Provokasi Warga Dukung Tambang, Andreas Agas Dikutuk  

Senin, 29 Juni 2020 | 15:09 WIB
Share Tweet Share

Forum Pemuda NTT

[JAKARTA]- Forum Pemuda NTT-Jabodetabek menggelar aksi demonstrasi penolakan rencana pabrik semen dan penambangan batu gamping di Kampung Luwuk dan Lengko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Senin (29/6/2020). 

Demonstrasi tersebut digelar di dua tempat. Awalnya para demonstran gruduk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kemudian berlanjut ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM). 

Diketahui, investor tersebut bernaung dibawah bendera PT. Istindo Mitra Perdana dan PT Singa Merah. Saat ini, perusahan tersebut telah mengantongi izin eksplorasi. 

Koordinator Lapangan, Ira Sarimin dalam orasinya mengutuk Bupati Matim, Andreas Agas yang secara masif memprovokasi warga dalam mendukung hadirnya pabrik semen tersebut. 

"Mengutuk seluruh pihak-pihak yang menjembatani hadirnya PT. SM dan PT. IMM di Luwuk dan Lengko Lolok," tegasnya
 
Selanjutnya Ira mendesak Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat supaya segera mencabut IUP Eksplorasi Nomor: 540.10/119/DPMPTSP/2019 yang diterbitkan pada tanggal 25 September 2019. Apalagi kata Ira, Laiskodat telah menjanjikan untuk mengentikan tambang di NTT. 

Selain itu Ira mendesak Kementerian ESDM untuk segera menetapkan daerah Luwuk, Lengko Lolok dan sekitarnya sebagai Kawasan Karst sesuai dengan Keputusan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik IndonesiaNomor:SK.8/MENLHK/SETJEN/PLA.3/1/2018 Tentang Penetapan Wilayah Ekoregion Indonesia. 

"Pemerintah harus segera mendesak PT. Istindo Mitra Perdana untuk segera mereklamasi kembali lubang bekas pertambangan di Serise, Kabupaten Manggarai Timur," tegasnya.

Hal yang paling penting kata Ira, DPRD Manggarai Timur, DPRD Provinsi NTT, DPR RI dan DPD RI untuk segera mengeluarkan sikap penolakan secara Lembaga terhadap hadirnya pertambangan di Kawasan Flores, khususnya di Luwuk, Lengko Lolok, Kab. Matim. "Hentikan segala aktivitas pertambangan Geothermal Flores," tukasnya. 

Akan tetapi kata Ira, jika operasi penambangan batu gamping dan pabrik semen tetap dilaksanakan maka akan terjadi marginalisasi rakyat setempat, degradasi lingkungan seperti tercemarnya air. 

"Dan merosotnya kapasitas vegetasi lahan, hilangnya sumber mata air, rusaknya ekosistem laut di sekitar lokasi tambang, banjir, longsor, dan lain-lain," tegasnya. 

Selain itu kata Ira akan terjadi degradasi sosial-budaya. Sepertinya hilangnya mbaru gendang (rumah adat), penti (perayaan syukur pasca panen), lingko (tanah adat), compang (altar persembahan), pa’ang (gerbang kampung). 

Editor: Odorikus


Berita Terkait

Komentar