Koster: Hindu Bali Miliki Hari Kasih Sayang Tersendiri

Selasa, 13 Februari 2018 | 13:14 WIB
Share Tweet Share

Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali, Wayan Koster dan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. [foto: istimewa]

[DENPASAR] Bulan Februari, identik dengan hari kasih sayang. Betapa tidak, setiap tanggal 14 Februari, hampir seluruh penduduk dunia merayakan hari kasih sayang.

Ya, tiap tanggal 14 Februari dirayakan oleh para muda-mudi sebagai hari kasih sayang. Mereka menyebutnya Valentine. Perayaan hari kasih sayang itu tak terkecuali terjadi di Bali.

Namun, Calon Gubernur Bali yang diusulkan PDI Perjuangan, Wayan Koster, mengungkapkan bahwa Hindu sejak dahulu sesungguhnya memiliki hari kasih sayang.

Seperti apakah valentine versi Hindu?

"Kita punya sendiri kok, hari kasih sayang yang penuh dengan makna," kata Koster, saat memaparkan visi misi di Wantilan Pura Samuan Tiga Gianyar, beberapa waktu lalu.

Hari yang dimaksud Koster, tak lain adalah Tumpek Klurut yang terdapat pada kalender umat Hindu Bali.

Pada hari itu, ia berharap semua orang akan menumpahkan rasa kasih sayang terhadap sesama, tak terkecuali pejabat di semua tingkatan.

"Nanti pada saat Tumpek Klurut, sembahyang dulu di Merajan lalu gubernurnya, bupatinya, sama anak-anak mudanya kita kumpul-kumpul. Sore-sore gitu, kita ngopi berbahagia bareng-bareng," ucapnya.

Saat ini, diakuinya, perayaan keagamaan mulai sedikit mengikis di Bali. Hal itu tak lain akibat berubahnya manusia Bali pada masa kekinian.

Dahulu, kata Koster, orang Bali dikenal sebagai pribadi yang rajin, tekun, seken, saja, beneh, luwih, kreatif dan inovatif. Kini hal itu makin memudar.

Dahulu juga manusia Bali memiliki perilaku yang bersumber pada kearifan lokal yang rendah hati, tak suka gegabah dan sombong serta loyal dan berdedikasi tinggi. Keunggulan itu, menurutnya, tak dimiliki oleh orang lain.

Hanya saja, cara berpikir orang Bali saat ini sudah berubah, di mana lebih cenderung pragmatis, konsumtif, mengalami degradasi moral dan kurangnya kecintaan terhadap adat budaya.

Hal itu menyebabkan ikatan solidaritas terhadap sesama atau menyama braya semakin hilang. Ia tak mau hal itu terjadi.

Melalui konsep yang diberi nama 'Nangun Sat Kerthi Loka Bali', Koster percaya persoalan Bali bisa ditanggulangi.

"Ke depan, Pola Pembangunan Semesta Berencana harus menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama dan Gumi Bali yang sejahtera dan bahagia, baik sekala maupun niskala, sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno," tegas Koster.

"Untuk menjalankan ini harus totalitas. Saya siap untuk itu," imbuhnya.

Koster bahkan menegaskan, jika sudah mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada masyarakat Bali guna menciptakan tatanan kehidupan holistik yang mencakup tiga dimensi.

Pertama, terpeliharanya keseimbangan alam manusia dan kebudayaan Bali. Kedua, terpenuhinya kebutuhan, harapan dan aspirasi krama Bali di berbagai aspek kehidupan.

"Dimensi ketiga yakni terantisipasi munculnya permasalahan dan tantangan Bali, baik negatif maupun positif dalam skala lokal, nasional dan global," tegas Koster.

Tumpek Klurut merupakan hari kasih sayang umat Hindu Bali. Klurut berasal dari kata Lulut, yang berarti senang atau cinta. Lulut juga bisa diartikan sayang.

Pada hari raya Tumpek Klurut, sarana banten yang dihaturkan yakni Sekartaman yang merupakan bentuk ungkapan rasa sayang kepada siapa saja yang memunculkan energi positif dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Tak salah, jika pemimpin Bali ke depan lebih memilih Tumpek Klurut sebagai hari kasih sayang ketimbang merayakannya pada tanggal 14 Februari yang disebut Valentine.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar