Ekoheto, Kampung Kopi Berkualitas Tinggi yang Belum Digarap Serius

Minggu, 08 September 2019 | 15:42 WIB
Share Tweet Share

Para petani kopi di Kampung Ekoheto, Desa Persiapan Mukufoka, Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT. [foto: dokumen pribadi valdi pratama]

[KUPANG, INDONESIAKORAN.COM] Wilayah Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi kopi berkualitas tinggi, yang tak kalah dengan kopi dari wilayah lain di Indonesia. Sayangnya, rata-rata kopi di daerah itu belum digarap maksimal.

Bahkan di beberapa titik, kopi berkualitas baik tersebut tidak bisa digarap. Infrastruktur jalan ke sentra produksi, menjadi penyebab utamanya.

Kampung Ekoheto di Desa Persiapan Mukufoka, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, adalah salah satu contoh daerah penghasil kopi berkualitas. Namun perkebunan kopi jenis Arabika milik warga setempat berlokasi di dataran tinggi dengan kontur tanah bebukit.

IMG_20190908_164027

"Jalan menuju ke lokasi perkebunan warga masih belum memadai karena belum diaspal. Jika musim hujan, sarana jalan menuju lokasi perkebunan kopi warga ini licin dan berlumpur," kata Valdi Pratama, mitra petani kopi dari Bali, dalam keterangan tertulisnya yang diterima indonesiakoran.com, di Kupang, Minggu (8/9/2019).

Dijelaskan, selain sarana jalan yang belum diaspal, lokasi perkebunan warga juga tidak datar, seperti wilayah lain di Indonesia.

"Untuk memetik kopi, petani harus melalui perkebunan berbukit - bukit dengan kontur tanah yang terjal, dengan tingkat kemiringan tanah bervariasi di setiap kebun kopi milik warga," beber Valdi Pratama.

IMG_20190908_164112

Minim Perhatian Pemerintah

Menurut warga Kampung Ekoheto, mereka sudah mulai merintis kebun kopi sejak tahun 1970 - an. Setiap warga memiliki luas lahan kopi bervariasi, mulai setengah hektare hingga lebih. Meski sudah mulai berkebun kopi sejak tahun 1970 - an, namun warga mengaku belum memperoleh hasil maksimal dari tanamam kopi.

Selain masalah infrastruktur jalan yang kurang memadai dan kurangnya tenaga kerja petik kopi, warga juga mengaku kurang mendapat perhatian pemerintah. Pendampingan Dinas Pertanian dan bantuan alat - alat pertanian untuk mengurus kebun kopi misalnya, sejauh ini minim.

"Kami kurang difasilitasi Dinas Pertanian, baik kabupaten dan provinsi. Akses jalan yang kami butuhkan juga belum bagus. Padahal hasil kopi di Desa Mukufoka lumayan bagus. Kami juga alami kekurangan alat pemotong rumput, gunting pohon, dan alat - alat lain. Tanah di sini subur sekali, apalagi kami lebih pakai pupuk organik dan tidak mau pupuk kimia," ujar Albertus Meo, tokoh masyarakat Desa Persiapan Mukufoka, sebagaimana dikutip Valdi Pratama.

Albertus, lanjut Valdi Pratama, mengakui bahwa potensi kopi di desa ini saja sangat besar. Apalagi masyarakat di Desa Persiapan Mukofoka memiliki lahan rata-rata 45-50 are per kepala keluarga. Namun potensi kopi yang besar ini belum bisa digarap maksimal karena kurangnya "campur tangan" pemerintah.

"Kami ingin bagaimana agar harga kopi meningkat. Saat ini boleh dikatakan harga kopi kami diatur orang, bukan kami yang atur. Itu kendala. Kami minta bantuan pemerintah pusat agar perhatikan kami seperti daerah lainnya, seperti di Jember (Jawa Timur), Sumatera dan lainnya. Saat ini kopi datangnya dari Bajawa tapi labelnya dari Manggarai atau Flores. Ada kopi merk terkenal, itu kopi kami punya, itu antara lain kelemahan kami di sini," lanjut Albertus.

IMG_20190908_164009

Akses ke Sentra Produksi Harus Dibuka

Valdi Pratama menegaskan, kualitas kopi asal Bajawa sesungguhnya tidak kalah dengan kualitas kopi lainnya di Indonesia. Seperti kopi dari Aceh, Toraja, dan lainnya.

Meski berkualitas, namun potensi besar kopi di tempat ini malah belum digarap maksimal. Di musim panen, masih banyak kopi yang terbuang sia - sia karena terkendala tenaga kerja petik kopi. Belum lagi kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan.

"Potensinya luar biasa. Rata-rata di sini petani sumber utama penghasilannya adalah kopi dengan kualitas kopi yang tidak kalah dari tempat lain bahkan jauh lebih baik karena tanahnya subur dan jarang menggunakan pupuk kimia sehingga tidak terkontiminasi. Satu petani punya dua hingga tiga kebun kopi. Satu kebun petani bisa hasilkan 3 ton gelondongan cherry merah (buah kopi)," urai Valdi Pratama.

Petani desa ini, imbuhnya, memiliki kebun kopi yang kurang terawat karena akses jalan yang susah dilalui. Jalan yang belum diaspal membuat biaya angkut kopi menjadi kendala tersendiri.

"Alangkah baiknya jika dibantu akses jalan, agar gaung kopi mereka terdengar di seluruh pelosok negeri. Mereka di sini benar-benar kaya kopi yang bagus, hanya akses jalan yang kurang. Di musim panen banyak kopi tersisa atau terbuang karena kurangnya tenaga kerja untuk petik kopi. Karena medan yang sulit, akhirnya orang pergi ke dataran yang lebih rendah, padahal di sini potensinya luar biasa," ujarnya.

Warga petani kopi Desa Persiapan Mukufoka, demikian Valdi Pratama, berharap agar pemerintah provinsi dan pusat memperhatikan kondisi mereka. Apabila sarana jalan diperbaiki, maka panen kopi Arabika di perkebunan warga akan dapat dimaksimalkan.

"Jika akses susah dibuka, hasil panen akan optimal. Hal ini akan mampu menyejahterakan hidup para petani kopi setempat," pungkas Valdi Pratama.

Reporter: Laurens LT

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar