Mindset Baru, Power is Knowledge

Minggu, 21 Juni 2020 | 09:39 WIB
Share Tweet Share

Poster Tolak Tambang dan Pabrik Semen di Lengko Lolok dan Luwuk, Manggarai Timur, Flores

Oleh Yon Lesek

[INDONESIAKORAN] Logika kemajuan dan kebijakan otoritas pembangunan daerah terus mengalami pergeseran hingga era postmodern kini.

Begini. Dulu Francis Bacon bilang, "knowledge itself is power". Siapa yg bisa merinci, memilah dengan tegas dan jelas secara rasional dan matematis, ia memiliki kekuasaan atasnya. Segalanya bisa diberdayakan. Apa pun itu karena pengetahuan dalam dirinya sendiri sudah menguasai detailnya dan dengan logika itu eksploitasi unlimited atas sumberdaya alam dan manusia menemukan alasannya.

Lalu datang Thomas Hobes, dia bilang, "knowledge is power". Pengetahuan adalah kekuasaan. Bukan lagi pengetahuan dalam dirinya sendiri (ip se), tetapi pengetahuan sebagai alat kekuasaan. Ilmu dipahami sebagai trik untuk menopang intrik pembangunan. Siapa yang bisa mengetahui kelebihan dan kelemahan lawan kita, dia sanggub menguasainya. Maka bisa saja dia akan menjadi leviathan, monster yang melahap siapa saja.

Di sinilah pengetahuan sering kali digadai demi harta, takhta, dan wanita. Banyak intelektual dan cendekiawan melacurkan diri dengan kekuasaan dan berada di seputar lingkaran penguasa yang tak tahu diri mau saja menjadi pengkhianat intelektual dan cendekiawan predator.

Michel Faucault, seorang postmodernis lalu bilang, tidak! Kita bukan mesin di tangan orang. "Power is knowledge." Kekuasaan adalah pengetahuan. Kita harus tahu struktur yang menjadi alasan dan motif kekuasaan. Tidak hanya tahu apa saja yang berbeda, tetapi mengapa sesuatu itu berbeda. Kita tidak hanya asal terima apa kata penguasa, tetapi ada ruang kajian dan kritik yang menyertai dan mendahului pilihan sikap kita atas kebijakan publik.

Karena itu, setiap kebijakan terbuka akan segala interpretasi. Tidak alergi kritik atas tradisi, budaya, kebiasaan, atau sesuatu yang merutin dan melembaga, yang menguasai kita sehingga menganggapnya wajar dilakukan lagi. Yang kemarin berjalan dan sekarang apa perlu dijalankan lagi, adalah pertanyaan dari suatu pemahaman bahwa "power is knowledge".

Ya, sekarang berlaku "Power is knowledge". Kekuasaan itu objek pengetahuan. Harus dikaji dan diuji, termasuk transparansi keuangannya dan intrik pembangunannya. Kekuasaan adalah alat, sarana untuk mewujudkan "bonnum commune" (kebaikan bersama) sebagai cita-cita teleologis dari pengetahuan. Mungkin hal itu baik untuk kita dan hak kita untuk melakukannya, tetapi jika menimbulkan masalah bagi lingkaran yang lebih luas dan menyangkut hajat hidup orang banyak lainnya, hentikan egomu dan leburlah sebagai wujud diri Anda yang adalah "ada bersama dan bersendiri".
#salamwaras
#tolaktambang

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar