Tirtawan Puji Terobosan Koster, Kecuali Soal Ini

Rabu, 12 September 2018 | 21:28 WIB
Share Tweet Share

I Nyoman Tirtawan. [foto: indonesiakoran.com/ san edison]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Di hadapan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Bali, Senin (10/9/2018) lalu, Gubernur Bali Wayan Koster, membeberkan ide-ide cemerlang yang menjadi terobosannya dalam memimpin Pulau Dewata lima tahun ke depan.

Ada cukup banyak ide mantan anggota DPR RI tiga periode itu. Ide-ide yang menjadi terobosan Koster tersebut pun, mendapat pujian banyak kalangan, tak terkecuali dari anggota DPRD Provinsi Bali.

"Ide-ide terobosan gubernur baru, Pak Koster, kepada OPD itu luar biasa," puji anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali, Nyoman Tirtawan, di Denpasar, Rabu (12/9/2018).

Ia bahkan secara khusus mendukung rencana Koster dalam mewujudkan kemandirian energi listrik di Bali. Apalagi hal ini juga telah disampaikan Koster, saat memaparkan visi dan misinya pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi Bali, Sabtu (8/9/2018) lalu.

Politikus Partai NasDem asal Buleleng yang dikenal vokal ini, menyebut, Koster yang mencita-citakan pembangunan pembangkit tenaga listrik yang bisa memenuhi kebutuhan Bali menyeluruh, melepas ketergantungan pada PLTU Paiton, Jawa Timur, harus didukung penuh.

Apalagi, Koster mendorong realisasi pembangunan pembangkit listrik di Celukan Bawang, namun tidak dengan menggunakan bahan bakar batubara.

"Kita dukung sumber energi listrik yang ramah lingkungan, green energy," kata Tirtawan, yang kembali tampil sebagai calon anggota DPRD Provinsi Bali untuk Dapil Buleleng pada Pileg 2019 mendatang dari Partai NasDem.

Walaupun memberikan dukungan, namun khusus terkait sumber energi listrik ramah lingkungan, Tirtawan cukup berbeda dengan Koster.

Jika Koster menetapkan harga mati agar bahan bakar pembangkit listrik Celukan Bawang menggunakan gas, maka Tirtawan mendorong untuk menggunakan sampah sebagai sumber energi listriknya.

"Di banyak negara maju di Eropa, seperti Jerman dan lainnya, sudah menggunakan sampah sebagai sumber energi listrik. Saya mendorong Pak Koster, untuk memperjuangkan agar pembangkit listrik Celukan Bawang bisa menggunakan teknologi yang bisa mengolah sampah menjadi energi listrik," tandas Tirtawan.

Anggota Fraksi Panca Bayu DPRD Provinsi Bali ini menambahkan, ada banyak manfaat yang diperoleh dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber energi listrik.

Selain sumber energi listrik Celukan Bawang ramah lingkungan, masalah sampah di Bali juga dengan sendirinya teratasi. Sampah-sampah yang ada tersebut bisa dibawa ke Celukan Bawang untuk diolah menjadi sumber energi listrik.

"Sampah-sampah yang ada tidak menumpuk lama di tempat pembuangan sampah. Semuanya dibawa ke Celukan Bawang. Bali jadi bisa bebas dari masalah sampah," tandas otak di balik pemangkasan Rp98 miliar alokasi dana Pilgub Bali 2018 lalu itu.

Bagi Tirtawan, sampah-sampah itu juga bisa bernilai ekonomis. Sebab, Pemprov Bali bisa menjual sampah tersebut ke perusahaan pembangkit listrik di Celukan Bawang itu.

"Jadi masalah sampah bisa diatasi, uang juga dapat. Tinggal nanti disiapkan container dan diangkut dengan kapal laut ke Celukan Bawang," urai Tirtawan.

Dengan menggunakan sampah sebagai sumber energi listrik, imbuhnya, maka akan terwujud Bali Green dan Clean.

"Sumber energi listrik ramah lingkungan dengan menggunakan sampah. Masalah sampah juga teratasi. Kita bisa mewujudkan Bali Green and Clean," ucapnya.

Tirtawan mengaku pernah menyampaikan ide ini kepada Gubernur Bali Made Mangku Pastika, beberapa bulan sebelum masa jabatannya berakhir pada 29 Agustus lalu. Usulannya pun tak bisa ditindaklanjuti, karena masa jabatan Mangku Pastika berakhir.

Kini, Tirtawan mengharapkan Koster untuk menindaklanjuti hal ini dengan meminta investor yang membangun pembangkit listrik Celukan Bawang agar menggunakan sampah sebagai sumber energinya.

"Ini bisa diwujudkan. Teknologi mengolah sampah menjadi energi listrik itu sudah ada. Sumber sampah di Bali itu cukup. Saya harap, gubernur baru (Wayan Koster, red) bisa memperjuangkan ini. Negara-negara di Eropa sudah menerapkan teknologi itu," ujar Tirtawan.

Sebelumnya saat menyampaikan visi dan misi pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi Bali, Sabtu (8/9/2018), Koster mengulas tentang kemandirian energi di Bali.

Dikatakan, semua pembangkit listrik di Bali ke depan harus berbahan baku energi ramah lingkungan dan berkelanjutan, baik dari air, matahari, atau energi terbarukan.

Saat ini, imbuhnya, Bali memiliki kesiapan listrik 1.290 megawatt. Kebutuhan optimal dalam situasi normal sebesar 800 megawatt. Yang menjadi masalah adalah dari 1.290 megawatt ini, 340 megawatt berasal dari PLTU Paiton, Jawa Timur yang disalurkan melalui kabel bawah laut.

Ke depan, Koster mencita-citakan pembangunan pembangkit tenaga listrik yang bisa memenuhi kebutuhan Bali menyeluruh, melepas ketergantungan pada PLTU Paiton.

“Cuma 340 megawatt. Kita bangun saja. Ada persyaratannya. Harus green energy. Saya sampaikan pada kesempatan ini. Di Celukan Bawang sekarang ada pembangkit listrik berkekuatan 300 lebih megawatt. Bahan bakarnya adalah batu bara. Dikembangkan lagi dengan kapasitas 300 megawatt. Juga dengan batubara. Saya sudah bicara dengan yang berinvestasi di situ. Bapak boleh melanjutkan usaha ini asal bahan bakarnya diganti dengan gas. Kalau batubara Bapak pakai, saya tidak akan menyetujui. Kalau Bapak sudah punya izin akan saya cabut,” beber Koster.

Terkait kemandirian energi, Koster menegaskan Bali harus mengembangkan energi yang sehat alias mengurangi risiko polusi. Semua pembangkit listrik di Bali ke depan harus berbahan baku energi ramah lingkungan dan berkelanjutan, baik dari air, matahari, atau energi terbarukan.

“Jangan lagi berpikir dengan yang lain. Pokoknya sudah titik. Kalau tidak mau dengan model ini. Ya, silakan jangan lama-lama di Bali,” kata Koster.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar