Belajar dari Paskah

Minggu, 14 April 2019 | 15:46 WIB
Share Tweet Share

Feliks Tans

Oleh Feliks Tans
(Dosen FKIP/Pascasarjana, Undana, Kupang)

Pada tanggal 21 April yang akan datang, umat Kristen di seluruh dunia akan merayakan Paskah, hari raya peringatan kebangkitan Yesus dari alam maut. Entah kita, pembaca, percaya bahwa Dia adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia – seperti yang saya imani – atau Dia sebagai nabi dalam sejarah peradaban manusia atau, bahkan, sebagai salah satu penghujat Allah yang layak dihukum mati, Paskah, dengan Yesus sebagai tokoh sentralnya, saya yakin, memberikan kita banyak pelajaran berharga.

Pelajaran itu, saya yakin, berlaku universal. Berterima sepanjang masa. Lintas suku, bahasa, budaya, dan bangsa. Karena itu, jika dipelajari secara benar, pelajaran itu bisa membuat dunia ini, secara umum, dan bangsa Indonesia, secara khusus, jauh lebih baik bagi semua, apapun latar belakangnya. Apa saja pelajaran itu? Banyak. Namun dalam tulisan ini saya menyampaikan empat.

Pertama, Paskah sebagai buah sebuah passion, usaha yang tak kenal lelah dan pantang mundur di tengah berbagai rintangan yang menghadang untuk mencapai tujuan tertentu, memperteguh, antara lain, filosofi nenek moyang kita bahwa keberhasilan hanya bisa digapai melalui kerja keras. Melalui totalitas dan tekad kuat. Melalui keringat yang bercucuran: susah-susah dahulu, senang-senang kemudian. Atau no pain, no gain. Hanya melalui tekad yang membaja dan kerja keras yang “menyakitkan,” barulah kita, siapapun, memperoleh sesuatu. Artinya, tidak ada sukses tanpa keringat. Tanpa kemauan kuat dan tanpa berjuang secara all out.
Yesus memberi contoh soal filosofi ini secara, bahkan, sangat ekstrim: diludahi, ditendang, dicambuk, dimahkotai duri, disuruh memikul salib-Nya sendiri, dan disalibkan. Namun Dia tidak menyerah. Dia maju terus. Pantang mundur. Never quit. Hasilnya adalah kebangkitan-Nya yang, selanjutnya, membuat dunia ini lebih baik. Dengan demikian, jika ingin hidup menjadi lebih baik, harus ada passion seperti itu dalam hidup kita dan, melalui kita, dalam hidup bangsa kita.

Kedua, Paskah, dalam tautan dengan pelajaran pertama di atas, mengajarkan kepada kita bahwa passion itu penting. Bahkan sangat penting. Namun itu dilakukan bukan dengan mengorbankan orang lain, tetapi diri sendiri. Tentang hal ini, Yesus memberi contoh – karena itu Dia diberi gelar sebagai pemimpim eksemplaris – dengan mengorbankan diri-Nya: disalib secara amat keji hingga mati.
Adakah yang lebih agung daripada pengorbanan diri seperti itu? Jelas, tidak. Sebab tidak ada kasih yang lebih agung daripada kasih seorang yang mengorbankan nyawanya bagi orang yang dikasihi-Nya. Dalam tautan dengan dunia, secara umum, dan bangsa Indonesia, secara khusus, kasih seagung itu sangat penting karena yang sering terjadi justru sebaliknya: orang/benda lain dikorbankan untuk, katanya, demi sebuah tujuan yang mulia.

Ketiga, Paskah, dalam tautan dengan passion dan pengorbanan diri – bukan pengorbanan orang lain atau kelompok/suku/agama/golongan lain – mengajarkan pentingnya sebuah cita-cita mulia, baik secara individu maupun sebagai sebuah bangsa, dalam hidup ini. Ini juga tidak bisa dianggap enteng sebab tanpa cita-cita mulia, passion adalah sebuah kemustahilan. Demikian juga pengorbanan diri. Artinya, kita perlu bercita-cita setinggi langit untuk memungkinkan kita punya passion dan berkerelaan untuk mengorbankan diri (baca: bekerja keras hingga berkeringat “darah” sendiri) untuk menggapai cita-cita itu. Jalan pintas haram.

