Dikecam PENA NTT, Ini Klarifikasi Kemendikbud

Rabu, 06 Desember 2017 | 22:29 WIB
Share Tweet Share

Aksi puluhan wartawan yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT di Bali serta mahasiswa asal NTT dari berbagai kampus di Bali, mengecam pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, di Denpasar, Bali, Rabu (6/12/2017). [foto: indonesiakoran.com/ san edison]

[JAKARTA] Perhimpunan Jurnalis (PENA) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali, mengecam pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy, mengenai hasil Programme for International Student Assessment (PISA).

PENA NTT bahkan mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengevaluasi kinerja Mendikbud, dan jika perlu mencopot Muhadjir Effendy dari jabatannya.

Kecaman sekaligus desakan PENA NTT di Bali ini, langsung direspon pihak Kemendikbud.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (BKLM Kemendikbud) Ari Santoso, menegaskan, tidak ada maksud Mendikbud untuk merendahkan masyarakat NTT.

Menurut dia, adapun konteks yang disampaikan Mendikbud adalah sebagai salah satu sampel untuk laporan PISA, kualitas pendidikan di NTT masih di bawah rata-rata nasional.

“Mendikbud menekankan pentingnya pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Saat ini Kemendikbud fokus mengatasi kesenjangan melalui berbagai program afirmasi, khususnya untuk Indonesia di bagian timur,” jelas Ari Santoso, di Bandung, Rabu (6/12/2017).

Ari Santoso menekankan, bahwa di dalam PISA, seorang siswa dikatakan memiliki tingkat literasi yang baik apabila ia mampu menganalisis, bernalar, dan mengomunikasikan pengetahuan dan keterampilannya dalam matematika, sains dan membaca dengan baik.

"Tentunya hal tersebut berkaitan erat dengan kondisi ekosistem pendidikan secara umum di suatu wilayah yang dijadikan sampel," ujarnya.

"Kita bisa melihat bahwa secara umum, kondisi pembangunan manusia di NTT masih di bawah rata-rata nasional. Indeks Pembangunan Nasional NTT sebesar 63,13; sedangkan rata-rata nasional sebesar 70,18. Capaian Ujian Nasional tahun 2016 provinsi NTT juga masih di bawah rata-rata nasional," imbuhnya.

Adapun rata-rata nilai Uji Kompetensi Guru Provinsi NTT, menurut dia, di bawah rata-rata nasional yakni 50 dari rata-rata nasional 56. Sementara jumlah akreditasi sekolah, juga masih rendah.

“Sebanyak 70 persen sekolah di NTT belum terakreditasi,” urai Ari Santoso.

Ia menambahkan, berangkat dari data tersebut, Mendikbud Muhadjir Effendy menginginkan agar pemerintah pusat dan daerah terus bekerja sama dalam pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di Provinsi NTT.

“Kemendikbud masih dan akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas dan mewujudkan pemerataan akses pendidikan di NTT. Setidaknya sudah ada sekitar 400 miliar dana bantuan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di NTT sejak tahun 2016,” papar Ari Santoso.

Dikatakan, Kemendikbud juga menjadikan NTT sebagai prioritas pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan.

Di tahun 2016, Kemendikbud menyalurkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) sebesar Rp 1.282,34 miliar untuk Provinsi NTT.

Untuk membantu siswa dari keluarga miskin dan rentan miskin agar terus melanjutkan pendidikan, pemerintah menyalurkan bantuan pendidikan Program Indonesia Pintar kepada 567.827 siswa.

Berbagai lokakarya, pelatihan, dan fasilitasi untuk meningkatkan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan juga terus dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan komunitas profesi, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG), dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP).

“Dua tahun terakhir ini, pemerintah menugaskan lebih dari seribu orang guru garis depan untuk membantu pendidikan di daerah terdepan, terluar, tertinggal di NTT,” kata ucapnya.

Kerja sama pemerintah pusat dengan pemerintah Provinsi NTT, diklaimnya semakin menunjukkan hasil capaian positif.

"Rerata Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) Provinsi NTT di tahun 2015 sebesar 73,12; sedangkan secara nasional sebesar 63,28," kata Ari Santoso.

"Secara umum, tren positif nampak pada Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Provinsi NTT yang semakin meningkat di semua jenjang. APK untuk Sekolah Dasar mencapai 110,33; untuk Sekolah Menengah Pertama sebesar 103,12; dan untuk Sekolah Menengah Atas/Kejuruan sebesar 85,1," pungkasnya.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

Simon Nahak Dukung Perjuangan PENA NTT

Selasa, 12 Desember 2017
Nusantara

Mendikbud Ingkar Janji, PENA NTT Layangkan Somasi

Rabu, 13 Desember 2017

Komentar