Sumpah Pemuda dan Arah Pendidikan Generasi Millenial

Senin, 28 Oktober 2019 | 10:22 WIB
Share Tweet Share

Penulis (Foto: dokpri)

"Apa yang menjadi terobosan Politeknik eLbajo Commodus adalah salah satu bentuk pemaknaan Sumpah Pemuda oleh generasi millennial." 

Oleh: Adrianus Nabung*

[INDONESIAKORAN.COM] Salah satu pidato paling fenonmenal dari Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno, berbunyi berikut: “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Apa makna di balik retorika ini? Sang Founding Father hendak menghentak kesadaran generasi muda bahwa di pundak merekalah api masa depan NKRI akan tetap bernyala. Ia hendak mengajak anak-anak muda untuk bahu membahu membangun bangsa ini kini dan di masa depan. 

Hari ini, genap 91 tahun usia Sumpah Pemuda yang terus bergema dan bergaung sejak pertama diikrarkan. Bagi sebagian orang peringatan hari bersejarah ini tidak lebih daripada sekedar romantisme historis. Akan tetapi tentu akan berbeda pemaknaannya jika ditarik benang merah relevansinya dengan konteks kekinian. Sebagian orang, saya yakin, akan memetik makna yang berbeda dan signifikan tentang dua eksistensi monumental sumpah pemuda. Tentang yang dulu dan tentang yang sekarang dan bila perlu tentang proyeksi masa depan.

Sumpah Pemuda lahir dari suatu ikhtiar bersama. Kalau momentum lampau gaung dan auman ikrar pemuda mampu menyatukan berbagai elemen pemuda untuk secara bersama-sama mengusir penjajahan dari bumi pertiwi melalui perang frontal kemerdekaan dan penegakan kedaulatan sebuah bangsa bernama Indonesia, makna mestinya oleh generasi milenial, auman itu kembali digemakan untuk memperkokoh eksistensi dan kesatuan bangsa dengan keempat pilarnya dalam perang digital atau yang kita kenal saat ini dengan istilah proxy war.

Secara fisik ancaman terhadap keutuhan bangsa memang tak tampak. Tetapi hadirnya sejumlah ideologi pemecah belah bangsa dan membanjirnya dunia digital kita oleh berita-berita hoax memperlihatkan bahwa kita sesungguhnya tengah berdiri di tengah medan tempur. Kita sedang berada pada ancaman keterpecahan oleh menguatnya politik identitas ketika keutuhan bangsa mulai terpolarisasi. Bangsa ini membutuhkan 10 pemuda dan mungkin lebih daripada itu untuk kembali mengguncang dunia maya, dunia tanpa batas. Kita tengah berhadapan dengan dunia lepas kendali, atau dalam bahasa futuristik Anthony Giddens: run away world.

Meluruskan Arah Pendidikan

Pendidikan di era millennial mencatat persoalan tersendiri dalam membentuk generasi muda. Ada baying-bayang ketakutan di sejumlah wajah generasi terdahulu ketika kelompok muda abai terhadap pembentukan jati dirinya melalui pendidikan. Dunia pendidikan mulai dipengaruhi oleh anasir-anasir jahat yang hendak membelokkan arah sejarah bangsa ini.

Keterlibatan sejumlah kelompok pemuda dalam aksi-aksi terorisme global, terlibat dalam demonstrasi anarkis, hadirnya kelompok pendukung gerakan ideologi antidemokrasi dan antipancasila adalah tanda dan ancaman nyata terhadap keutuhan Bangsa Indonesia, sekaligus bertendensi memberangus Ikrar Pemuda 1928 itu sendiri.

Ketika setiap orang dengan mudah memproduksi berita bohong (hoax) dan mengamplifikasinya sedemikian rupa sehingga efektif menciptakan kekacauan dan antipati antarkelompok masyarakat, maka di situ pendidikan kehilangan jati dirinya untuk membentuk manusia jujur dan bertanggung jawab. Padahal seyogyanya pendidikan membentuk manusia, yang tidak hanya kaya akan pengetahuan dan cinta terhadap kebenaran ilmiah, tapi juga mempunyai solidaritas sosial yang tinggi sehingga mampu mengembangkan kreativitas dan inovasi untuk kesejahteraan dan kebaikan umum.

Mengenang Sumpah Pemuda sebagai sebuah milestone pengingat generasi millennial hendaknya mengantar generasi terkini untuk semakin mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tujuan-tujuan mulia bagi kemajuan bangsa. Dalam bukunya: Sociological Studies, Pemikir Socio-Psikologi kenamaan Jean Piaget, menulis: Tujuan paling prinsip dari pendidikan adalah menciptakan manusia yang mampu melakukan hal-hal baru, tidak hanya mengulangi apa yang dilakukan generasi sebelumnya: manusia yang kreatif, memiliki daya cipta, dan penemu (1995).

Menjadi Manusia Kreatif dan Berdaya Cipta

Tech savvy (penggemar teknologi) adalah salah satu ciri dominan generasi millennial. Menjawab tantangan perubahan cepat bidang informasi dan teknologi, kaum millennial sudah terbiasa dengan dunia barunya, dunia digital. Akan tetapi, tantangan dan permasalahan pelik juga turut membanjiri era ini. Beragam informasi yang dengan mudah terakses hanya dengan satu sentuhan jari, menyisakan persoalan tersendiri, utamanya di kalangan millennial usia sekolah menengah maupun tinggi. Untuk itu dibutuhkan paradigma dan metode baru dalam mendalami dan mendidik generasi ini. Tantangan paling mendasar di sini tidak lain adalah hal-ikhwal pemecahan persoalan di bidang bisnis dan industri yang dikenal dengan revolusi industri 4.0.

Revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan karya manusia secara fundamental. Revolusi generasi ke-4 ini mempunyai lingkup, kompleksitas dan skala yang lebih luas. Ia tidak hanya mengintegrasikan digitalisasi dunia fisik dan biologis, tetapi juga turut mempengaruhi sejumlah disiplin ilmu yang berimpas pada tatakelola perekonomian, bisnis dan politik pemerintahan.

Terkait dengan dunia pendidikan, revolusi 4.0 menghadirkan pendekatan baru dalam mengintegrasikan kerja manual dan kerja mesin. Keselarasan manusia dan mesin diharapkan akan melahirkan manusia kreatif dan berdaya cipta. Dengan demikian, bicara revolusi 4.0 yang dikaitkan dengan pendidikan tidak terlepas dari daya upaya untuk merespons tuntutan kebutuhan generasi millennial itu sendiri. Dimulai dari tingkat Pendidikan Dasar hingga Perguruan Tinggi, sangat penting dilakukan penyesuaian kurikulum pembelajaran. Kurikulum hendaknya didesain dan dikembangkan untuk menyelaraskan pembelajaran keilmuan dan keterampilan dengan tuntutan dunia usaha. Sikatnya pendidikan ala industri 4.0 harus menghasilkan profil lulusan yang berdaya saing di dunia kerja terkini.

Generasi yang kreatif dan berdaya cipta seyogyanya adalah produk dari sistem pendidikan yang mengedepankan kompetensi dan produktivitas. Dunia pendidikan sendiri harus menjadi centra excellence yang turut mengikuti perguliran roda revolusi industri melalui ouputnya yang berkualitas, baik dalam hal karakter, pola pikir, tata tindak dan utamanya mampu berinovasi dengan media digital yang digandrunginya.

Politeknik eLBajo Commodus: Terobosan via Pendidikan Vokasi

Menjawabi tantangan ini, pemerintah melalui kebijakan proliferasi pendidikan vokasi saat ini sudah pada track yang tepat untuk menjawab tuntutan link and match antara sekolah dan usaha. Maka diperlukan sarana prasarana memadai termasuk infrastruktur pendukung digital untuk menjawab tantangan ini.

Politeknik eLBajo Commodus, meski belia dalam usia, telah melakukan terobosan dimaksud. Ia berupaya menjawab tantangan generasi millennial ini dengan penyediaan fasilitas belajar dan kurikulum serta tenaga pendidiknya yang handal.

“Saat ini, kita telah secara rutin dan berkelanjutan menghadirkan system tata kelola pendidikan yang mengedepankan keselarasan kurikulum dan tuntutan dunia kerja, sehingga kelak lulusan kita akan memiliki daya saing.” Demikian kutipan dari sambutan Ketua Badan Penyelenggara Poltek dalam acara pembukaan Student Week Program belum lama ini.

“Intinya, sebagai lembaga pendidikan vokasi, kita akan selalu menghadirkan para pelaku industri untuk turut serta dalam pengembangan kurikulum dan kerja sama berkelanjutan juga terkait dengan menghadirkan para praktisi ke dalam kelas-kelas pembelajaran atau membawa mahasiswa millennial ini ke perusahaan-perusahaan yang ada. Dengan itu, mahasiswa/I sesuai rencana strategis dan program-programnya telah menetapkan secara tegas bahwa 60% dari kegiatan pembelajaran kita hadir dalam bentuk praktikum, sisanya baru pembelajaran konsep-konsep dan teori-teori pokok."

Apa yang menjadi terobosan Politeknik eLbajo Commodus adalah salah satu bentuk pemaknaan Sumpah Pemuda oleh generasi millennial. Terobosan itu tidak harus sesuatu yang luar biasa, tapi juga melalui jalan biasa-biasa tapi mendatangkan manfaat bagi kemaslahatan umum. Sejumlah program pelatihan keterampilan dan terakomodasinya kreativitas melalui unit-unit usaha (UKM) di bawah payung Bandan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus ini memperlihatkan bahwa mereka memaknai Ikrar Pemuda, tidak hanya melalui demonstrasi dan unjuk kekuatan fisik di jalan-jalan, tetapi juga melalui ruang-ruang kecil di mana dua atau tiga orang berkumpul dan merumuskan perencanaan-perencanaan strategis guna mengembangkan kreativitas dan inovasinya dengan pemahaman yang mereka terima dari matakuliah entrepreneurship (kewirausahaan), digital marketing (pasar digital), Culinary (masakan), dll.

Suatu tindakan kecil dan sederhana yang tak harus terpublikasi media, tapi sudah cukup membekali generasi millennial dengan skills dan keilmuan untuk di kemudian hari menjadi pemuda-pemudi yang handal dalam menggerakkan roda kemajuan bangsa. Para civitas academica Kampus eLBajo telah memulainya dan akan terus berkibar dalam gelora semangat Sumpah Pemuda. Semoga.**

*Penulis adalah Dosen dan Pembina Kemahasiswaan Politeknik eLBajo Commodus, Labuan Bajo, Manggarai

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Opini

Guru adalah Kita Semua

Kamis, 03 Agustus 2017
Opini

Pendidikan Berbasis Budaya

Selasa, 15 Agustus 2017
Opini

Local Wisdom Tak Harus Kalah terhadap Gadget

Selasa, 15 Agustus 2017

Komentar