Persolannya adalah apa cita-cita setinggi langit itu. Apakah, misalnya, berkeinginan menjadi presiden? Menjadi orang hebat dengan jabatan besar? Menjadi kaya raya dengan berbagai jet pribadi? Cita-cita seperti itu, tentu, baik, tetapi bukan satu-satunya. Menjadi Seladi saja, sejatinya, sudah cukup. Masih ingat Seladi? Seorang polisi di Polres Malang, Jatim, dan pemulung sekaligus. Daripada melakukan korupsi, dia, dengan tahu dan mau, juga memilih menjadi pemulung untuk memperoleh rejeki tambahan dalam hidupnya. Menjadi Suyudi, juga, tidak apa-apa. Suyudi? Dia cleaning service di salah satu mall besar di Jakarta. Ketika menemukan uang sebanyak 50 juta rupiah di toilet tempatnya bekerja, dia menyerahkan uang itu kepada satuan pengaman mallnya untuk menemukan pemiliknya.

Apa makna semua itu? Maknanya, mestinya, sederhana: bercita-cita menjadi orang semulia Seladi dan Suyudi adalah juga cita-cita setinggi langit. Itu, bahkan, lebih tinggi dan mulia nilainya daripada, misalnya, bercita-cita menjadi seorang insinyur cerdas, tetapi kecerdasannya digunakan untuk mengejar sesuatu, betapapun mulianya, dengan mengorbankan orang lain (misalnya, membuat bom untuk menghancurkan orang/tempat tertentu demi sebuah cita-cita, apapun itu). Dengan kekerasan. Dengan teror. Dengan menumpahkan darah dan air mata.

Keempat, dalam perjalanan-Nya ke Golgota yang penuh sengsara, via dolorosa, itu, kasih Yesus terhadap sesama tetap tulus. Tetap murni. Tetap utuh. Tak berkurang, bahkan, terhadap orang yang menyalibkan-Nya secara amat sadis. Karena kasih itu, Dia mengampuni para penyalib-Nya. Bagi Dia, mereka menyalibkan-Nya karena mereka “tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Dengan demikian, Diapun tidak berniat secuilpun untuk membalas kejahatan mereka, walaupun Dia bisa, kalau Dia mau. Di sini ada pelajaran soal pengampunan. Membalas kejahatan dengan kebaikan. Bukan karena tidak bisa membalas dengan kejahatan, tetapi karena membalas kejahatan dengan kejahatan itu salah. Bahkan salah besar.

Dalam perjalanan bangsa kita, pelajaran soal kasih terhadap “musuh,”, termasuk pengampunan dan pantang balas dendam, tentu, tidak kalah pentingnya. Bangsa ini, dalam sejarahnya sepanjang kurang lebih 74 tahun terakhir, kadang hadir dengan kekerasan terhadap anak kandungnya sendiri. Juga ada kekerasan sosial antarsesama dengan 1001 korban hanya karena berbeda, misalnya, suku, agama, ras, dan golongannya. Dari Paskah, kita, kiranya, belajar untuk tidak hanya melupakan semua itu tetapi juga mengampuni dan tidak membalas dendam. Buah aksi agung seperti itu, sebagaimana diajarkan secara kasat mata oleh Paskah, adalah kebaikan, yaitu kebangkitan yang, dalam konteks Indonesia, berarti lahirnya sebuah bangsa yang lebih beradab: lebih aman, lebih damai, lebih makmur, dan lebih sejahtera.
Jadi, memiliki cita-cita mulia dan berusaha secara total dari hari ke hari untuk menggapainya adalah beberapa hal penting yang dapat kita petik dari kisah keji penyaliban Yesus Kristus yang berujung pada kebangkitan-Nya – Paskah. Juga kita bisa belajar tentang pengorbanan diri dalam berjuang; tentang melupakan, tentang memaafkan, dan tentang membalas kejahatan dengan kebaikan.

Pelajaran tersebut, saya yakin, esensial untuk membuat Indonesia menjadi lebih pas sebagai istana indah kita bersama kini dan esok: sebuah tempat istimewa yang di dalamnya setiap orang, apapun latar belakangnya, punya mimpi besar untuk dirinya sendiri dan orang lain dan bekerja secara sungguh-sungguh, setiap saat, untuk menggapainya. Apapun mimpi itu dan bagaimanapun cara menggapainya, tentu, sah, kecuali ini: tidak boleh merugikan dan/atau pantang membuat sesama jadi korban. Itu, antara lain, pelajaran Paskah yang, mungkin, bisa dipetik untuk membuat hidup kita dan sesama menjadi lebih baik, walaupun pandangan kita tentang Yesus Kristus, mungkin, berbeda.

Selamat Pesta Paskah, Saudara! Sukses selalu Indonesia kita!

 

Editor: Fadli


Berita Terkait

Komentar