Merasa Ditindas, Atlet Olimpiade Iran Ini Pindah Warga Negara

Selasa, 14 Januari 2020 | 04:20 WIB
Share Tweet Share

Atlet Olimpiade Iran, Kimia Alizadeh

[TEHERAN, INDONESIAKORAN.COM] Satu-satunya atlet putri peraih medali Olimpiade Iran, Kimia Alizadeh, pindah warga negara karena merasa tertindas. Alizadeh merupakan atlet taekwondo putri Iran yang sukses meraih medali perunggu di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Ia memutuskan hijrah ke Eropa karena merasa tertindas.

Wanita berusia 21 tahun itu mengklaim sebagai satu dari jutaan perempuan yang tertindas di Iran. Ia mengaku tak ingin menjadi bagian dari kemunafikan, kebohongan, ketidakadilan, dan sanjungan berlebihan.

"Saya salah satu dari jutaan wanita yang tertindas di Iran, yang mereka permainkan selama bertahun-tahun," tulis Alizadeh dalam instagram.

"Saya memakai apapun yang mereka perintahkan," kata Alizadeh, merujuk pada kerudung yang wajib dikenakan wanita muslim di depan publik.

Wanita kelahiran Karaj, 10 Juli 1998, itu mengaku terpaksa mengulangi hal yang diperintahkan. Ia pun menyebut keberadaan wanita dipandang sebelah mata di Iran.

"Tiada satupun dari kami yang berarti bagi mereka dan Tidak ada yang mengundang saya ke Eropa," tulis Alizadeh tanpa menyebutkan lokasi di mana ia tinggal saat ini.

Kabar hilangnya Alizadeh sempat mengejutkan pemerintah Iran. Politisi Iran Abdolkarim Hosseinzadeh menuding "pejabat-pejabat tidak becus" karena membiarkan "sumber daya manusia kabur".

Kantor berita semi-resmi Iran, Isna, membuat laporan yang menyebut: "Kejutan bagi taekwondo Iran. Kimia Alizadeh telah beremigrasi ke Belanda."

Isna meyakini Alizadeh kini sedang berlatih di Belanda dan berharap bisa tampil di Olimpiade Toko 2020. Namun, sudah tidak lagi berada di bawah bendera Iran.

Alizadeh mengaku tak tahu harus mengatakan selamat tinggal atau belasungkawa. Ia tak mau membeberkan rencananya namun ia menegaskan tetap merasa sebagai "anak Iran" di manapun ia menetap.

Iran sendiri tengah bersitegang dengan Amerika Serikat usai perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani tewas dalam serangan pesawat tak berawak pada 3 Januari lalu.

Iran mengutuk keras serangan AS tersebut dan berjanji akan membalas kematian Soleimani. Sejumlah rudal dan roket menghantam basis AS di Irak. Salah satu rudal Iran secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat Ukraina yang menewaskan 176 penumpang.

Editor: Putri


Berita Terkait

Komentar