mari kita melihat dan mengisi waktu jeda ini untuk berbuat sesuatu yang berarti, yang tujuannya membenah. Mumpung masih ada waktu, mari kita berbenah," tutur bupati dua periode itu.

Bupati Dula juga mengingatkan, jangan sampai semua lengah dengan ketakjuban Komodo di TNK. Sementara di sisi lain, semua pernah mengalami banyak kecemasan.

"Kita banyak mengalami kecemasan, seperti hilang atau rusaknya terumbu karang, pembantaian rusa, kapal tenggelam, terbakarnya padang sabana, di samping sarana dan prasarana belum memadai dan pembangunan tata ruang juga belum matang. Mungkin perlu hal ini dibenahi sejenak," ucapnya.

Soal TNK ditutup selama satu tahun, Bupati Dula menyebut, itu waktu yang sangat relatif. Hanya saja, hal tersebut perlu dikaji secara matang, apalagi TNK di bawah otoritas pemerintah pusat.

"Tutup satu tahun ini juga relatif, mana baiknya. Untuk itu perlu dikaji bersama, untuk selanjutnya butuh kebijakan pemerintah pusat. Karena ini menyangkut otorita. Jadi rencana ditutup setahun ada baiknya demi penataan dan pembenahan, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi," tegas Bupati Dula.

Disinggung soal pro dan kontra atas wacana ini terutama pelaku pariwisata yang selama ini bergantung pada TNK, Bupati Dula mengatakan, hal tersebut juga tidak boleh diabaikan. Itu sebabnya, untuk sebuah pembenahan ini, perlu kajian yang matang.

"Untuk serentak saat ini, mungkin sulit. Sehingga perlu kajian, perlu sosialisasi. Apalagi TNK domainnya pemerintah pusat. Soal pro dan kontra terhadap suatu kebijakan baru untuk kepentingan publik, itu biasa. Apalagi pelaku pariwisata, ketika mendengar kata 'TNK ditutup' pasti menjadi ancaman juga buat mereka. Untuk itulah kita perlu duduk bersama, mengkaji ini secara komprehensif, lalu menyosialisakannya," pungkas Bupati Dula.

Reporter: Itho Umar

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar