Wisman Dipungut 20 Dollar? Togar: "Lonceng Kematian" Pariwisata Bali

Sabtu, 15 Desember 2018 | 07:40 WIB
Share Tweet Share

Togar Situmorang. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Pemerintah berencana memungut hingga 20 Dollar AS kepada setiap wisatawan mancanegara (Wisman) yang akan berkunjung ke Bali.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan, wisatawan mancanegara yang datang ke objek wisata dipungut 10 Dollar untuk penanganan sampah atau semacam dana kebersihan.

Sebelumnya, Gubernur Bali I Wayan Koster juga mewacanakan akan memungut 10 Dollar kepada wisman. Dana pungutan itu akan digunakan untuk pelestarian adat dan budaya Bali.

Dengan demikian, maka turis asing yang akan datang ke Bali total mengeluarkan uang setidaknya 20 Dollar AS untuk penanganan sampah plastik dan pelestarian adat budaya Bali.

Rencana ini, mendapat catatan kritis dari pengamat kebijakan publik yang juga dijuluki "Panglima Hukum" Togar Situmorang, SH, MH, MAP, di Denpasar, Jumat (14/12/2018). Ia bahkan menolak keras rencana adanya pungutan hingga sebesar 20 Dollar AS kepada wisatawan mancanagera itu.

Baca Juga:
Togar Situmorang Optimis Melenggang Mulus ke DPRD Bali, Karena Ini

Calon anggota DPRD Provinsi Bali nomor urut 7 Dapil Kota Denpasar dari Partai Golkar ini berpandangan, jika wacana ini terus digulirkan dan bahkan berjalan mulus, maka ini akan menjadi semacam "lonceng kematian" pariwisata Bali.

Jika "lonceng kematian" itu tak segera dihentikan, maka pada akhirnya daya saing pariwisata Bali "terjun bebas" alias tidak akan kompetitif lagi. Jika itu terjadi, maka pariwisata Bali akan ditinggalkan wisatawan.

"Jadi bagi saya, pungutan 20 Dollar ini akan membunuh pariwisata Bali. Secara perlahan Bali akan ditinggal turis asing karena banyak ada pungutan ini, itu," kritik Togar, yang juga Dewan Pakar Forum Bela Negara ini.

Togar lebih sepakat dengan hanya ada satu jenis pungutan, sesuai yang diwacanakan Gubernur Koster yakni 10 Dollar untuk pelestarian adat, seni dan budaya Bali. Namun dalam pemanfaatannya, menurut dia, juga bisa dialokasikan untuk penanganan sampah khususnya di objek wisata di Bali.

"Pungutan 10 Dollar untuk sampah itu tidak rasional. Ini memberatkan turis datang ke Bali. Mereka datang liburan untuk menikmati alam, keunikan seni, adat dan budaya Bali. Jadi penanganan sampah jangan dibebankan kepada turis," tandas advokat yang kerap memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu dan tertindas dalam penegakan hukum itu.

Baca Juga:
Togar Situmorang Komit Bela Rakyat Kecil Tanpa Imbalan

Atas dasar itu, Togar berharap wacana dan rencana pungutan 10 Dollar AS untuk sampah ini dihentikan, agar tidak membebani wisatawan. Harus ada solusi lain yang lebih cerdas dari pemerintah untuk menangani sampah, bukan dengan membebankannya kepada wisatawan.

"Kita bicara quality tourism dan berkelanjutan. Ketika ada banyak pungutan, ketakutan kami justru pariwisata Bali tidak berkelanjutan. Turis asing bisa lari ke Thailand yang objeknya lebih menarik dari Bali dan juga bisa lebih murah," tutup Togar.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

Kusam dan Robek, Merah Putih Dibiarkan Berkibar

Selasa, 23 Mei 2017
Nusantara

Bali Kekurangan 70 Ribu Blanko E-KTP

Selasa, 23 Mei 2017

Komentar