Pena 98 Tolak Capres Pelanggar HAM dan Tuan Tanah

Kamis, 14 Maret 2019 | 21:57 WIB
Share Tweet Share

Pena 98 Provinsi Bali saat menyampaikan sikap politik terkait Pilpres 2019. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Jelang hari H pencoblosan Pemilu Presiden (Pilpres) 17 April 2019, Persatuan Nasional Aktivis 1998 (Pena 98) Provinsi Bali mengeluarkan sikap politik. Pena 98 juga menyampaikan arah dukungannya pada suksesi kepemimpinan nasional ini.

Kepada wartawan di Denpasar, Kamis (14/3/2019), Pena 98 menyampaikan tiga (3) poin yang merupakan sikap politiknya. Ketiga poin sikap politik tersebut, sebagaimana dibacakan dua anggota Pena 98 yakni Daniar Tri Sasongko dan Anggie Casela.

Pertama, Pena 98 menolak calon presiden (Capres) pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

"Artinya, pemimpin Indonesia harus bersih dari catatan kelam pelanggaran HAM dan dosa-dosa masa lalu. Sebab keterkaitan dan keterlibatan Capres dalam kasus-kasus pelanggaran HAM berat, akan menjadi contoh buruk bahkan ancaman bagi masa depan demokrasi, negara, dan rakyat," kata Anggie Casela.

Kedua, menolak Capres tuan tanah. Bagi Pena 98, pemimpin Indonesia bukanlah dari segelintir orang yang menguasai lahan untuk kepentingan sendiri, di tengah kemiskinan jutaan orang lainnya di negeri ini.

"Kami yakin, ketika seorang Tuan Tanah dibiarkan menjadi pemimpin di Republik Indonesia, maka ketamakan dan kehausannya akan harta dan kekuasaan akan semakin merajalela," ujar Daniar Tri Sasongko.

Ketiga, Pena 98 menolak kebangkitan Keluarga Cendana. Pena 98 menilai, kontestasi politik pada Pilpres 2019 sejatinya adalah pertarungan politik masa lalu dan masa kini.

Masa lalu, menampilkan orang - orang yang terkait erat dengan Orde Baru dari keturunan Cendana, menantu hingga mantan jongos Cendana. Mereka ingin mengembalikan kejayaan orde baru dengan mengusung jargon-jargon orde baru. 

Sementara masa kini, adalah generasi milenial yang anti Orde Baru, yang menumbangkan Orde Baru dengan segala sistem yang pernah dijalankan oleh Orde Baru. Mulai dari sistem KKN, otoriter hingga menghalalkan segala cara demi kekuasaan.

Cara itu yang kini sedang dipertontonkan oleh calon pengusung jargon Orde Baru melalui kampanye hitam, menebar hoaks, menebar ketakutan, menebar kebohongan data demi data hingga memainkan isu agama dan RAS.

Mencermati berbagai hal tersebut, di bagian akhir pernyataan sikapnya, Pena 98 Provinsi Bali yang dipimpin Presidium Oktaviansyah, juga menegaskan dukungan politik kepada pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin (Jokowi-Amin).

"Kami sepakat, Pena 98 tetap mendukung Capres dan Cawapres 2019 yang bukan bagian dari masa lalu, bukan pelanggar HAM, bukan penebar hoaks, tetapi memiliki komitmen terhadap cita-cita perjuangan kami dalam agenda reformasi 98. Calon pemimpin itu ada pada pasangan nomor urut 01, Jokowi-Amin,” tandas Oktaviansyah, bersama jajaran Pena 98 Provinsi Bali yang hadir.

Reporter: Arzy Wulandari
Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar