Togar Ajak Netizen Hindari Body Shaming Jika Tak Mau Dipenjara

Jumat, 30 November 2018 | 10:12 WIB
Share Tweet Share

Calon anggota DPRD Provinsi Bali nomor urut 7 Dapil Kota Denpasar dari Partai Golkar, Togar Situmorang. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Mengkritik dan mengomentari secara negatif fisik atau bentuk tubuh orang lain (body shaming), bukan lagi menjadi hal baru di Indonesia. Selama ini, body shaming bahkan selalu menjadi "menu tambahan" bagi mereka yang saling serang di dunia maya.

Namun saat ini, body shaming perlu dihindari karena sangat berbahaya jika dilakukan dan disebarkan via media sosial (medsos). Penjara adalah ancaman bagi yang melakukan body shaming.

"Netizen Indonesia karakternya kerap nyinyir bahkan banyak yang sampai tergoda melakukan body shaming, mengejek bentuk fisik orang lain di medsos. Ini sungguh berbahaya, baik bagi korban maupun pelaku," kata advokat kawakan Togar Situmorang, SH, MH, MAP, di Denpasar, Kamis (29/11/2018).

Baca Juga:
Togar: Waspada! Fintech Bisa Ancam Stabilitas Keamanan Nasional

Menurut Togar yang juga pengamat kebijakan publik ini, dampak negatif bagi korban body shaming ini apalagi dilakukan di medsos cukup serius. Sebab sangat mengganggu kondisi psikologis korban.

Ketika bentuk tubuhnya diejek, korban tidak hanya sakit hati tapi bisa kehilangan rasa percaya diri. Yang lebih parah ketika ada komentar negatif berantai lagi, banyak korban menjadi stres, depresi dan kehilangan kendali. Bahkan yang paling ironis bisa berujung pada bunuh diri.

"Sejumlah riset di negara maju menunjukkan korban bunuh diri juga dipicu adalah perlakuan body shaming, baik secara langsung maupun di medsos. Jadi betapa berdosanya pelaku body shaming jika sampai yang diejeknya menderita bahkan bunuh diri," tutur Togar, yang juga calon anggota DPRD Provinsi Bali nomor urut 7 Dapil Kota Denpasar dari Partai Golkar ini.

Baca Juga:
Togar Situmorang Optimis Melenggang Mulus ke DPRD Bali, Karena Ini

Togar yang dikenal kerap memberikan bantuan hukum gratis bagi masyarakat kurang mampu dan tertindas dalam penegakan hukum itu menambahkan, perbuatan body shaming juga bisa berujung tindak pidana dan bisa membuat pelakunya dipenjara.

"Kalau tidak mau dibui hanya karena mengejek bentuk tubuh orang, baik di medsos ataupun di dunia nyata, jangan lakukan body shaming," tandas Togar.

Dikatakan, berkomentar negatif terhadap bentuk fisik seseorang merupakan bentuk tindakan pidana yang sudah diatur dalam Pasal 27 Ayat 3 juncto Pasal 45 Ayat 3 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), sebagaimana yang telah diubah dalam UU Nomor 19 Tahun 2016.

Pada Pasal 45 Ayat 3 disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ atau mentransmisikan dan/ atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/ atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/ atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Baca Juga:
Togar Situmorang Komit Bela Rakyat Kecil Tanpa Imbalan

Tidak hanya perempuan, laki-laki, orang tua, bahkan anak muda banyak yang menjadi korban dari body shaming. Sejak awal, body shaming menjadi tren untuk bahan candaan saja. Namun lama kelamaan menjadi serius untuk menjelek-jelekkan seseorang.

Menurut Togar, sesungguhnya kaum milenial kerap kali menjadi korban dan pelaku dari body shaming. Tapi tidak juga menutup kemungkinan menyerempet kaum ibu-ibu (emak-emak).

“Realistis saja, kaum ibu-ibu itu kan pasti sudah punya anak, body sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau dikatain di sosial media atau secara langsung bisa juga disebut body shaming lho," ujar Togar, yang kini tengah menyelesaikan Disertasi Doktoral pada Progam S-3 Ilmu Hukum Universitas Udayana itu.

Baca Juga:
Togar Situmorang: Anak Muda Jangan Jadi Generasi Penyebar Hoaks

Ketua Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kota Denpasar ini menambahkan, yang rentan menjadi korban body shaming adalah anak muda dan kaum ibu-ibu. Apabila keterlaluan, bisa melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib disertai alat bukti yang cukup.

“Jadi mulai sekarang saya imbau kepada semua pihak, khususnya yang anak-anak muda dan kaum ibu-ibu, berhati-hati dan cerdaslah dalam bermain di sosial media. Karena istilah 'mulutmu harimaumu' sudah mengalami pergeseran menjadi 'statusmu, harimaumu',” pungkas pemilik Law Firm Togar Situmorang & Associates ini.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

Mobdin Terbalik itu Biasa Digunakan Wakil Ketua DPRD

Senin, 07 Agustus 2017
Nusantara

Video Joged Bumbung Erotis Viral di Medsos

Jumat, 24 November 2017

Komentar