Merawat Agama Lewat Logika

Sabtu, 09 Maret 2019 | 20:56 WIB
Share Tweet Share

Kegiatan Doa Bersama di Malam Munajat 212 (foto: istimewa)

"Ritual dan ritual politik dari agama adalah sesuatu yang tetap sah. Validitasnya akan terukur dari adanya efek logika identitas yang makin jelas dan berkurangya logika oposisi subkontraris." 

Oleh Ino Ngari

[INDONESIAKORAN.COM] Menyenangkan Tuhan adalah kesukaan cukup banyak penganut kepercayaan. Terkadang hal itu menjadi sebuah imperatif atau keharusan dalam logika agama. Tetapi coba kita cek secara analitis.

Menyenangkan sama dengan buat enak, baik, benar, indah, menarik dan berguna. Menyenangkan sesama sama dengan membuat hal yang enak, benar, indah, menarik dan berguna bagi sesama. Menyenangkan Tuhan berarti membuat hal yang enak, benar, indah, menarik dan berguna bagi Tuhan.

Mengapa membuat demikian pada Tuhan? Melakukan yang terbalik dari hal-hal di atas dapat merugikan, menjengkelkan, menyedihkan, menyakitkan, menggelisahkan Tuhan. Apakah Tuhan akan terganggu dengan hal yang tidak menyenangkan yang dilakukan manusia?

Jika Tuhan mahasempurna, maka segalanya sudah lengkap di dalam dirinya dan Ia tak membutuhkan hal lain lagi untuk menambah kesempurnaan. Bukankah itu berarti menyenangkan atau tidak menyenangkan Tuhan tidak memengaruhi Tuhan sama sekali? Kenapa kita harus menyenangkan Tuhan atau kenapa kita tak boleh menyakiti Tuhan?

Rupanya hal itu tidak berkaitan dengan diri Tuhan itu sendiri, atau status ontologisnya. Itu lebih berkaitan dengan sikap yang seharusnya di hadapan yang mahasempurna.

Lalu apakah menyenangkan Tuhan itu sikap yang tepat? Mungkin sikap tepat bukanlah menyenangkan. Mengapa?

Kalau kita membedah kata menyenangkan, dalam bahasa biasa yang berarti 'membuat senang'. Sasaran dari membuat senang itu adalah mereka yang harus diLENGKAPi dengan tindakan kita yang positif. Bisa saja mereka diLENGKAPi, kalau kita jadi baik, berguna, menarik, dan indah.

Soalnya apakah TUHAN membutuhkan PERLENGKAPAN itu untuk menjadi dirinya sebagai yang SEMPURNA? Tampaknya tidak. Sebab jika TUHAN membutuhkan, maka kesempurnaan-Nya ditentukan dan dibuat oleh kita. Padahal, kesempurnaan-Nya itu disebut kekal. Artinya ia tak mengenal alfa dan omega, ia tak pakai waktu. Kesempurnaannya itu melampaui segala zaman/waktu.

Hal ini kiranya benar bahwa hidup dan tindakan kita tak menambah dan tidak mengurangi, juga tidak menimbulkan perasaan senang atau jengkel pada Tuhan.

Lalu apakah kita perlu berlaku yang tidak menyenangkan bahkan menghujat-Nya? Mungkin jawabnya dibuat dalam perbandingan ini. Kalau kita bilang EPEN, CUEK, kita sebenarnya sudah terganggu. Orang yang EPEN atau CUEK, pasti tidak sedikit pun menoleh atau memberi perhatian. Namun karena ia mendengar atau melihat, maka ia pun hanya bisa 90% CUEK atau EPEN. Bagi saya, jika berpandangan bahwa TUHAN terpengaruh dengan pujian dan hujatan, jawaban logis ini, TUHAN CUEK atau EPEN 100%.

Maksudnya sederhana, jika motivasi hubungan dengan Tuhan adalah menyogok, dijamin yang disogok seperti tak berada. Jika motivasi hubungan dengan-Nya untuk menyakiti, dijamin yang tersakiti adalah hati kita sendiri. Yang terakhir biasanya jarang dilakukan secara sadar/tahu dan mau.

Di balik ini ada sebuah persuasi yang fundamental: beranjangsana dan hiduplah di hariban Tuhan. Bangunlah suatu hubungan dan suatu komunikasi dengan Tuhan. Biarlah IA memengaruhi hidup ini. Orientasi, fokus dan prioritas adalah pergi untuk atau datang bertemu dengan Yang Ilahi.

Pertanyaannya yang patut diajukan adalah apakah di dalam kegiatan keagamaan, kita menjumpai TUHAN atau tidak? Ini tetap merupakan pertanyaan retoris, yang jawaban tak kuminati, selain mengganggu nurani. Ini urusan privat dan untuk apa kau mau tahu hubungan orang dengan Tuhan? Meskipun saya yakin Tuhan tersenyum bahwa orang berelasi dengan-Nya sambil bertanya dengan emosi pada milik kepunyaan Tuhan.

Kembali ke menjumpai Tuhan di atas. Maksud menjumpai adalah ini: kita tersedot ke dalam sebuah hubungan dengan Tuhan atau tidak? Sengaja digunakan kata tersedot, untuk mengedepankan orientasi, perhatian dan prioritas adalah KETERJALINAN RELASI. Konsekwensinya biasanya terselubung: Jika tidak ada hubungan dengan TUHAN, pasti tidak ada respek terhadap SEMUA ciptaan. Maksudnya relasi yang terjalin melahirkan pengaruh. Saya boleh berspekulasi rohani: hubungan itu membuat pengaruh Yang Ilahi ada di dalam hidup orang. Pengaruh Yang Ilahi membuat orang sanggup untuk mengenal kehadiran Yang Ilahi yang termeterai di dalam SEMUA ciptaan.

Di dalam hukum logika dikenal tiga hal mendasar: hukum identitas, hukum non-kontradiksi, serta hukum tiada jalan tengah. Kata SEMUA di atas itu bersifat identitas. Artinya SEMUA itu artinya SEMUA. Tidak bisa SEMUA dan sekaligus TIDAK SEMUA. Ini kontradiksi. Kemudian, selain SEMUA dan TIDAK SEMUA tidak ada jalan tengah. Maksudku dengan kata SEMUA pada ciptaan adalah ketakterkecualikan semuanya itu.

Melawan kata semua, dalam logika dikenal dengan istilah sebagian. Pertentangan atau oposisi antara yang sebagian adalah pertentangan dengan kuantitas yang sama tetapi berbeda kualitas. Perbedaan kualitas karena yang satu bersifat positif dan yang lain bersifat negatif.

Ini adalah bagian dari hukum subkontraris. Hukumnya sebagai berikut: Misalnya, jika sebagian S benar, maka sebagian O salah. Jika sebagian S salah, maka sebagian O benar. Jika S salah maka O bisa benar, bisa salah. Jika S benar maka O bisa salah, bisa benar.

Dari hukum identitas tentang semua dan perlawanannya dengan kata sebagian, tampak jelas bahwa yang paling masuk akal adalah hukum identitas di atas. MENGHORMATI SEMUA menyiratkan tiadanya perkecualian. Jika kita MENGHORMATI SEBAGIAN, maka kita memperkecualikan yang lain.

Memperkecualikan yang lain dalam ranah oposisi subkontraris di atas, akan tampak bahwa terjadi ketidakpastian epistemologis, di mana orientasi kebenaran menjadi tidak pasti. Bisa saja yang dikecualikan itu yang benar. Bisa saja mengecualikan itu tak punya efek karena ternyata yang sebagian itu juga benar.

Gagasan dasar yang dikedepankan di atas adalah menghormati semua sebagai konsekuensi dari berelasi dengan TUHAN jauh lebih masuk akal daripada mengkotakkan penghormatan atas dasar agama. Soalnya kemudian, bagaimana ciptaaan yang tidak beragama seperti anjing, babi, ontah dan sapi, daun pakis, kelor, putri malu, daun gatal? Apakah kita tidak menghormati mereka?

Jadi jangan pikir bahwa aku bisa menyenangkan Tuhan, tetapi pikirkanlah bahwa aku bisa berelasi akrab dengan Tuhan dalam agama-agama serta mengilahikan semua ciptaan-Nya dalam hormat yang MENYELURUH, BUKAN SEBAGIAN.

Dua soal dalam agama yang kerap bikin tidak logis adalah ritual yang hebat tanpa meningkatkan spiritualitas atau hubungan dengan Tuhan. Yang kedua, ritualitas hebat dengan TUHANnya politik. Keduanya punya substansi yang sama, yaitu absennya TUHAN. Padahal alasan keberadaan agama adalah TUHAN. Mungkin ada signal. Mungkin keduanya sedang online, masalahnya adalah apakah ada komunikasi atau tidak. Atau sebenarnya kita salah? Agama sebenarnya itu smartphone, salah satu fungsinya adalah komunikasi rohani lewat e-spritual.

Kembali ke substansinya, ritual dan ritual politik dari agama adalah sesuatu yang tetap sah. Validitasnya akan terukur dari adanya efek logika identitas yang makin jelas dan berkurangya logika oposisi subkontraris. Artinya, tiga komponen yang tak boleh dikurangi respeknya yaitu TUHAN, SESAMA MANUSIA dan SEGENAP CIPTAAN.*

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Aneh, Ahok Tak Banding Dibilang Jiwa Besar

Selasa, 23 Mei 2017

Komentar