Merawat Alam Dibalik Motif Wela Kaweng Kain Songke

Kamis, 21 Mei 2020 | 23:10 WIB
Share Tweet Share

Ben Senang Galus

*Oleh: Ben Senang Galus

Songke adalah tenunan khas masyarakat Manggarai yang berdiam di sisi Barat Pulau Flores. Kain tenun ini wajib  dikenakan saat acara-acara adat. Antara lain saat kenduri (penti), membuka ladang (randang), hingga saat musyawarah kampung (keboro-Nempung). 

Kaum laki-laki biasa mengenakan (tengge), lalu mengombinasikannya dengan destar atau ikat kepala atau sapu khas Manggarai. Sementara para perempuan mengenakan dengan cara yang sama dengan atasan kebaya. Kain songke juga dipakai oleh para petarung dalam tarian Caci serta, dimanfaatkan  sebagai mas kawin (belis) hingga untuk membungkus jenazah. 
 
Sejarah

Pada tahun 1613-1640 kerajaan Gowa Makasar, Sulawesi Selatan pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah Manggarai. Pertemuan dengan berbagai macam kepentingan budaya (hibriditas kebudayaan) melahirkan sesuatu yang baru bagi kebuadayaan orang Manggarai. Termasuk di dalamnya masalah berbusana sehingga kebudayaan dari Makasar sebagiannya dibawa ke Manggarai termasuk juga masalah kain yang dipakai. Orang Makasar menyebut songke dengan sebutan songket, tetapi orang Manggarai lebih mengenalnya dengan sebutan songke (tanpa akhiran huruf t).

Warna dasar benang yang dipakai dalam penenunan songke adalah hitam yang bagi orang Manggarai warna hitam melambangkan arti kebesaran dan keagungan serta kepasrahan kepada Tuhan, bahwa semua manusia pada suatu saat akan kembali kepada Mori Kraeng (Sang Pencipta). 

Sedangkan warna benang untuk sulam umumnya warna-warna yang mencolok seperti merah, putih, orange, dan kuning. Motif yang dipakai pun tidak sembarang. Setiap motif mengandung arti filosofi yang mendalam dan harapan dari orang Manggarai dalam hal kesejahteraan hidup, kesehatan, dan hubungan, baik antara manusia dan sesamanya, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.

Filosofi Motif Songke

Songke biasa dipakai dalam upacara adat seperti penti (Pesta Kenduri), caci (tarian adat Manggarai), lipa tabing (songke yang diberikan oleh kaum laki-laki kepada kaum perempuan pada saat lamaran), kawing (sebagai Belis/Emas Kawin), lipa rapu (pembungkus mayat), randang (membuka kebun baru), nempung (musyawarah), tombo adak (pembicaraan megenai adat) dan kegunaan sehari-hari seperti untuk sarung, pengganti busana ibadah baik kaum perempuan maupun laki-laki, baju, celana, jas, peci dan syal. Akan sangat terhormat apabila seseorang yang bertamu ke keluarga atau tetangganya mengenakan songke.

Songke banyak digemari bukan hanya oleh orang Manggarai sendiri tetapi juga orang dari luar daerah Manggarai bahkan sampai ke luar negeri. Karena disamping kain ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari juga yang tak kalah menarik adalah keindahan berbagai motif yang ketika dipadukan menjadi satu membuat semua yang melihat terkagum-kagum.

Berikut beberapa motif yang sering dipakai dalam penenunan kain songke dan maknanya. Pertama, Motif wela kawu (bunga kapuk), bermakna keterkaitan antara manusia dengan alam sekitarnya. Hubungan manusia dengan alam tidak akan terputus oleh siapa pun  termasuk bencana alam misalnya. 

Manusia Manggarai dengan alam ciptaan mempunyai hubungan transenden dan imanen. Oleh karena itu orang Manggarai dalam selalu mengatakan “uwa haeng wulang langkas haeng awang” , bok leso, wake celer ngger wa, saung bembang ngger eta.

Kedua. Motif ranggong (laba-laba), bersimbol kejujuran dan kerja keras. Orang orang Mangarai dalam perbuatan dan perkataan harus menyampaikan dengan jujur dan apa adanya. Menunjukkan kepada kesederhaan. Dibalik kejujuran ada kebahagiaan. Jujur terhadap sesama, jujur terhadap Tuhan dan jujur terhadap alam semesta (tana lino). Jujur merupakan suatu sikap yang mulia dan penting untuk dimiliki oleh setiap orang.Kita akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain saat kita selalu menjunjung tinggi kejujuran.

