Duh, Warga Elar Selatan Malah Dilayani Pemkab Ngada, ke Mana Pemkab Matim?

Rabu, 31 Mei 2017 | 17:16 WIB
Share Tweet Share

Salah satu kondisi jalan di Kecamatan Elar Selatan, Manggarai Timur. [foto: istimewa]

[LABUAN BAJO] Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngada. Konon, daerah ini masih jauh dari perhatian Pemkab Manggarai Timur.

Masalah ini pun mendapat perhatian khusus dua aktivis muda asal daerah itu, Denyi Sole dan Ferdinandus. Mereka berpandangan, dua periode kepemimpinan Bupati Yosef Tote dan Wakil Bupati Agas Andreas (Paket YOGA) di Manggarai Timur, justru belum memberikan perubahan yang signifikan bagi warga Elar Selatan.

Ferdinandus yang akrab disapa Nandik misalnya, secara khusus menyoroti Cengka Ciko (Membuka Daerah Terisolasi), yang digembar-gemborkan Paket YOGA pada saat masa kampanye dulu. "Itu hanya bahasa pencitraan di masa kampanye," ujarnya, saat dikonfirmasi melalui saluran telepon, Rabu (31/5/2017).

Faktanya, kata dia, di perbatasan Manggarai Timur saat ini masih banyak daerah terisolir. Jangankan pembangunan infrastruktur, pelayanan di bidang lainnya bagi masyarakat Elar Selatan pun jauh panggang dari api.

Yang membuat Nandik terperangah, justru kondisi masyarakat Elar Selatan ini mendapat perhatian dari Pemkab Ngada lebih khusus Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada. Sebab tak jarang, masyarakat Elar Selatan malah mendapat pelayanan kesehatan di wilayah Ngada.

"Saya memberi apresiasi yang tak terhingga kepada Pemkab Ngada, lebih khusus Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada. Selama ini banyak orang tua kami, warga Elar Selatan, sering kali mendapat pelayanan kesehatan dari Kabupaten Ngada," bebernya.

Selama ini, lanjut Nandik, banyak warga Elar Selatan yang sakit, walaupun harus melewati sawah dan hutan bahkan menyeberang kali besar di perbatasan, memilih mendapatkan pelayanan dan perawatan di rumah sakit di Kabupaten Ngada.

"Orang tua kami tidak bisa ke Borong yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur untuk datang merawat ataupun berobat. Alasannya, selain jalan rusak dan susah dilewati, biaya transportasi juga sangat mahal," tegas Nandik.

Bagi Nandik, apa yang dialami masyarakat di Elar Selatan adalah gambaran penjajahan yang masih tersisa di era ini. "Inilah daerah kami. Kami masih dijajah bahkan dilupakan oleh pemerintah yang ada," tandasnya.

Sementara Denyi Sole menambahkan, Cengka Ciko yang begitu manis dijanjikan Paket YOGA saat masa kampanye dulu, hingga kini hanya sebatas slogan. Buktinya, Pemkab Manggarai Timur seakan-akan menutup mata dan telinga dengan kondisi masyarakat di perbatasan.

"Slogan Cengka Ciko hanya sebatas strategi memenangkan kursi panas di Pilkada. Derita warga perbatasan dianggap sepele. Bahkan segala tuntutan warga Elar Selatan selama ini tidak diindahkan," tutur Denyi Sole, dengan nada kecewa.

Pemkab Manggarai Timur, imbuhnya, seharusnya malu dengan Pemkab Ngada. Sebab tanpa membeda-bedakan, Pemkab Ngada melalui Dinas Kesehatan membuka pintu bagi masyarakat Elar Selatan yang menyeberang perbatasan guna mendapatkan pelayanan kesehatan.

"Warga dan masyarakat Elar Selatan pantas berterima kasih kepada Pemkab Ngada, kabupaten tetangga. Karena jujur saja, sebagai putra asli Elar Selatan, setiap hari saya melihat pelayanan khususnya kesehatan, yang justru dilakukan Pemkab Ngada," ujarnya.

Ia pun meminta Pemkab Manggarai Timur, untuk tanggap terhadap situasi ini. Jangan sampai, hal ini terus terjadi, dan masyarakat Elar Selatan merasa dimarginalkan oleh pemimpinnya sendiri.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

Pipa PDAM Belu Bocor

Selasa, 23 Mei 2017

Komentar