Covid-19 dan Kecemasan Eksistensial

Rabu, 18 Maret 2020 | 08:25 WIB
Share Tweet Share

Petrus Tan

Oleh: Petrus Tan*

Pandemi Covid-19 menunjukkan batas-batas diri manusia modern. Ketika semua kesibukan dipaksa berhenti, mobilitas yang tinggi dipaksa untuk diam, kebisingan dan hiruk pikuk dipaksa senyap, dan segala rutinitas keseharian diputus mata rantainya, kita, masyarakat modern, terlempar ke keterasingan yang mengerikan.

Harus diakui, masyarakat modern adalah masyarakat yang tenggelam dalam rutinitas keseharian yang padat, nomad sejati yang selalu bergerak, tak kenal diam. Didorong oleh idealisme untuk memeluk kemajuan setinggi mungkin, masyarakat modern tak pernah punya waktu untuk merenungkan palung terdalam eksistensinya.

Situasi ini membuat masyarakat modern tidak mengalami apa yang filsuf eksistensial Jerman, Heidegger, sebut sebagai "kecemasan eksistensial". Alih-alih mengalami kecemasan eksistensial, masyarakat modern adalah masyarakat yang tercerabut dari akar-akar eksistensinya.

Kecemasan (angst), menurut Heidegger, tidak sama dengan ketakutan (anguish). Ketakutan adalah "several mental pain", fear, sesuatu yang lebih psikologis sifatnya. Rasa takut berkaitan dengan objek yang nyata, seperti takut akan kuburan, atau takut akan virus Corona. Represi akibat rasa takut bisa menyebabkan hilangnya keseimbangan.

Tapi "kecemasan" selalu eksistensial sifatnya, suatu keadaan di mana seseorang menjadi sadar akan kemungkinan ketidakberadaannya. Heidegger menyebutnya sebagai kesadaran akan "ada menuju kematian", sebuah kesadaran yang paling primordial pada manusia. Kecemasan tidak berkaitan dengan sesuatu yang konkret. Dia hanya berhubungan dengan "ada", dengan eksistensi.

Seseorang yang cemas secara eksistensial akan dibenturkan pada pertanyaan-pertanyaan ini: Dari mana saya berasal? Ke mana saya pergi? Mengapa saya ada? Apa tujuan hidup saya? Untuk apa saya ada?

Agama telah berusaha menjawab semua pertanyaan ini. Tapi seseorang yang sungguh-sungguh bercakap-cakap dengan eksistensinya, dan menghentikan semua obrolan dangkal di media sosial serta rutinitas keseharian yang padat, bisa merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini tanpa perlu tuntunan agama dan Kitab Suci.

Di hari-hari ini, ketika semua kesibukan dan rutinitas dikurangi atau berhenti, jadwal-jadwal yang teratur menjadi berantakan, mata rantai rutinitas keseharian diputuskan, persentuhan dengan orang dibatasi, dan ketika kita terlempar dalam kesendirian, kita diajak untuk "bercakap-cakap" dengan eksistensi kita.

Masyarakat modern tentu saja tak biasa "bercakap-cakap" dengan eksistensinya karena tuntutan kesibukan, rutinitas, mobilitas dan jadwal yang padat dan tinggi. Kehilangan gairah untuk bercakap dengan eksistensi, atau raibnya "mistik keseharian" dan "kontemplasi diri" itu membuat masyarakat modern menjadi banal dan dangkal.

Namun, hari-hari ini, ketika Covid-19 memutuskan semua mata rantai rutinitas, kita seakan-akan didesak untuk menepi pada eksistensi dan terlempar kepada kesendirian. Kita tentu saja bisa memilih antara rasa takut atau kecemasan eksistensial. Rasa takut menuntut kita untuk memperhatikan semua instruksi pemerintah dan tenaga kesehatan agar terhindar dari paparan Covid-19.

Tapi manusia yang otentik bisa melampaui sekadar rasa takut menuju kepada kecemasan eksistensial. Dengan berhentinya roda kesibukan dan berkurangnya mobilitas , kita, masyarakat modern diajak untuk pulang ke rumah eksistensi kita, merenungkan palung terdalam kehidupan kita.

Di sana, di ruang percakapan dengan eksistensi, kita, masyarakat modern, mungkin akan menemukan bahwa di samping segala bentuk idealisme kemajuan dan arogansi kemewahan yang memaksa kita untuk terus bergerak, bising, hiruk-pikuk, tenggelam dalam rutinitas dan jadwal yang serba padat, eksistensi kita sesungguhnya rapuh. Oleh rasa takut, kita tentu melawan Covid-19. Tapi oleh kecemasan eksistensial, ancaman Covid-19 membuat kita sadar akan kerapuhan eksistensi kita masing-masing.

*Penulis adalah Imam SVD dan Bertugas di UNIKA Kupang

Editor: Odorikus


Berita Terkait

Komentar