Ketiga. Motif ju’i (garis-garis batas), pertanda keberakhiran segala sesuatu, yaitu segala sesuatu ada akhirnya, ada batasnya. Setiap orang pasti mati. Kematian adalah perjumpaan dengan Tuhan. Dalam hidup kita pasti ada awal dan akhir (alpha dan omega). Berakhirnya hidup itu ketika kita melepaskan segala sesuatu dan menuju kepada kesempurnaan hidup (hidup kekal).

Kelima. Motif Ntala (bintang), berkaitan dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam tudak, doa “porong langkas haeng ntala” supaya senantiasa tinggi sampai ke bintang. Maksudnya, agar senantiasa sehat, diberikan umur yang panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa perubahan dalam hidup.

Keenam. Motif wela kaweng (bunga kaweng), akronim dari: Neka Weweng (sayang), yang melambangkan bahwa orang Manggarai bagaikan bunga kecil tapi memberikan keindahan dan hidup di tengah-tengah kefanaan ini. Memberikan cinta, sayang kepada ciptaan Tuhan.

Orang Manggarai dalam hidupnya penuh dengan suka cita, penuh kegembiraan. Hal itu tergambar dalam suasana kebatinan orang Manggarai ketika mereka melakukan pesta adat. Ada mbata, ada sanda. Bunga kaweng memiliki kelopak cantik kecil, ada warna ungu, ada warna merah, dan ada warna putih. 

Bunga kaweng mirip seperti bunga kertas karena teksturnya yang halus dan kelihatan seperti potongan kertas. Bunga kaweng menyimpan arti sweet and lovely, yang bermakna aku tidak akan melupakanmu. Itu mengapa si manis kecil ini disebut sebagai bunga morning glory alias kemuliaan pagi.

Ternyata makna bunga kaweng, morning glory merepresentasikan perhatian/kasih sayang. Kata sayang dibentuk dari kata “Sa” dan “Hyang” dalam konsep Hinduisme. “Sa” berarti satu dan “Hyang” berarti Tuhan. Jika digabungkan, maka definisi kata sayang secara harfiah yaitu Tuhan Yang Satu. Kata sayang sendiri diambil dari filosofi rasa kasih Tuhan kepada setiap makhluknya.

Makna sayang sesungguhnya adalah ketika kita melihat masalah, mencoba memahami masalah dan mencoba menyelesaikan masalah tersebut. Makna sayang sesungguhnya adalah melindungi. Melindungi sendiri mempunyai arti luas mulai dari melindungi secara fisik, mental dan perasaan. Jika kamu memang sayang dengan pasanganmu. Pastilah kamu melindunginya dari hal yang tidak diinginkan.

Apa makna kata sayang (bunga kaweng) sesungguhnya? Dan, apakah berbeda dari kata cinta? Jika diambil bedasarkan pengertian diatas, cinta merupakan perasaan ingin memiliki dan bersifat mengikat. Sedangkan sayang adalah perasaan yang cenderung bersifat memberi tanpa berharap mendapatkan balasan (itulah karakter dasar orang Manggarai). 

Sama seperti bumi. Ia memberi tidak menuntut balasan. Makna kata sayang sesungguhnya adalah perasaan ikhlas. Itulah makna kata sayang sesungguhnya dalam hubungan cinta (cinta terhadap sesama, cinta terhadap alam ciptaan tuhan, cinta terhadap kampung halaman, cinta kepada beo,dll). 

Oleh karena orang Manggarai wajib melestarikan dan memelihara keutuhan ciptaan Tuhan. Jangan lagi sembarangan menggunakan kata sayang karena memiliki makna tinggi. Mulailah memahami makna kata sayang sesungguhnya dalam hubungan cintamu dengan alam semesta. Alam semesta harus dirawat dengan tidak mengeruk isinya. Biarkan tetap lestari. Berinvestasi harus selalu bersahabat dan ramah alam.

*Penulis adalah Warga Manggarai dan tinggal di Yogyakarta

Editor: Odorikus


Berita Terkait

Komentar