Selamat Belajar, Anak-anak Indonesia!

Minggu, 14 Juli 2019 | 22:23 WIB
Share Tweet Share

Feliks Tans

Selamat Belajar, Anak-anak Indonesia!
Oleh Feliks Tans
(Dosen FKIP/Pascasarjana, Undana)

Pada bulan Juli ini, seperti biasa, tahun ajaran baru dimulai di negeri ini. Itulah saat ketika anak-anak Indonesia berbondong-bodong ke sekolah, termasuk lembaga prasekolah dan perguruan tinggi (PT). Mereka memasuki dunia baru: dari pendidikan anak usia dini (PAUD) ke sekolah dasar (SD) ke sekolah menengah pertama (SMP) ke sekolah menengah atas umum (SMA) dan/atau khusus/kejuruan (SMK) ke PT. Yang lainnya, tentu, tetap di tempat. Hanya pindah level. Dari kelas I, misalnya, ke kelas II atau dari semester II ke semester III dan seterusnya. Apapun itu, mereka, anak-anak Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, mengalami pengalaman baru dan, karena itu, lahirlah istilah tahun ajaran baru. Dalam proses itu, tentu, ada yang drop out, secara sengaja atau tidak, bekerja dan/atau menganggur – keluar dari dunia pendidikan formal – walaupun, sejatinya, mereka terus belajar, secara informal, disadari ataupun tidak. Termasuk mereka yang lalu memilih jalur pendidikan nonformal seperti mengikuti kursus untuk memperdalam keahlian dalam bidang tertentu.

Kepada merekalah, kita, orang tua, mengucapkan “Selamat belajar” dan berharap serta berdoa agar mereka semua, satu per satu, dari ujung ke ujung negeri ini, apapun latar belakang suku, agama, ras, dan golongannya, sukses. Bermutu. Berhasil.
Persoalannya adalah apa itu sukses. Apa itu keberhasilan. Menjawab persoalan ini penting, bahkan, saya kira, mahapenting karena adanya tafsiran yang berbeda tentang sukses itu. Bagi sebagian orang, termasuk pemerintah kita, dari daerah sampai pusat, keberhasilan dilihat sebagai nilai ujian sekolah dan nasional yang tinggi. Artinya, yang nilai ujiannya rendah dianggap gagal.

Karena itu, pemerintah menyebut sekolah tertentu favorit/bermutu jika nilai ujian muridnya, secara umum, tinggi. Jika rendah, sekolah itu dianggap sebagai sekolah tidak bermutu. Bukan sekolah favorit.
Karena ujian (nasional) di negeri ini lebih fokus pada persoalan kognitif murid (otak) daripada persoalan psikomotorik (otot) dan afektif/karakternya (hati), mutu seorang muridpun, termasuk mutu sekolah tempat sang murid belajar, diukur lebih oleh kemampuan kognitif murid daripada kemampuan psikomotorik dan/atau afektifnya. Artinya, seorang murid dan, melalui dia, sebuah sekolah akan disebut tidak/kurang bermutu, jika kemampuan kognitif muridnya lemah, walaupun kemampuan psikomotoriknya dan/atau afektifnya baik atau sangat baik sekalipun.

Dengan demikian, menurut pemerintah, keberhasilan, secara umum, identik dengan atau sama dengan kemampuan kognitif yang tinggi dalam banyak mata pelajaran – bukan hanya dalam satu atau dua mata pelajaran. Kemampuan psikomotorik dan/atau afektif, betapapun hebatnya, tidak atau, dalam pandangan yang lebih positif, kurang dihargai sebagai bagian dari mutu atau keberhasilan.
Bagi sebagian lainnya, keberhasilan dilihat secara lebih menyeluruh. Lebih manusiawi. Yang dinilai sebagai bermutu dan, karena itu, berhasil dalam dunia pendidikan, sekolah, bukan hanya yang berkaitan dengan kemampuan kognitif – dalam berbagai mata pelajaran – tetapi juga dengan kemampuan psikomotorik dan afektif: otak, otot, dan hati sekaligus. Artinya seorang murid dinilai berhasil dan/atau bermutu jika ketiga kemampuan itu baik; syukur kalau sangat baik – dalam berbagai hal syukur; dalam satu atau dua hal saja pun syukur. Akan tetapi, jika tidak bisa hebat dalam ketiga hal itu, seorang murid, dalam pandangan manusiawi itu, dianggap bermutu/berhasil jika kemampuan psikomotorik dan afektifnya bagus; syukur kalau sangat bagus. Jika tidak bisa hebat dalam kedua hal itu, otot dan hati sekaligus, seorang murid masih dinilai bermutu/berhasil jika afeksi/hatinya bagus.

Dengan kata lain, dalam pandangan tersebut, seorang murid yang nilai ujian nasionalnya jelek, bahkan sangat jelek sekalipun, dinilai bermutu/berhasil jika kemampuan psikomotoriknya (sangat) bagus, misalnya, dalam menyanyi atau menari atau bermain bola kaki. Jika kemampuan psikomotoriknya kurang baguspun, dia masih dinilai bermutu/berhasil jika karakternya (sangat) baik. Sebaliknya, walaupun nilai ujian nasional seorang murid (sangat) baik, misalnya, 100 dari rentangan 1-100 atau kemampuan psikomotoriknya juga sempurna, misalnya, dia sangat hebat dalam bertinju, tetapi jika karakternya (sangat) jelek, misalnya, tidak disiplin sama sekali atau terlibat tindak kriminal, dia dinilai gagal. Tidak berhasil.
Lalu, ketika pada tahun ajaran baru ini, seperti pada tahun ajaran lainnya, anak-anak kita di negeri ini berbondong-bondong ke sekolah, keberhasilan seperti apa yang kita harapkan dari mereka setelah, nanti, tinggalkan sekolah? Menjadi sangat cerdas dalam semua mata pelajaran? Ya. Tentu. YA besar.

Namun bukan itu satu-satunya harapan kita sebab tidak semua orang bisa seperti itu. Karena itu harapan kita, sejatinya, lebih sederhana. Cerdas dalam satu atau dua mata pelajaran sajapun cukup. Jika itupun tidak, kita harapkan mereka punya satu atau dua keterampilan yang memungkinkannya hidup dengan baik ke depan. Jika itupun tidak (banyak) dan tidak hebat amat, kita harapkan mereka memiliki karakter yang baik. Hati yang mulia.

Itu, kita yakin, cukup untuk membuatnya berhasil ke depan seperti yang ditunjukkan oleh Suyudi, seorang cleaning service, di Jakarta yang, beberapa tahun lalu, seperti yang diberitakan secara luas di media massa, dengan rela memberikan uang jutaan rupiah yang ditemukannya di tempatnya bekerja kepada petugas untuk mencarikan pemilik uang itu.

Dalam nada harapan seperti itulah, kita berharap para guru kita akan mendidik anak-anak kita secara sungguh-sungguh di sekolah apapun mereka belajar – favorit atau tidak – dan kepada anak-anak kita, anak-anak Indonesia, yang dalam bulan Juli ini kembali ke sekolah, kita ucapkan selamat belajar secara tulus.

Editor: Mus


Berita Terkait

Opini

Belajar dari Paskah

Minggu, 14 April 2019
Opini

Mengatasi Masalah Bangsa

Rabu, 25 September 2019

Komentar