Pria di Lombok Ini Nikahi Dua Gadis Sekaligus

Jumat, 07 Juli 2017 | 11:10 WIB
Share Tweet Share

Ilustrasi

[MATARAM] Ada kejadian tak lazim di Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Seorang pria menikahi dua gadis sekaligus.

Pria yang menikahi dua gadis sekaligus itu, diketahui bernama Senum. Pria 22 tahun ini adalah warga Desa Bilelando, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah.

Adapun dua gadis yang dinikahinya sekaligus adalah Liana dan Janatul Fatmi.

Senum melaksanakan adat merariq, yakni melarikan anak gadis untuk dinikahi, pada Senin (26/6/2017) lalu. Dia mendatangi rumah kedua calon istrinya.

Liana yang pertama, Janatul kemudian. Keesokan harinya, akad nikah digelar.

"Berdasarkan informasi yang kami terima, mereka sudah lama pacaran. Lalu ya itu, minggu lalu menikah," kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi NTB Ahsanul Khalik, sebagaimana dilansir detik.com, Kamis (6/7/2017).

Ia mengakui, jika pernikahan tersebut tidak biasa.

"Kalau pernikahan dini memang masih banyak di sana, tapi untuk pernikahan seperti ini jelas tidak lazim," ucapnya.

Sementara itu Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyayangkan pria di Lombok Tengah yang menikahi dua wanita sekaligus.

Bagi Komnas Perempuan, kejadian itu merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

"Ya menurut saya itu salah perlakuan diskriminatif, tapi harus dicari motifnya apa. Diskriminasi bisa juga akan berujung pada kekerasan terhadap perempuan, nah atau itu bentuk kekerasan terhadap perempuan, eksploitasi ka, apa persisnya kita tidak tahu," ujar Ketua Komnas Perempuan, Azriana Rambe, Jumat (7/7/2017).

Azriana pun menyayangkan praktik adat yang mengizinkan pernikahan pria terhadap dua wanita sekaligus.

Harusnya, menurut dia, praktik adat tersebut tidak lagi berlangsung untuk menghindari diskriminasi terhadap perempuan. 

"Kita tahu adat di sebagian besar masyarakat Indonesia itu memang prosesi pernikahannya tidak selalu bisa memenuhi aturan yang sebagaimana di UU Perkawinan. Jadi kalau pernikahan itu dilakukan secara adat, tentu kita menyayangkan praktik-praktik adat seperti itu masih berlangsung," tegasnya.

Harusnya, demikian Azriana, karena Indonesia sudah meratifikasi konvensi anti-diskriminasi, maka segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan termasuk praktik-praktik adat yang mendiskriminasi perempuan, tidak lagi berlangsung.

Azriana mengingatkan, undang-undang di Indonesia juga melarang pernikahan dengan dua wanita sekaligus.

"Sebenarnya kan dalam aturan kita itu perkawinan itu kan monogami, artinya satu istri dan satu suami. Dan artinya kalau ada terjadi perkawinan yang poligami itu kan harus ada satu persyaratan yang terpenuhi," jelasnya.

Komnas perempuan akan mengecek proses pernikahan pria kepada dua wanita sekaligus di Lombok ini.

"Kami akan mengecek, mencari tahu lebih jelas tentang praktik pernikahan ini, persisnya seperti apa. Kita butuh informasi itu (motifnya) kalau memang secara adat ini prosesnya seperti apa, kenapa ini masih terjadi," pungkas Azriana.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar